Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 59


__ADS_3

"Lia!"


Lia menoleh, Vi datang dengan berlarian mendekat.


"Apa kamu sibuk nanti malam?"


"Ada apa?"


"Bolehkan aku meminta bantuan mu?" Vi mensejajari langkah Lia.


"Katakan dulu apa, baru aku memutuskan."


"Sebenarnya ibuku meminta ku untuk bertemu dengan anak gadis temannya." ucap Vi mulai menjelaskan. lia pun masih menyimak."Aku malas sebenarnya, tapi akan sangat tidak sopan jika aku tidak datang."


"Lalu? Apa kamu bermaksud membawa ku?"


"Apa kamu keberatan?"


Lia tertawa geli,"Bukankah itu lebih tidak sopan."


"Aku tau, tapi aku sangat malas di jodohkan."


"Hmm...."


"Aku sendiri yang akan memilih wanita yang menjadi pendamping ku nanti."tegas V. "Jadi, apa kamu mau membantuku?"


"Hanya menemaniku saja dan berpura-pura menjadi pacarku. Nanti aku yang urus sisanya."


"kenapa kamu tidak jujur saja, rasanya akan sangat kejam jika kamu lakukan itu."jawab Lia. "Dia wanita aku juga wanita, aku tau rasanya saat orang yang mungkin kita harapkan justru muncul dengan wanita lain saat bertemu...."


"Aaahh, baiklah ayo kita pacaran sungguhan saja. Jadi aku tidak membohonginya humm?"


"Meski begitu, aku tetap tidak akan lakukan. Aku menghormati perasaannya. Maaf V, aku tak bisa membantu untuk hal itu." tolak Lia dengan halus.


"Jadi kamu tidak masalah.... maksudku, menurutmu tidak masalah aku menemuinya? Sementara aku menyukai gadis lain?"


"Akan lebih baik jika kamu jujur dari pada harus bertindak seperti itu."


"Bagaimana jika gadis itu keras kepala dan mendekat meski aku jujur?"


"Kamu sudah melihat nya? Kamu sudah bertemu dengannya? Apa kamu sudah cukup mengenal nya hingga bisa membuat kesimpulan seperti itu?"


V terdiam dengan berondongan dari Lia.


"Tidak." jawabnya lirih.


"Kalau begitu cobalah menemui nya. Kamu juga tidak tau apakah dia gadis yang baik atau tidak."


V termangu dalam diam nya, ia tau satu hal dari sepanjang percakapan ini. Lia tidak memiliki perasaan khusus padanya. Buktinya gadis itu terus mendesaknya untuk datang dan melihat bagaimana ke depan. Sementara V merasa enggan.

__ADS_1


"V, aku pernah di posisi ini. Saat aku berharap pada seseorang, dia justru mematahkan hatiku dengan hadir bersama wanita lain. Tidak masalah jika tidak suka, tapi jangan memberi harapan lalu mempermalukan. Apa kamu mengerti maksudku?" ucap Lia dengan pandangan mata yang dalam.


"Aku mengerti. Akan aku katakan padanya dengan jujur. Juga pada ibuku."


Dalam perjalanan V banyak berpikir. Tentang semua yang Lia ucapkan, Vi menyadari banyak hal, mungkin selama ini ia sudah salah. Tidak pernah memikirkan perasaan wanita yang pernah dekat padanya. Dari Lia ia membuka matanya.


"Maaf, apa aku membuatmu menunggu lama?"


gadis yang sedang duduk berwajah imut itu merona melihat V mendekat dengan senyuman yang pasti membuat semua wanita meleleh.


"Ti-tidak."


"Apa kamu sudah memesan sesuatu?" V duduk di hadapan Gadis itu.


"Belum."


"Kalau begitu kita makan." ucap V melihat berkeliling mencari waiters.


"Mbak!"


Waiter datang mendekat.


"Kamu mau makan apa?" V berganti menatap gadis yang duduk di depannya.


"Sama dengan mu saja." jawab gadis itu malu-malu.


Vi kembali melihat gadis cantik yang memandangnya terus tanpa berkedip. V tersenyum kecil.


"Namamu..."


"Alisa."


"Aiya benar, aku tidak mendengarnya dengan baik waktu mamy menunjukan fotomu."


