Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 10


__ADS_3

"Kamu nggak papa kan Jen?"


"Nggak papa. Santai aja."


Motor itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Dan kembali ke kosan.


###


Malam itu, Verel kembali dengan tangan hampa. Ia sangat lesu dan malas kembali kerumah. Ia terus menyusun alasan untuk ibunya jika menanyakan masalah mobil yang di bawa Jeni.


Verel tak ingin menambah masalah lagi, dengan berbohong. Ditambah, Jeni kini malah memutuskannya. Hilang sudah sumber uangnya.


"Verel!"


Verel yang masuk kerumah drngan mengendap-endap itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap ibunya yang memanggil.


"Ada apa Bu?"


"Udah ketemu Jeni?"


"Udah."


"Bagus. Terus mana mobil nya?"


Verel menggaruk kepalanya. Ia masih berfikir bagaimana caranya agar ibu nya tak bertanya lagi.


"Itu buk, sebenarnya... Jeni kehilangan mobil itu."


"Apa?" Ibu mendelik tak percaya."apa maksudmu kehilangan?"


"Ya itu, di curi." Ucap Verel ragu.


"Di curi? Bukan di jual sama Jeni kan?"


"Kok ibuk malah nuduh jenin sih?" Tukas Verel tak suka. Walau bagai manapun itu memang milik Jeni, dan dia yang mengaku memiliki mobil kekasihnya.


"Ya, habis mencurigakan aja, abis dia bawa kok malah hilang. Kamu yang bener aja ver. Jangan mau di bodohi Jeni."


"Benran buk. Sumpah. Itu mobil hilang, Verel aja baru anter Jenin ke Polsek buat bikin laporan."


"Yang bener. Benar buk."


"Nanti ibuk mau tanya sama Jeni."


"Jangan buk." Cegah Verel cepat. Bisa gawat jika ibuknya tau itu sungguh mobil Jeni.


"Kenapa? Kamu bohong ya?"


"Nggak buk. Ngapain juga aku bohong. Mobil itu hilang di curi. Tentu saja Jeni pasti merasa bersalah. Aku nggak mau dia tertekan buk. Selama ini Jeni udah sering bantuin Verel. Dan aku nggak mau jika dia jadi berhenti bantuin Verel bahkan minta putus dari Verel gara-gara, sakit hati atau tersinggung ibuk nuduh dia yang bukan-bukan." Jelas Verel berjalan menaiki tangga lantai atas dimana kamarnya berada.


"Aku ngantuk dan capek. Jadi, jangan ganggu aku dulu." Tutupnya.


"Verel, ibuk belum selsai! Verel!"


###


Jeni dan Lia akhirnya pindah ke gedung pusat, setelah beberapa hari lamanya mendapat pemberitahuan bahwa pengajuan mutasi mereka disetujui.


Mereka mengepak barang, dan bersiap untuk pindah ke kota.


"Dengan begini. Kita terbebas dari pacar toxic mu itu."


"Mantan."


Lia tertawa renyah, "benar, mantan."


"Kita berangkat besok kan? Ini kita kirim aja, gimana? Biar nggak berat bawaanya."


"Baiklah. Nanti biar aku telpon pick up." Ucap Jeni sedikit bersemangat.


Tiba-tiba, Jeni teringat dengan V. Ia terdiam sejenak dan berfikir.


Malam itu, Jeni keluar dari kosan. Ia mengeluarkan hp nya dan menghubungi nomor yang V berikan.


Setelah menunggu sesaat, sambungan telponnya di terima.

__ADS_1


("Hallo?")


"Vi, ini aku Jeni."


("Jeni? Akhirnya kamu menghubungiku.")


"Maaf, aku tak bermaksud melupakan janjiku, hanya, aku baru bebas sekarang. Kamu dimana? Apa masih di sebrang? Atau sudah kembali ke kota ini?"


("Aku sudah kembali.")


"Bagus, bagaimana kalau aku mentraktirmu malam ini?"


("Baiklah. Aku juga sedang bebas.")


Setelah membuat janji temu di sebuah resto, Jeni bergegas pergi menggunakan taksi online.


"Maaf, apa aku lama?" Lontarnya begitu sampai didepan pintu resto, dimana Vi sedang menunggunya diatas sebuah motor klasik.


"Nggak. Aku juga baru datang kok." Ucap Vi santai.


Pria itu makin tampan saja dengan kaus putih yang di padukan celana jeans. Tak lupa senyum manis yang menambah kesan diwajah nya. Tentu saja membuat setiap jantung setiap wanita berdetak lebih cepat .


"Aku parkirin motor dulu ya."


"Oke."


Setelah Vi memarkirkan motornya, mereka berjalan beriringan masuk kedalam resto. Dan memesan makanan.


"Maaf ya aku lama banget menepati janji ku."


"Santai saja." Ucap Vi dengan senyuman."Tapi aku memang menunggunya."


Keduanya tersenyum bersamaan. Setelah berbincang cukup lama ditengah makan malam mereka, suara seorang yang sangat Jeni kenal menyapanya.


