Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 17 • Sidang kelurga •


__ADS_3

Di sebuah mansion yang megah dan mewah, dalam ruang utama yang sangat luas dengan sofa-sofa yang berjajar dan tersusun rapi. Susy duduk dengan memijit pelipisnya. Ia masih merasa pusing oleh sikap dan kelakuan Suga. Sementara di sisi yang lain, Suga sudah duduk dengan sangat santai.


Sementara Jeni, ia yang di jemput oleh utusan Mama Susy, baru saja melangkah masuk ke ruang utama. Ia tak begitu terkejut dengan adanya Suga disana. Saat tadi utusan Mama Susy datang menjemputnya, untuk bertemu dengan keluarga Suga. Ia pun tau ini semua pastilah tentang insiden cicak itu.


"Manager Jeni sudah datang nyonya."


"Duduklah." Titah mama Susy, menunjuk dengan kepalanya.


Jeni duduk di sofa yang Susy tunjuk.


"Kamu tau kenapa aku memanggil mu?"


Jeni mengangguk.


"Apa hubunganmu dengannya?" Tanya mama Susy dengan pandangan dan suara yang mengintimidasi.


"Saya.... Hanya pekerja di Relay."


"Aku tau.. aku tau... Aku dah tau dari asisten Arya. Kamu seorang manager engineering. Aku juga tau dari keluarga mana kamu berasal. Semuanya aku sudah tau. Yang aku ingin tau adalah... Apa hubunganmu dengan Suga, anakku..."


"Ti-tidak ada hubungan apa-apa. Saya hanya karyawan yang bekerja di perusahaan relay." Jelas Jeni dengan gugup, ia sudah sangat takut jika nanti nya dia di intimidasi, dipecat dari pekerjaannya. Dengan skandal nya saat ini, pastilah akan sangat sulit diterima kerja di manapun. Dan Ayahnya sudah pasti ia akan habis di bunuh.


Susy terlihat sangat mencoba bersabar, menghela nafas perlahan.


"Jadi kamu mau bilang kamu tak punya hubungan apapun dengan Suga selain hubungan atasan dan karyawan?"


"Benar." Jeni mengangguk cepat.


"Baiklah, lalu kenapa dia...." Susy menunjuk Suga anaknya yang hanya diam tidak peduli."kenapa dia sampai memasukkan tangannya kesana?"


Jeni memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri sejenak.


"Itu... Dia... Mengambil cicak?"


"Apa?" Susy terlihat sangat terkejut."Kau mau bilang seorang mysopobia seperti nya sampai rela mengambil cicak?"


"My-myso..." Jeni semakin bingung,'ah, sudahlah, jelaskan saja keadaan yang sebenarnya bukan aku yang salah, tapi dia yang sudah melecehkan ku.'


"Sa-saya tidak tau, ada cicak yang tiba-tiba jatuh disana. Saya menjerit, saya sangat merasa jijik. Lalu... Tiba-tiba, tuan Suga memasukkan tangannya disana..." Tutur Jeni dengan mimik wajah yang terlihat frustasi ingin menolak, saat menceritakan nya.

__ADS_1


Mata Suga mendelik mendengar penuturan Jeni yang kelewat jujur.


"Tangannya merayap kemana-mana, saya bahkan tidak tau apa ia memang sedang mencari cicak atau hanya modus menyentuh sana sini...."


"Heeeyyyyy!!" Suga memekik kesal tak terima. "Kenapa kau sembarangan menuduhku modus?"


"Itulah kenyataaannya. Nyonya, saya mengatakan yang sebenarnya, tangannya memang kesana-kemari sampai cicak itu berhasil tuan Suga ambil dan menginjaknya, sampai terkemet."


Mulut mama Susy membulat sempurna, menatap sinis sang anak. Lalu berganti menatap Jeni dengan mata yang mengintimidasi.


"Apa kamu mau aku percaya..?"


Mata dan wajah Jeni terlihat sangat gugup dan gelisah.


"Sungguh nyonya, saya tidak menggodanya, tuan Suga sendiri yang sudah melecehkan saya...."


"Hei! Aku tidak melecehkan mu, aku membantumu mengambil cicak. Seharusnya kau berterima kasih padamu, jika bukan karena aku, cicak itu sudah bergentayangan di tubuhmu!"


Jeni bergidig geli. "Jangan mengingatkanku, itu membuatku ngeri."


Jeni memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menggeleng kuat.


"Apa?" Jeni mendongak tak percaya menatap mama Susy.


"Iya, kau pergilah, aku akan memanggilmu lagi nanti."


.


.


Jeni keluar dari mansion dengan mobil yang tadi menjemputnya, membawa gadis malang itu kembali ke kantor relay grup. Sementara di ruang utama mansion yang besar itu.


"Kau mau kemana Suga?" Mama Susy melirik sinis pada anak pertamanya yang mengendap hendak kabur.


"Hahaha, karena urusan sepertinya udah selesai, jadi ku mau lanjut bekerja mencari uang, mama." Jelas Suga dengan senyum terpaksa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ha-ha-ha... Siapa yang bilang urusan sudah selesai?" Mama Susy tampak menahan kekesalan.


"Sekarang, juga, pergi ke kediaman Direktur Roman."

__ADS_1


"Apa? Kenapa harus dengan pak tua itu?"


Itu karena kau sudah melecehkan anak nya Di depan umum! Kau Harus bertanggung jawab! Dasar anak sialan!" Mama Susy sudah saking emosinya Sampai segala barang ia lemparkan Pada Suga.


"Iya! Iya! Iya ma, aku akan langsung kesana!" Seru Suga kewalahan menghindari lemparan dari mama nya.


"Diam kamu disitu! Jika sampai yang kali ini nggak kena, kubuat kau jadi gembel!" Geram mama Susy hendak melemparkan vas keramik kearah anaknya.


"Sabar! Sabar! Nyonya, jika anda lemparkan itu, akan membuat anda semakin susah." Ucap kepala pelayan Jaehe dan Arya sekretaris nya yang menahan emosi Susy. Jaehe sampai mengambil vas keramik dari tangan Susy. Dan menggantinya dengan bantal sofa.


"Pegangin dia."


Asisten Arya dan Jaehe bergegas memegangi tubuh Suga yang sedari tadi berhasil menghindar.


"Tunggu, tunggu! Ini tidak adil." Pekik Suga yang udah dipegangi tubuhnya oleh kedua asisten mamanya.


"Tuan muda, buatlah ini mudah dan cepat!"


Susy yang sudah sangat kesal itu melempar kan bantal sofa bertubi-tubi ke tubuh anaknya.


"Kalau kau tidak berhasil membujuk ayahnya. Mati saja kau!"


.


.


Suga merapikan setelan dan rambutnya, setelah mendapatkan amukan dari sang Mama. Ia bergegas mendatangi kediaman Roman ayah Jeni sekaligus orang yang pernah bersitegang dengannya dulu.


"Kenzo!"


Kenzo menunduk dibelakang.


"Kau sudah membawa semua sesajen dan hadiah buat calon mertua?"


"Sudah tuan. Juga 10 persen saham Relay."


"Sialan!" Gumam Suga dengan wajah di tekuk-tekuk karena malas berurusan lagi dengan Roman, walau ia sempat berfikir akan melamar Jeni, namun tidak secepat ini dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan nya."Semoga pak tua itu tidak mempersulit."


Bersambung....

__ADS_1


Wah, kira-kira Suga bakal berhasil nggak ya?


__ADS_2