
"Berikan Jasnya."
Kenzo menyerahkan jas yang dia bawa sedari tadi. Sementara Suga melepas jas yang ia pakai. Lalu berganti dengan yang tadi Jeni berikan.
"Cuci bersih. Dan Carikan aku sepatu." titahnya melempar jas yang dia lepas.
"Baik."
.
.
Jeni merasa lega, setelah ia keluar dari gedung tempatnya bekerja. Dia berjalan dengan malas di depan halte. Lia sudah pulang lebih dulu karena Jeni terpaksa lembur. Pekerjaannya masih belum selesai saat Lia mengajaknya pulang.
Jeni duduk di bangku halte berwarna hijau itu. Masih terbayang tangan Suga yang menelusup masuk ke dadanya.
"Aaahhhh.... Apa yang dia pikirkan? Bagaimana bisa dia lakukan itu di depan umum?" Teriak Jeni frustasi mengacak rambutnya sendiri. Ia juga menendang udara saking kesal nya."Ini adalah pelecehan! harusnya aku memukulnya. kenapa tadi aku malah membeku?"
Tin!
Jeni melihat kedepan, sebuah motor klasik berhenti di sana. Si pengendara membuka helm fullface nya. Vi nyengir menatap Jeni dengan rambut yang berantakan itu.
"Butuh tumpangan?"
"Apa sekarang sudah jadi opang kamu?"
"Naik!"
Jeni menurut, melangkah menaiki motor V.
"Pegangan yang benar. Nanti jatuh."
"Biar saja, aku ingin jatuh dan mati."
"Baiklah, akan aku cari truk tronton agar kamu terlindas."
"Vi!" Jeni menepuk punggung pria yang tergelak di depannya.
"Makanya pegangan." Serunya tiba-tiba mengegas motornya hingga Jeni sontak memeluk tubuh V.
"Begini baru benar."
"Iiishh...." Jeni mencubit perut V. Ia menarik tangannya. Akan tetapi tangan V lebih cepat menahan lengan Jeni, untuk tetap memeluk perutnya.
###
Jeni menatap ribuan bintang di langit malam itu. Ia tiduran diatas tikar yang dibentangkan diatas atap kosannya bersama Lia.
"Siapa lagi V?" Tanya Lia begitu mendengar curhatan dari sahabatnya Jeni malam itu."sejak kamu putus dari Verel, banyak pria yang mendekatimu. Lihat kan? Aku pernah bilang padamu, banyak pria yang menginginkanmu..."
Jeni terkekeh geli.
"Siapa yang kau bilang banyak?"
__ADS_1
"Yaahhh... Itu, pertama Tuan Suga, lalu sekarang V. Lihat, ini saja kamu belum glow up. Masih proses perawatan, kulit mu sudah sedikit cerah, dan tinggal singkirkan jerawat dan flek hitam. Setelahnya pasti lebih banyak lagi yang mengantri..."
"Haaahh.... Lia... Setelah penghianatan Verel, aku jadi tidak percaya diri."
Lia mencubit lengan Jeni gemas.
"Jangan begitu. Kamu cantik juga pintar dan tangguh, yahh, walau sebenarnya sedikit polos, terlalu polos malah, sampai di tipu berkali-kali oleh seorang penipu pun, tetap saja tertipu."
Jeni mengerucutkan mulutnya menatap sebal dan sedih pada sahabatnya itu.
"Kamu jahat sekali. Mulutmu lebih tajam dari pada silet."
Lia tergelak puas. Ia merangkul tubuh sahabatnya dan memeluk.
"Jangan hukum diri mu atas kelakuan Verel yang nggak berakhlak itu. Pandanglah kedepan, ada banyak lelaki yang tulus dan kaya. Dia akan mencintaimu dengan seluruh hidup nya."
Jeni balas memeluk Lia, merasa bersyukur memiliki teman yang selalu ada dalam keadaan apapun.
"Aku tidak menghukum Li, hanya, lebih berhati-hati dan lebih selektif. Aku tak mau di sakiti dan di manfaatkan lagi." Tutup Jeni dengan senyum diwajahnya.
"Iya, aku tau." Lia mengusap kepala Jeni."Hei, sudah, nanti kita dikira lesbong."
"Ah, benar." Setuju Jeni menjauhkan tubuhnya dari sang sahabat.
###
Di bawah langit yang sama Vi memandang bintang itu, dari tempat yang berbeda. Terlukis wajah Jeni disana. V tersenyum kecut.
Teringat lagi, saat tadi ia membawa Jeni melihat pasar malam. Bermain lempar gelang sampai menaiki bianglala. Kencan yang sangat menyenangkan. Melihat senyum Jeni yang semula terlihat sangat berantakan.
Flash back.