"Jeni!"


Jeni acuh. Ia sudah tak ingin lagi membuat hubungan dengan pria parasit itu. Siapa lagi jika bukan Verel.


"Jeni!"


"Jeni!"


Verel yang sudah tak sabar menyentuh lengan Jeni menariknya hingga berdiri. Tentu itu membuat Vi dan Jeni terkejut.


"Hei, apa-apaan ini?" Vi langsung berdiri dan sedikit mendorong tubuh Verel.


"Siapa kau? Jangan ikut campur." Hardik Verel dengan mata mendelik.


"Lepasin ver."


"Apa-apaan ini Jeni? Kenapa kamu makan malam sama dia?"


Jeni tertawa kecil menarik paksa tangan nya.


"Kita tak memiliki hubungan apapun. Jangan bertingkah seperti ini."


"Jeni, aku belum memutuskanmu."


"Terserah, yang penting hubungan kita sudah berakhir bagiku." Lontar Jeni sengit,


"Je-ni.."


"O iya, kenalkan, ini Vi pacarku yang baru." Ucap Jeni asal, agar Verel tak lagi mengganggunya. Tentu saja, Vi terkejut, mendengar penuturan Jeni.


Verel memandang Vi menyeluruh.


"Dia tampan bukan? Lebih tampan darimu. Dan tentu saja dia lebih perduli padaku. Dia sangat menyayangi ku. Tidak seperti mu yang menusukku dari belakang dan memanfaatkan ku." Tukas Jeni dengan mata mencemooh,


Jeni berjalan melewati Verel yang membeku, ia menarik lengan Vi.


"Ayo sayang, kita pergi." Ajaknya melangkah cepat-cepat. Namun didepannya ada Yovie, Jeni tertawa kecil tanpa suara.


"Jeni.." Verel tak menyelesaikan kalimatnya melihat Jenin yang berdiri di hadapan Yovie.


"Hai Jen." Sebut Yovie sedikit kikuk.

__ADS_1


"Waah, ternyata kalian juga sedang bersama. Baguslah, awasi dia Yovie, jangan sampai dia mengganggu ku lagi." Lontar Jeni sinis lalu berjalan melewati yovie dan sengaja menyenggol lengannya.


"Aaauuu.." pekik Yovie.


"Jeni! Jeni tunggu!" Verel hendak menyusul namun ditahan oleh Yovie.


"Sayang..."


"Jeni!"


Namun Jeni tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan dari mantan pacarnya itu.


Jeni mengusap wajahnya sembari memelankan langkahnya lalu berhenti di dekat kasir.


"Maaf, aku melibatkan mu, Vi." Ucapnya dengan senyum pahit."Tunggu disini. Aku akan membayar dulu."


"Tidak. Biar aku saja." Tegas Vi sembari berlari kecil ke kasir.


Setelah membayar dan kembali ke tempat Jeni menunggu.


"Aku antar kamu pulang." Ucap Vi lembut, "Aku ingin dengar kenapa kamu menyebutku sebagai pacar baru." Sambung Vi dengan senyuman yang semakin memikat.


Jeni pun menurut, sepanjang perjalanan Jeni menceritakan tentang Verel dan bagaimana mereka akhirnya putus.


"Bagus kalau kamu putus darinya. Dia itu brengsek. Coba saja aku tau ceritamu lebih awal, aku pasti kasih dia bogem mentah."


"Hahahaha, jangan seperti itu. Itu tidak baik Vi." Ucap Jeni dengan tawa yang tak sampai ke matanya."Di depan itu berhenti."


Motor Vi berhenti tepat di depan kosan Lia dan Jeni.


"Jadi kamu tinggal disini?" Vi memindai bangunan di samping nya.


"Iya, cuma sampai malam ini."


"Kok gitu?" Alis Vi saling bertautan.


"Besok aku akan pindah ke kota M. Aku dan temanku di mutasi ke gedung pusat. Jadi kami pindah kesana."


"Aahh, begitu." Vi manggut-manggut.


"Ini..." Jeni menyodorkan beberapa lembar uang pada Vi


"Apa ini?"


"Uang."


"Uang apa?"


"Aku tidak jadi mentraktirmu malam ini, dan mungkin kita tak akan bertemu lagi, jadi.."


Vi tersenyum dan menampik uang itu.


"Mari kita bertaruh, kalau nanti kita bertemu lagi, kamu traktir aku dua kali makan malam."


"Viiii....." Lirih Jeni memohon.


"Setuju?"


"Viii..."


"Setuju?"


Jeni tersenyum kecil. "Kamu yang akan rugi."


"Setuju?"


"Setuju."


"Bagus." Vi tersenyum dengan sangat lebar.


"Baiklah salamat malam." Pamit Vi cepat mencuri cium di pipi Jeni. Tentu saja membuat netra Jenin melebar. Dan langsung mengengas motornya.


"Vi!" Pekik Jeni.


"Balasan karena sudah mengaku-ngaku pacarku." Seru Vi sambil melambaikan tangan nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2