
"Terima kasih V."
Vi mengulas senyumnya. Dia lalu berdiri dan menyematkan cincin itu di jari manis Lia.
"Aku yang berterima kasih." ucap V mencium kening Lia
Lia menunduk kan kepalanya, melihat cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Lia tersenyum pahit. Tangannya bergerak menyentuh cincin itu, dan perlahan melepaskannya.
Lia menatap wajah Vi dengan sendu. Mengambil tangan V dan menengadahkan nya. Lia meletakkan cincin itu di sana.
"Maaf,, aku tak bisa. Vi."
Mata Vi bergerak meminta penjelasan dan mencari kejujuran di wajah cantik Lia.
"Maaf, aku tak bisa." ucap Lia menatap mata Vi, sebagai penegas bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kenapa?"
Lia menggulum bibir nya, menarik nafas dalam dan menghembuskan nya.
"Aku tidak sungguh-sungguh menyukaimu." jelas Lia memikirkan banyak rangkaian kata di kepalanya."Aku tidak sungguh-sungguh menyukai mu, kamu orang yang baik. Karena itu aku memanfaatkan mu untuk menyokong kebutuhanku. Dan kamu memang melakukan banyak hal untukku. Terima kasih, tapi aku tidak ingin memanfaatkan mu lebih jauh lagi."
V tersenyum getir.
"Apa ini karena ibu?"
Lia menyugar rambutnya ke belakang dan melempar wajah nya ke samping. Lalu kembali menatap wajah V.
"Benar, seharusnya kamu tau. Ibuku, iyaa.. Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Harusnya kamu bisa membacanya aku hanya memanfaatkan mu dari sikap ibuku. Ibuku mata duwitan, tentu saja aku yang anak nya ini juga sama."
"Apa kamu sedang mencoba menipuku agar aku menjauh?"
Lia menelan ludah nya kasar. "Iya, aku memang ingin kamu menjauh. Aku bertemu dengan pria yang lebih kaya, dan baik yang bisa ku manfaatkan lebih. Lagi pula aku juga sudah bosan dengan mu.
Dan kamu malah melamarku. Maaf, Aku sudah cukup dengan mu. Jangan jadi pria bodoh yang tetap mengejar meski sudah tau hanya di manfaatkan."
Lia mendorong tubuh V menjauh, berbalik dengan menegakkan kepalanya. Berjalan menuruni tangga, Lia memasang wajah angkuh dan dingin nya, menutupi semua kesedihan dan lara di hati. Air mata? Ia sudah tak punya lagi untuk di teteskan. Semua nya telah kering sejak bertahun-tahun yang lalu.
Vi menyusul dan menarik lengan Lia.
"Kau hanya bersandiwara, benarkan kan? Kamu hanya bersandiwara." Vi menatap Lia dengan penuh harap, semua yang Lia katakan hanyalah kebohongan agar dirinya menjauh.
__ADS_1
"Iya, aku sudah bersandiwara sejak awal dan ingin mengakhiri ini. Kamu baik. Carilah wanita yang baik juga."
"Kamu masih perduli padaku."
"Kamu salah, aku tidak perduli sama sekali padamu. kamu tau? Ibu ku menjual motorku pada pria bodoh yang membelinya dengan harga yang cukup tinggi."
Lia terus mempertahan wajah dingin itu. Menatap mata V agar pria itu yakin jika dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Sedangkan V, masih mencari-cari sisa kejujuran dan cinta di mata Lia. Walau ada keterkejutan di wajah tampannya, saat Lia menyebut motor yang telah di belinya. Mungkinkah Lia tau? Ataukah dia sengaja membiarkan ibunya menjual motor itu pada Fajar?
Perlahan genggaman tangan V terlepas. Tak mau menyiakan nya, Lia bergegas pergi. Menyisakan V yang berdiri lesu menatap punggung rapuhnya.
###
"Mbak? Ada apa? kok malah nangis?"
Pak ojek yang Lia tumpangi menuju kosan mendengar suara isakan dari jog belakang.
"Nggak papa pak, jalan aja."
Lia menghapus air matanya. Kenapa ia bisa menangis juga? bukankah seharusnya air mata itu sudah lama hilang? lalu air dari mana ini?
