Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 62


__ADS_3

"COPEETT!!"


Yongki terkejut dengan Lia yang tiba-tiba berteriak hingga orang yang lewat melihat ke arah mereka.


"Lepasiinnn!" Lia melotot galak."Atau aku teriakin copet lagi!"


"Kamu...."


"COPETT!!"


"Mana copetnya?"


Beberapa orang pejalan kaki mulai mendekat, Yongki melihat sekeliling dengan was-was, lalu melepaskan cengkraman nya dan berlari pergi.


"Udah pak. Nggak jadi kok." ucap Lia bernafas lega.


Lia kembali melanjutkan langkah nya lagi kembali ke kosan.


Sampai di kosan ia merebahkan diri kasur kamarnya. Mengingat lagi kenangannya bersama Yongki. Pria pertama yang membawakan cinta untuknya. Pria yang menemani hari-hari nya selama tinggal di perantauan.


Hingga ia menemukan kenyataan bahwa dia bukan satu-satunya yang pria itu panggil sayang. Yongki masih memiliki sayang dua, tiga dan lainnya lagi yang Lia tak tau sampai berapa. Perhatian dan sikap Yongki membuat Lia merasa istimewa dan satu-satunya, tak pernah terpikir olehnya dia hanyalah satu dari deretan wanita yang Yongki kencani.


Hingga kini ia sulit membuka hati lagi. Meski sudah ada beberapa yang mendekat, tapi ia hanya menganggap teman. Seperti V. Pria baik yang hampir setiap hari dia temui. Tentu saja karena masalah hutang. Vi sampai menyempatkan diri datang ke kosan nya.


Lia tersenyum getir, ia tak ingin lagi jatuh ke lobang yang sama. Mencintai pria yang justru hanya menjadikannya koleksi. Patut di buang memang, namun tak lantas membuatnya cukup tegar hingga dapat membuka hati yang sudah lelah untuk mencintai lagi.


Keesokan hari nya, Lia ke pasar membeli beberapa sayuran untuk di masak. Di tengah jalan menuju parkiran motornya, Lia melihat seorang nenek renta di pinggir jalan, sepertinya hendak menyeberang. Menunggu jalanan sepi sudah pasti tak mungkin.


Lia mendekat dan mensejajari nenek itu. "Bareng nek."


Si nenek menganggu, Lia mencari celah dengan menuntun tubuh si nenek dan sebelah tangan nya merentang memberi aba-aba pada pengendara untuk memelankan laju kendaraan.


"Makasih nak, nenek kesulitan mau nyebrang." ucap nenek itu begitu sampai di sebrang,


"Iya nek, sama-sama saya juga pas mau nyebrang." jawab Lia, "duluan ya nek."


Lia melambaikan tangannya setelah pamit pada sang nenek.


"Iya, hati-hati ya nak."

__ADS_1


Di sisi lain jalan itu, mama Susy tersenyum di depan kabin mobilnya.


"Aku akan cari kesempatan buat menemui mu." gumamnya.


Lia menarik tuas gas motornya, pelan dan stabil. Melewati jalan yang cukup padat di pagi itu. Lia melihat warung soto dan mampir sebentar karena rasa lapar sudah membuat tangan tremor.


Lia memilih duduk di sudut yang dekat dengan jalan raya, hanya berbatasan dengan kaca, Hingga dia bisa melihat lalu-lalang kendaraan sambil makan.


Warung soto itu menggunakan konsep lesehan, hingga Lia bisa menselonjorkan kakinya setelah melepas sendalnya.


"Haaa.... nyamanya, setelah jalan cukup lama di pasar, enak juga bisa selonjoran kek gini." Gumam Lia menyenderkan punggung nya di penyekat yang terbuat dari triplek setinggi satu meter itu.


"Boleh saya duduk di sini?" tanya mama susy saat Lia sedang menunggu pesanannya datang. Lia mengangguk. Mama Susy duduk di depan Lia.


"Warung soto ini ramai banget, sampai nggak ada yang kosong. Makasih ya."


"Nggak papa buk. Saya juga sendiri kok." jawab Lia ramah.


Dari sana tercipta obrolan antara Lia dan mama Susy, hingga sarapan mereka selesai. Mama Susi memang memperkenalkan diri sebagai mana diri nya, namun tak menyebutkan bahwa dia adalah mama nya V.


