Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 65


__ADS_3

Keesokan paginya, Lia berdiri di depan gerbang kosnya, menunggu seseorang yang Jeni kirimkan untuk menjemputnya. Setelah sepagi tadi, Jeni repot-repot menelponnya untuk memastikan Lia menunggu dan jangan naik ojek.


Demi menghargai teman yang sudah sangat baik padanya itu. Lia menurut, menanti dengan sabar hingga sebuah motor klasik berhenti di depan Lia berdiri.


"Vi?"


"Lama ya nunggu nya?" tanya Vi mengambil satu helm yang sudah dia siapkan.


Lia menggeleng,


"Ayo naik." titah Vi setelah memasangkan helm di kepala Lia.


"Ooww.. Terima kasih." sahut Lia membonceng."Aku nggak menyangka kalau Jeni bakal kirim kamu."


Vi hanya membalasnya dengan senyuman.


Flash back dikit:


Vi malam itu sedang asik menimang keponakannya. Suga sedang dinas hingga Vi memilih menemani ponakannya bersama mama Susy, namun nyonya besar itu sedang ada acara dengan teman sosialita nya.


"Bagaimana perkembangan hubungan kalian?"


Vi menoleh ke arah Jeni yang datang dengan setumpuk kue di piring. Wanita yang pernah ia sukai itu, duduk di samping V.


"Hubungan apa?" Tanya Vi sok tak mengerti dan kembali memandang wajah tampan Gani.


"Ck! Aku akan tanya Lia kalau begitu."


"Tidak usah! Kami baik-baik saja. Masih berteman."


"Hmmm... Okey, kalau kamu masih nggak mau terbuka sama aku, V." Jeni manggut-manggut, "Tapi, tadi aku jalan-jalan dengan Lia, terus motor nya di tinggal di Relay, kamu tau kan hujan."


Terus?" sambung Vi tanpa mengalihkan pandangannya di wajah Gani, dan terus mencium gemas si gembul.


"Jadi, aku butuh seseorang yang sangat longgar untuk besok mengantar Lia ke kantor."


Vi tak menjawab meski Jeni sudah mengkode. Masih sibuk dengan aktifitas nya menganggu Gani.


"Yaahh, kalau kamu nggak bisa sih, aku bisa minta tolong orang lain. Mana tau mereka nanti jadi dekat dan...."


"Aku kan nggak bilang nggak bisa." potong V tanpa melihat Jeni. "Main mutusin aja deh."


Jeni menahan diri agar Tak tersenyum.

__ADS_1


"Berarti kamu mau nih?"


"Heemm...."


****


Dalam perjalanan tidak ada percakapan sama sekali antara Lia dan V. Hanya hening. Hingga mereka sampai di depan gerbang gedung Relay.grub.


"Makasih ya Vi." Lia menyerahkan helm yang baru saja dia lepaskan.


"Heemmm..."


"Naik travel dari mana?" Vi menyimpan helm Lia.


"Dari kos."


Vi hanya manggut-manggut, mengambil sebuah kantong yang tergantung di stang motornya.


"Nih!" menyerahkan kantong itu pada Lia.


"Apa ini?"


"Buat di makan di jalan."


"Oohh, camilan ya. Makasih ya Vi."


"Oke." Lia membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan jempol.


***


Hari berlalu, siang pun menjelang, di depan kos an Nya, Lia berdiri dengan dua buah Tas travel masing-masing di sisi kiri dan kanannya, menunggu mobil travel menjemputnya. Tak kurang dari lima menit, mobil itu sudah berhenti tepat di depan dia berdiri. Setelah memasukkan semua barang yang Lia bawa. MObil itu bergerak menuju kampung halaman Lia.


Selama di dalam perjalanan Lia berbalas pesan dengan Jeni dan V bergantian. Mengabarkan jika dia sudah dalam perjalanan. Tak lupa memberi kabar orang di rumah.


Waktu yang di tempuh Lia untuk sampai ke kampung halamannya, sekitar delapan jam perjalanan via travel dengan kecepatan rata-rata dan lancar tanpa kemacetan jalan.


Sepanjang perjalanan, Lia hanya menikmati pemandangan sambil ngemil camilan dari V tadi.