Jeni yang terlihat sangat gembira, duduk bersisian dengan Vi. Memakan hottang nya. Vi gemas melihat pinggiran bibir Jeni yang belepotan oleh saus dan mayones. Ia mengangkat tangannya membersihkan sekitar bibir wanita di sampingnya dengan jari tangan.
Jeni menoleh, membeku menatap Vi yang masih sibuk mengusap hingga saus yang belepotan itu tak ada lagi.
"Sudah bersih." Vi tersenyum dengan sangat tampan membuat setiap mata wanita yang melihatnya berdetak kencang.
"Sebenarnya, aku bisa membersihkannya sendiri... Kamu tak perlu..." Jeni jadi merasa canggung dan tak enak hati dengan perlakuan manis Vi.
"Kamu sangat menggemaskan seperti anak kecil, makan belepotan." Kekeh Vi
Jeni tak merespon, ia sudah cukup canggung dengan situasi sekarang. Vi masih menatapnya, wajahnya mendekat dan mencium cepat pipi Jeni. Mata Jeni melebar, ia menoleh pada Vi yang terlihat tersenyum lebar.
"Jangan lakukan lagi." Ucap Jeni akhirnya memberi pandangan tak suka, "Aku membiarkanmu mencium pipi waktu itu bukan berarti kamu boleh melakukannya lagi."
Jeni menunduk, ada rasa tak terima V mengulang lagi, mencium pipinya.
"Aku memang tidak cantik, aku tau itu...."
Vi menggeleng, wajah yang semula terlihat sangat gembira dan selalu tersenyum itu berubah.
"Aku tau aku jelek, tapi, bukan berarti aku tidak keberatan di perlakukan seperti ini." Tutur Jeni dengan raut wajah sendu. Ia jadi teringat lagi dengan kelakuan Suga saat di kantor tadi siang."Kita pulang saja."
__ADS_1
Jeni berdiri dan berjalan lebih dulu.
"Maaf, sungguh, aku tak bermaksud begitu. Maafkan aku." Kata V dengan penuh penyesalan menahan lengan Jeni..
"Maaf Jeni, aku sungguh menyesal. Ini tak akan terulang lagi. Aku janji." Vi mengangkat kedua jarinya."maaf...."
.
.
Vi memejamkan matanya. Lalu ia menatap langit lagi.
"Kenapa aku terlalu bersemangat? Semoga saja dia tidak membenciku." Gumam Vi, "Disaat aku mulai jatuh cinta lagi, kenapa malah melakukan kesalahan yang menyinggungnya?"
.
.
Flashback lagi:
"Kenapa diam saja? Kamu marah sekali padaku? Pukul saja aku. Aku akan menerimanya." Ucap V dengan pandangan memohon, menarik tangan Jeni dan memaparkan ke pipinya sendiri.
Tentu itu cukup membuat Jeni merasa kasihan dan sedih. Ia hanya kesal, hari ini bosnya sembarangan memasukkan tangan di area terlarang, di depan umum lagi. Dan kini malah ada laki-laki lain lagi yang mencium pipi. Itu membuat Jeni merasa sangat buruk.
"Maaf V, aku hanya... Mengalami hal yang menyebalkan hari ini. Semua ini membuatku merasa sangat gampang dan... Kau tau... Aku merasa sangat buruk, sebelumnya ada pria yang bertingkah sangat menyebalkan. Maaf aku melampiaskannya padamu.
Ayo kita pulang saja." Ajak Jeni dengan senyum kecil.
.
.
Kembali ke masa kini.
"Siapa pria yang sudah membuatnya merasa buruk?" Gumam V lagi.
_______
Pagi itu Jeni dan Lia berjalan memasuki gedung kantor. Mereka mendapatkan tatapan dari orang-orang banyak. Tentu saja mereka merasa sangat heran.
"Ada yang tidak kena rasanya Jen." Lirih Lia pada Jeni.
"Haaahh,, biarkan saja."
Mereka lalu duduk di meja masing-masing, membuka komputer dan terkejut forum pekerja sudah sangat ramai, Lia mengklik nya dan matanya melebar sempurna.
Foto-foto adegan tangan Suga yang masuk kedalam baju Jeni tersebar luas dan bahkan menjadi headline news. Tentu saja itu menjadi sangat ramai, apalagi dengan status Suga, seorang CEO yang sangat berpengaruh, perfeksionis dan tentu saja memiliki sikap yang arogan.
Susy mama Suga memijit pelipisnya yang terasa sangat pening dengan skandal yang anak pertamanya buat.
"Anakku... Anakku... Bagaimana dia bisa seceroboh ini..." Gumamnya mengeluh lemas sambil memijit kepalanya yang terus berdenyut pening.
"Suga! Panggil Suga dan gadis itu kemari!" Titahnya mutlak dengan emosi.
__ADS_1
bersambung....