Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 7


__ADS_3

"Apa?" Geram Suga,


"Aku sudah menunggu selama ini tapi dia malah membatalkan makan malamnya. Apa kau sedang membercandaiku?" Suga yang kesal itu berdiri dan mencengkram kerah leher Kenzo.


"Tuan Suga, kenapa anda marah padaku?"


"Aku tidak marah padamu."


"Tapi anda mencengkram kerah leher ku tuan. Asisten anda yang tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua."


Suga berdecak kesal melepaskan cengkeramannya dan membuang muka dengan kesal.


"Nona Jeni baru saja datang."


"Mana? Mana?" Suga celingukan mencari sosok yang Kenzo sebut,


"UPS, sepertinya saya salah mengenali."


Suga menggeretakkan gigi melirik asistennya yang terkekeh kecil menahan tawa dengan tangan terkepal di depan mulutnya.


"Itu.... Sungguh wanita itu tuan."


"Mencoba menipuku Haahh??" Suga mendelik mengepalkan tangannya di muka Kenzo.


"Sungguh, lihatlah." Kenzo menunjuk dengan jari ke arah belakang Suga.


"Kalau kau membohongiku, habis kau." Suga membalikkan tubuhnya, dengan dada yang berdebar kuat. Aneh memang, tak biasanya dia seperti ini. Hanya melihat wanita yang pernah menghabiskan satu malam dengannya bisa membuat seorang Suga tak karuan.


Di kejauhan, Suga melihat Jeni dengan jaket berwarna abu-abu dan celana Jeans-nya. Rambut Cepol dan kacamata yang hampir menutupi hidungnya.


"Hei, kenapa penampilannya begitu menggemaskan?"


Kenzo tersenyum tipis, ini pertama kali nya ia mendengar tuannya itu menyebut seorang wanita berpenampilan menggemaskan.


"Maksudku menggelikan, menggelikan. bukan menggemaskan." Suga mendelik pada Kenzo yang ketahuan tersenyum meledeknya.


"saya tidak mengatakan apapun, tuan."


"Tapi wajahmu itu..."

__ADS_1


"wajah saya kenapa?"


"huuh.." Suga membuang mukanya yang kini justru menguatkan perasaannya yang malu. Terlihat memerah, namun berusaha ditutupi.


Jika melihat penampilan Jeni dari sudut pandang Kenzo, dan mungkin orang-orang yang melihatnya, lebih ke gadis cupu yang gampang dibodohi. Ditambah bintik-bintik jerawat diwajahnya yang sedikit kusam. Tentu beberapa orang pengagum kulit bening akan hilang selera makannya.


"EHEM! Panggil dia kemari."


"Baik." Kenzo menunduk patuh melaksanakan titah Tuan nya.


______


Jeni sedang menyantap makan malamnya, ia beru saja memotong daging di piringnya dan siap memasukkan nya kedalam mulut, namun terhenti oleh kehadiran Kenzo yang menyapanya.


"Waahh,, pria tampan itu datang lagi, Jeni." Seru Nay kegirangan, ia merapikan rambut dan pakaiannya, lalu mengumbar senyum manis."Dia belum menyerah."


Jeni tak acuh, pergerakan tangannya sempat terhenti oleh ocehan dan tangan Nay kembali hendak menyuapkan lagi kemulutnya.


"Selamat malam nona Jeni."


Jeni urung lagi memakan dagingnya. Ia meletakkan benda itu ke piring lalu menoleh pada pria utusan Suga.


Kenzo tersenyum manis. "Ikutlah dengan saya."


"Tidak mau."


"Hey Jeni, siapa dia? Tampan sekali." Salah seorang rekan Jeni yang duduk disebrang gadis itu duduk.


"Apa kamu sudah putus dengan pacarmu itu?" Timpal temannya yang lain.


"Dia tampan dan sepertinya dia orang kaya."


"Ambil saja, jangan dilepas. Lepaskan pacarmu yang tidak berguna itu. Dan pacari dia saja."


"Benar, siapa lagi yang mau dengan wanita berjerawat sepertimu."ledek rekan Jeni yang duduk didepannya.


"Benar, kusam juga."


"Dekil, ha-ha,"

__ADS_1


"Ka-li-an!! Tidak bisakah berhenti bodyshaming padaku?" Dengus Jeni melotot tak terima. Walau ia tau teman-temannya itu tak sungguh-sungguh. Mereka cukup tau perjalanan cinta Jeni yang hanya dimanfaatkan oleh Verrel.


"Ha-ha-ha....."


"Benar , mengingatkanku pada novel yang sering kamu baca itu, apa judulnya?"


"Dicerai karena Dekil. Aku sering ngintip pas dia baca." Timpal Nay yang duduk di samping Jeni.


"Bagus nggak novelnya?"


"Bagus dong, kan author nya Danie A." Sahut Jeni mantap hendak menyuap yang tadi sempat tertunda. (Eh, othornya narsis dikit 😁 nggak papa ya?)


"Sudah, ikuti saja pria tampan ini, mana tau kamu semujur Embun yang dapatin Malvin." Goda Nay menaik turunkan alisnya.


"Tidak Sudi. Aku mau makan."tolak Jeni mengambil sendok dan garpunya.


"Tuan muda, apa kau mau mengajaknya makan malam?" Tanya salah satu rekan kerja Jeni pada Kenzo.


"Tentu saja," Kenzo menjawab dengan anggukan ramah dan senyum yang tampan.


"Kalau begitu bawalah dia, kalau sudah jadi pacarnya rawat dia dengan baik agar cantik."


"Ka-li-an.. apa-apaan ini?" Protes Jeni yang dipaksa berdiri dan didorong kearah Kenzo.


Dan mau tak mau, Jeni mengikuti Kenzo juga. Ia berjalan didepan Kenzo sesekali ia menoleh pada pria tampan berbadan tinggi dan tegap yang berjalan dibelakangnya. (Kalau gini bukan ngikutin namanya ya kan guys?)


"Disini nona Jeni."


Jeni menoleh karena sepertinya ia salah arah, " huuhh, kenapa tidak membiarkanku berjalan dibelakangmu?"


"Saya tidak mau anda kabur."


"Huuh, kalau begitu, biarkan aku berjalan di sampingmu."


"Saya tidak mau tuan saya marah."


Jeni memutar matanya malas. "Suka-suka mu sajalah."


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2