Jam 9 malam, Lia baru sampai di rumah. Rumah yang sudah di pasangi tenda dan tampak beberapa orang yang sibuk melakukan entah apa. Aktifitas mereka sempat terhenti melihat ada mobil berhenti.


"Eehh, itu mbak Lia sudah datang." seru seorang bocah melihat Lia baru saja keluar dari mobil travel di jalan depan rumahnya.


Ibuk dan bapak Lia, serta adik-adik dan kakaknya mendekat. Membantu Lia membawa barang-barang nya. Tentu setelah sempat memeluk anak gadis yang baru pulang dari perantauan.

__ADS_1


"Mbak Lia, oleh-oleh kami di tas yang mana?" tanya Farah adik bungsu Lia memandang dua travel bag di depannya.


Lia menyenderkan punggungnya di sofa tamu yang sudah berpindah di teras. Sementara ruang tamu sudah di sulap menjadi tempat pentataan nasi, lauk pauk dan lain sejenisnya.


"Di kamar aja buka nya Rah, Jangan di sini, ada banyak orang dan tetangga." ucap Lia lirih.


"Biarin aja kenapa sih? di dalam juga sudah sumpek banget. Susah ini nanti bawanya ke dalam. Mending di kurangin di sini." tukas ibunya Lia. Sementara Farah dan satu Adek lelakinya sudah sibuk membuka tas Lia.


"Tapi Lia nggak bawa banyak oleh-oleh buk, nanti kalau di lihat tetangga nggak enak kalau nggak kebagian."


"Tapi duwit nya bawa kan?"


Lia memejamkan matanya sebentar, mengganti udara di paru-paru nya. Rasanya, setiap kali bicara, ibunya itu selalu membahas tentang uang.


"Iya buk, tapi nggak banyak. kan kemari habis kirim juga."


"Nggak banyak itu berapa? Lima puluh juta? Atau 40 juta?" ibu Lia mendekati Farah yang sedang membongkar satu travel bag yang paling besar. Berisi banyak makanan ringan yang bisa di bagi dengan tetangga.


Lia tersenyum kecil. Rasanya lelah sekali, melalui perjalanan yang tidak sebentar. Sampai rumah malah di interogasi masalah uang.


"Baju pesanan Lek Kusni ada Li?"


"Ada di tas yang satunya." jawab Lia beranjak dari duduknya.


" yang ini?" tanya ibuk menyentuh satu travel bag berwarna hitam yang lebih kecil ukurannya.


Lia berjongkok di depan tas berwarna hitam itu, lalu membuka resletingnya. Tas terbuka lebar, tumpukan baju-baju yang masih berbungkus plastik ada di sana. Lia mengambil satu tas yang juga dia simpan disana berisi baju-baju miliknya.


"Itu semuanya oleh-oleh, Ibuk aja yang atur. Lia capek banget mau istirahat dulu sebentar di kamar." pamit Lia beranjak dan hendak melangkah, melihat pandangan mata sang ibu tertuju pada tas gendong yang la bawa.


"Ini isinya cuma baju-baju Lia buk."


"Lah, uang nya kamu taroh di mana?"


Lia menghela nafas sabar nya. Uang lagi, uang lagi!


"Nanti Lia kasih. Lia mau istirahat."


"Ya sudah, sana istirahat, nanti jangan lupa bantu-bantu ya."


"Lia, pesananku ada nggak Lia?" tanya Lik Kusni yang baru muncul dari arah dapur dengan wajah yang sangat cerah.


"Di sana Lik. Cari aja udah Lia kasih nama punya Lik, Lia mau istirahat sebentar." pamit Lia sembari berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Makasih ya Lia."


Suara riuh dari ibuk, saudara dan Lik Kusni meramaikan teras. Mereka membongkar semua oleh-oleh yang Lia bawa dengan sangat heboh. Lia yang sudah sangat lelah itu memilih langsung tidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Kamar nya pun terlihat sangat berantakan karena di jadikan gudang sementara selama hajatan kakaknya berlangsung. Lia tak terlalu ambil pusing. Saat ini yang dia inginkan hanyalah tidur.


__ADS_2