
Mobil SUV berhenti tepat di halaman rumah papa Roman. Jeni dan Suga keluar dari sana, melangkah masuk dari pintu depan. Sambutan hangat dari mama Diana dan papa Roman mereka dapat kan. Juga Adrian memeluk Kaka satu-satunya.
"Kak, aku kangen banget." Adrian melepas pelukan keduanya.
"Kaka juga."
"Sering-seringlah kemari. Atau, paling tidak sekali-kali jemput aku sekolah."
"Baiklah." senyum Jeni menyetujui sembari melirik Suga suaminya.
"Cepat masuk dan makan malam." titah papa Roman berjalan mendahului dibelakang nya menyusul mama Diana.
Dimeja makan.
"Mama sudah membersihkan kamar mu."
"Terima kasih ma, mama tak perlu melakukan semua itu. Jeni bisa melakukan semua itu sendiri nanti."
"Mama yakin. kamu pasti capek setelah pulang kerja." ucap mama Diana dengan senyuman."Apa lagi nanti papa masih mau bahas beberapa hal pada kalian."
Jeni dan Suga sama-sama mengangkat sebelah alisnya. Mereka berdua berpandangan lalu berganti menatap sang papa yang duduk di kepala meja makan.
"Nanti saja kita bicarakan setelah makan malam usai." ucap papa Roman, "Makan malam lah dengan tenang."
.
.
"Ke ruang kerja ku" ucap papa Roman menunjuk dengan kepalanya seusai makan malam.
"baik."
Suga dan Jeni membuntuti, papa Roman berbalik memandang keduanya.
"Kau ke ruang santai temani mama mu."Pak Roman menunjuk Jeni," Papa cuma mau bicara dengan menantu papa."
"Aa,, oke."
Jeni berjalan ke ruang santai. Sedangkan Suga melanjutkan langkah mengikuti papa Roman.
"Apa yang ingin papa bicarakan dengan ku?" Suga duduk di sofa begitu memasuki ruang kerja pak Roman.
"apa Vicky itu benar adik mu?"
"Benar, kenapa tiba-tiba membicarakan nya?" Suga menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kalian punya kompetisi mengejar gadis yang sama?"
Suga tertawa kikuk.
"Dia hampir menggantikan mu menikahi putri ku dan aku tau Jeni dan dia punya hubungan sebelumnya. Tapi aku tidak tau kalian bersaudara."
"Apa kalian tinggal bersama?" papa Roman bertanya lagi."Tidak baik jika kau dan Jeni juga Vicky tinggal bersama. Apalagi adikmu itu memiliki perasaan spesial pada Jeni. Kau mengerti maksudku kan?"
"Kami tinggal di mansion ku. Jarak ke mansion utama lebih dari lima kilometer. Dan, Vi juga tidak tinggal disana."
"Benarkah?" papa Roman terlihat ragu. "Baguslah jika begitu."
__ADS_1
"Dan masalah Jeni, aku harap kalian menunda dulu untuk punya anak. Dia masih te...."
"UHUK!"
Mata elang papa Roman menatap tajam pada Suga yang tiba-tiba tersedak itu.
"Atau jangan-jangan kalian sudah punya?"
"Aaa, itu...."
###
Di ruang santai, Jeni berulang kali mengusap hidungnya. ia merasa cukup terganggu dengan aroma pengharum ruangan di sana.
'Kalau aku tetap di sini, aku pasti akan muntah, dan mama pasti akan curiga jika aku hamil. Tapi jika aku tetap memaksa bertahan di sini, entah berapa lama aku akan sanggup.' batin Jeni menahan gejolak di perutnya.
'Tapi, mama terus ngoceh dari tadi. Maaf ma, aku benar-benar tersiksa. Aku akaan beralasan ngantuk saja.'
"Ma, maaf, aku mengantuk." pamit Jeni dengan memasang tampang mengantuk dan menguap.
"Baiklah nak, kamu tidurlah dulu dan istirahat."
Jeni beranjak dari duduknya, namun rasa di perutnya terus membuat mual. Hingga ia mengeluarkan suara muntah, tapi tak sampai keluar apapun.
"Huueekk..."
"Jeni?"
Mama Diana mendekat "Kamu kenapa?"
"S-sepertinya masuk angin ma."
Jeni menoleh ke arah papa nya, berikut dengan Diana.
"Berapa bulan kamu hamil Jani?"