"Aahh, begitu."


"Maaf."


"Tidak apa, aku orang yang pemaaf, lagi pula ini pertama kalinya kita bertemu, di pertemukan berikutnya jangan sampai lupa. Aku...."


Gadis bernama Alisa itu terus berceloteh yang entah apa, V sama sekali tidak tertarik. Ia sudah mencoba seperti yang Lia sarankan. Nyatanya ia tidak tergugah sama sekali. Tubuhnya ada di sana namun, pikirannya entah ada di mana?


Seusai makan malam V mengantar Alisa pulang.


"Terima kasih V, lain kali, mari kita makan malam lagi." ucap Alisa melepas sabuk pengaman nya dan mendorong pintu di samping dia duduk.


"Alisa."


"Humm?" Alisa menoleh, menghentikan gerakan tangannya membuka pintu lebih lebar untuk keluar dari kendaraan V.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak ingin ada lain kali."


wajah Alisa berubah."Maksudmu?"


"Alisa, aku senang berteman dengan mu. Dan itu hanya berteman. Aku tidak ingin hal yang lebih. Mama kita mengatur pertemuan ini untuk membuat kita menjadi pasangan. Saat ini aku tidak ingin memiliki pasangan."


Raut kecewa terlihat jelas di wajah Alisa. Namun gadis itu berusaha menyembunyikannya.


"Baiklah. Aku mengerti. Sampai jumpa."


"Selamat tinggal."


Vi memandang Alisa yang berlalu ke dalam rumahnya. V masih terdiam menyenderkan punggung dan memejamkan matanya.


"Apa yang dia lakukan sekarang?" gumamnya membuka mata."Sudah terlalu malam untuk kesana."


Vi memacu mobil nya dan berhenti di depan kosan Lia. Memandang bangunan berwarna cerah itu.


"Kenapa aku mlaah kesini?" gumam V.


Vi hanya memandang bangunan itu tanpa keluar dari dalam mobilnya. Malam semakin larut, Lalu lalang semakin berkurang, berganti dengan kesunyian. Dan V masih disana, masih menatap bangunan berwarna cerah itu. Tanpa beranjak sedikitpun dari sana.


Selama semalaman Vi tertidur dan baru bangun saat cahaya mentari menelusup masuk menembus kaca dan menerpa wajahnya.


Vi mengerjab, melihat menyesuaikan cahaya dan mengumpulkan kesadaran nya terbangun dimana dia kini. Vi menoleh ke sana ke mari. Barulah ia ingat tengah berada di depan kosan Lia sampai tertidur disana semalaman.


Vi tertawa sendiri menyadari kekonyolan tingkahnya. Tubuhnya terasa sangat pegal karena tertidur dalam keadaan duduk. Vi merenggang kan tubuhnya, lalu menstater kendaraannya. Melihat Lia baru saja keluar dari gerbang kos untuk bekerja dengan mengendarai sepeda motornya.


V kembali ke mansion utama milik mama Susy. Mengayunkan kaki memasuki pintu utama. Namun langkah nya terhenti, mengingat hal semalam ia yakin tak akan lolos begitu saja dari mama Susy.


V sedang enggan berdebat, ia memutar langkahnya dan berjalan memasuki rumah mewah itu dari samping. Melangkah mengendap agar tak ketahuan oleh mama Susi.


"Apa yang sudah kamu lakukan sampai pulang harus lewat pintu samping dan berjalan mengendap-endap Vi?"


Suara mama Susy mengagetkan anak bungsunya. Hingga membuat bulu kuduk V meremang.


"UUmmm... tidak ada. Aku hanya pulang pagi, dan tidak mau membuat mamy cemas. Hahaha." elak V dengan menggaruk bekalang kepalanya dan tertawa bersalah yang memohon untuk di maafkan.


"Oohh..."


'Sepertinya, Alisa tidak mengadu pada mama, hingga dia bisa setenang ini.' pikir V


"Kalau begitu, siang ini kamu harus menemani mama makan siang dengan salah satu teman mama."


"Oke tidak masalah." jawab V acuh sembari berjalan ke kamarnya.


"Pasti mama berniat menjodohkan aku lagi dengan salah satu anak temannya. Baiklah, aku harus menyusun rencana."


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2