Masih terbayang wajah kecewa V dan getaran suara lelaki baik itu. Dada Lia semakin nyeri, memukul dada nya agar rontok semua nyeri dan beban di sana.
"Pak, boleh muter sekali lagi? Nanti saya kasih Doble."
"Boleh mbak."
Di atas motor, Lia terisak pak ojek juga sepertinya tak ingin bertanya lebih. Walau terlihat sangat tak nyaman karena tangisan Lia.
Setelah puas menangis dalam perjalanan dan sudah satu putaran. Kang ojek berhenti tepat di depan gerbang kosan Lia.
"Makasih ya pak. ini lebihnya, buat bapak aja."
"Makasih ya Mbak."
Kang ojek itu pun pergi. Lia menghela nafas berat. Kini dia sudah tak memiliki seorang yang akan memperhatikan dan membersamai nya lagi. Lia telah membuang jauh lelaki yang sangat baik itu, karena ia tak ingin V ikut terseret oleh arus keluarganya yang mata duitan. Terutama ibunya.
Kini Lia bahkan tak berfikir untuk menikah. Biar saja dia menjadi perawan tua, untuk pengabdiannya pada sang ibu yang sudah membesarkan dan merawatnya selama ini. Hal yang tak akan pernah bisa dia bayar meski dengan uang ratusan juta.
Sesampai nya di kamar kos nya, sang ibu terlihat sangat tak suka.
__ADS_1
"Mana pacar kamu itu? Nggak berani datang kemari temui ibuk?"
Lia tak menjawab, rasanya sudah sangat lelah untuk harus bertengkar dan meladeni ibunya.
"Kamu kenapa pulang sampai jam segini, pasti main dulu kan sama pacar kamu itu?"
"Buk, Lia capek. Lia mau tidur."
Tanpa membersihkan dirinya lagi, Lia langsung merebahkan diri di kasur kamar nya dan memejamkan matanya. Tanpa ia perduli lagi dengan ibunya yang terus mengoceh tak jelas. Menanyakan kenapa dia pulang terlambat dan serangkaian pertanyaan lainnya tentang V
Lia sudah sangat lelah. Lelah dengan hidup nya, lelah dengan hatinya, lelah dengan ibunya, dan semua.
Lia hanya ingin sendiri. Tenggelam dalam dunianya yang tak seorangpun bisa mengganggunya.
Keesokan paginya, Lia bekerja seperti biasa. Rasa hambar Lia rasakan, tak seperti biasa, saat dulu V datang dan memberinya senyum termanis dan tertampan yang pernah ada.
Lia sudah mengambil keputusan. Ia tak ingin lagi membuka hati dan menyakiti orang yang dia sayangi dengan sikap dan perilaku ibunya yang meremehkan dan terus menggoroti uangnya. Lia tak memiliki apapun sekarang, dulu ataupun yang akan datang.
Ia kan hidup untuk ibunya, hingga nanti dia mati.
Lia baru saja turun dari motor ojek dan membayar. Sang ibu sudah terlihat berdiri di depan pintu kamar kosan. Dengan tas di samping nya. Entah kenapa Lia merasa lega, ibunya pulang ke kampung.
"Ibuk?"
"Lia, bapakmu sakit."
"Apa?" wajah Lia langsung berubah saat mendengar bapaknya sakit. Ia merasa cemas dan Khawatir. Uang yang dia punya hanya tinggal sedikit dan entah bagaimana cara dia nanti membiayai ayah nya.
"Kita pulang Lia."
"Iya buk, sebentar, biar Lia berkemas dulu."
"Nggak usah Lia, udah ibuk kemasin semua barang-barang kamu." cegah sang ibuk menahan Lia agar tak masuk ke dalam kamar kos nya.
"Kalau gitu biar Lia ganti baju dulu." Lia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia terkejut, kamarnya kosong melompong. Lia menoleh menatap ibunya yang terlihat sangat gugup dan cemas.
"Barang-barang kamu sudah ibuk jual nak."
Wajah Lia menjadi pias.
"Ayo, sekarang kita berangkat, kasihan bapak sedang sakit menunggu kita."
__ADS_1
bersambung....