Jeni melirik pada Suga yang berdiri di belakang pak Roman.
"Hamil?" mama Diana tampak tak mengerti,
"Iya benar! anakmu ini sudah hamil."
"Kenapa papa marah?" tanya Jeni dengan sedikit segan.
"Benar sayang, Jeni sudah menikah, wajar jika dia hamil kan?"
papa roman terus menatap Jeni dengan pandangan mengintimidasi.
"Papa tidak marah, papa hanya bertanya."
"ummm.... itu.. aku..." Jeni melirik lagi pada Suga.
"Papa sudah tau." ucap Suga mengerti arti tatapan Jeni padanya."Usia kandungannya tiga bulan."
"Aku tidak bertanya padamu."tukas papa tanpa menoleh pada Suga.
"Jawaban dari Jeni tetap sama papa."
__ADS_1
"Janin siapa itu?" papa Roman menatap sengit pada Suga.
"Itu, milikku."
Bug!
satu pukulan mengenai wajah tampan Suga.
"Papa!" pekik Jeni dan mama Diana bersamaan.
Jeni berlari mendekati suaminya dan menyentuh wajah Suga yang terkena pukulan Roman. Merasa sangat bersalah pada suami dan papanya.
"Aku tidak pernah mendidik mu menjadi wanita murahan jeni! Berhubungan dengan pria di luar nikah!" wajah marah papa Roman terlihat sangat jelas. Dari mimik mukanya terlihat sangat kecewa.
"Apa kau tinggal di luar lalu bebas melakukan semua itu?"lanjut papa roman masih tampak sangat kecewa.
"Begitu? Sudah berapa banyak pria yang kau tiduri? Verrel! Apa kau juga tidur dengannya?"suara papa Roman semakin meninggi.
"Pa!" pekik Jeni tak percaya dengan tuduhan dari papanya sendiri."Aku tidak pernah tidur dengan pria selain dia. Itu pun aku lakukan hanya sekali karena...."
"Ooh, bagus! Jadi kau mengakui jika kalian berhubungan hah? Begini papa mendidik mu?"
"Maaf, itu salah ku." ungkap Suga. Jeni menoleh menatap Suga dengan pandangan yang entah.
"Apa?"
Jeni berganti memandang papanya dan menggeleng kuat. "tidak! Aku yang sudah merayunya."
"JENI"
"Aku yang merayu nya, aku yang memaksanya untuk tidur dengan ku. Aku sangat putus asa saat itu. aku mabuk. Maaf kan aku pa. maafkan aku pa, maafkan aku sudah mengecewakanmu. Maaf."
papa Roman menggeramm keras.
"Kami memang sudah berhubungan papa. Tapi kami lalu bersama sekarang kami sudah menikah. apa masalahnya? anak ini memiliki ayah dan ibu, dan papa memiliki cucu. Tidak masalah bagaimana awalnya, itu hanya masalalu, dan kami memperbaiki nya."
"Kau!"Papa Roman menggeram pada Suga.
"Semua nya sudah terjadi, anda kecewa, kami minta maaf. Papa, ini anakku, dan aku mencintai mereka. Lantas, setelah papa tau dan kecewa. Apa papa hendak memisahkan kami? Tidak kan?" Sambung Suga lagi.
Papa Roman memijit pelipisnya, ia tiba-tiba merasa sangat lemas dan terduduk di sofa.
"Maaf kan Jeni pa." tangis Jeni yang melihat papa nya kecewa sekali.
"Maafkan Jeni. Maafkan aku pa."
Mama Diana mendekat pada sang suami.
"Benar pa, ini sudah terlanjur terjadi. Dan bukankah mereka juga sudah menikah? Apa yang papa permasalahkan. Tidak ada orang yang sempurna pa." ucap mama Diana mengelus lengan suaminya.
"Maafkan mereka, lagi pula ini juga terjadi karena papa sudah mengusir Jeni. Papa juga termasuk andil dalam kesalahan itu. Lihat ke depan pa, mereka sudah memperbaikinya."
papa roman tampak sedang mengontrol emosinya. Mama diana lalu menatap anak dan menantunya.
"Kalian ke kamar lah lebih dahulu."
Suga mengangguk. Lalu melangkah bersamaan dengan Jeni ke kamar mereka.
__ADS_1
"Maaf."
"Kita melakukannya bersama-sama. Karena itu dia ada." Suga menyentuh perut Jeni dengan senyuman."Ayo istirahat."