"Gadis itu, aku suka. Lain kali aku akan mengajaknya makan lagi." kekeh mama Susy setelah kembali ke kediamannya.


Lia baru berberes kamarnya saat pintu itu di ketuk. Lia membuka pintu kamarnya. Ia terkejut melihat siapa yang datang.


"Kamu ngapain lagi ke sini?"


"Kamu kenapa sih neriakin aku copet segala?" ucap Yongki dengan wajah kesal.


"Karena kamu nggak mau pergi. Dan aku bakal teriakin kamu maling kalau masih tetap berada di sini." ancam Lia yang sudah sangat lelah dengan pria di hadapannya itu.


"Lia, aku bermaksud baik. Aku ingin ngajakin kamu balikan."


"Aku nya nggak mau."


"Kenapa?"


"Kenapa? masih nanya?" Lia mencoba sabar, namun tak bisa, Yongki benar-benar pria tak tau malu yang sangat memuakkan."Kenapa kamu tiba-tiba mau kembali padaku?"


"Karena aku masih cinta sama kamu Lia , aku sangat menyesal setelah putus dari kamu. Aku merasa kosong, merasa nggak berharga sama sekali. Hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku merasa hidup. Ayolah Lia, kita balikan. oke?" pinta Yongki memohon.

__ADS_1


"Bagaimana dengan sayang-sayang mu yang lain? Aku tidak suka berbagi, aku cuma mau jadi satu-satunya sayang mu." ucap Lia hanya menguji, tak ada niat dalam hati nya untuk kembali.


"Apa kamu mau aku putus dari mereka?"


"Terserah bagaimana kamu menyimpulkannya. Aku malas dengan pria yang tidak setia." Lia memalingkan wajahnya dengan tangan yang di lipat di dada.


"Okey, aku sanggup. Aku akan meninggalkan mereka untuk mu. Jadi kita baikan kan?" Yongki meraih kedua tangan Lia dan menggenggam nya memohon.


Ada getar di dadanya, namun itu bukan cinta. Rasa itu telah hilang sejak lama. Namun, melihat kesungguhan Yongki sepertinya tidak ada salahnya Lia mencoba. Tapi,


"Baiklah." jawab Lia akhirnya Melihat keseluruhan Yongki ada sedikit rasa curiga, namun tak bisa dia ungkapkan.


"Makasih Lia..." Yongki terlihat sangat gembira, memeluk tubuh Lia dengan sangat antusias.


'Kita lihat saja apa kah dia sungguhan atau hanya main-main, aku ikuti dulu permainannya.' pikir Lia saat itu.


Tanpa Lia dan Yongki sadari, di ujung tempat kos itu, V tengah bersembunyi dengan dua kantong kresek di tangannya. Dia menyenderkan tubuhnya ke tembok yang menyembunyikan dirinya dari pandangan. Dengan pandangan mata kecewa.


Vi berjalan menyusuri bangunan kos Lia. Kembali ke tempat dia memarkirkan motor klasik kesayangannya. Membawa lagi kantong plastik berisi dua bungkus nasi dan es teh.


V menghela nafasnya. Menatap bangunan itu menyeluruh. Seolah akan meninggalkan tempat yang akan sangat dia rindui dengan mata berkaca.


"Kenapa aku harus bersedih. Ini pernah terjadi, dan tak seharusnya aku merasa sekacau ini." gumam V menstater motornya dan meninggalkan halaman kosan Lia.


Sepanjang perjalanan hanya V hanya melihat lurus dengan pikiran yang entah berada di mana. Tepat di lampu merah perempatan jalan. V berhenti. Melihat pada beberapa badut jalanan dan seorang anak yang sedang menjajakan dagangannya.


"Tisu, mineral, camilan." kata si anak penjual asongan dengan suara yang sedikit keras agar di dengar oleh calon pembeli.


V yang masih menunggu lampu merah berganti hijau memanggilnya dengan lbaian tangan. Dengan penuh semangat bocah itu mendatangi V.


"Mau beli apa Mas?"


"Enggak beli, kamu udah makan belum? Mas ada es teh sama nasi, mau nggak?" tawar V sambil menyodorkan plastik berisi kedua jenis yang dia sebutkan itu.


"Mau" jawab si bocah dengan wajah berbinar menerima kantong dari V


"Makasih ya Mas." Sambung bocah itu.


"Heemmm..."

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2