
Yovie sebenarnya merasa sangat kesal, tapi mau bagaimana lagi. Ia butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang. Jadi, mau tak mau Yovie menerima tawaran untuk menjadi asisten perencanaan dan persiapan.
Saat ia bertemu dengan Jeni di toilet Yovie makin kesal, hingga dia memilih memanas-manasi Jeni saja. Jika Sugalah yang menyampaikan langsung jika dia diterima. Walau reaksi Jeni terlihat tak perduli.
"Sekarang aku harus mencari cara agar bisa mendekat pada Suga." gumam Yovie begitu selesai membereskan ruang metting.
Tanpa sengaja dia melihat Suga dan Kenzo sedang berjalan bersama. Kedua nya seperti membicarakan hal serius. Yovie ingin mendekat, namun melihat Adanya Kenzo membuat Yovie sedikit malas.
"Sudahlah. Nanti juga ada kesempatan lagi. saat ini mundur dulu." gumam Yovie menyusun strategi.
.
.
.
Jeni masih duduk di pinggiran kolam menatap lama pada kumpulan ikan Oren di sana.
"Apaan? minta cium, udah di cium malah ingkar. Katanya nanti. Nanti apaan?" gerutu Jeni melempar pakan ikan ke kolam dengan jengkel.
"Hei!"
Jeni menoleh, melihat Liana menghampirinya.
"Ngapain di sini? Sendirian lagi."
"Kita nggak berteman lagi." ketus Jeni ngambek karena tadi Liana pun bersikap menyebalkan.
"Eh, kamu ngambek?"
Jeni membuang muka.
"Hahaha.... Yee.... bumil ngambek." ledek Liana mencolek pipi Jeni. "Nih, biar nggak ngambek lagi."
Liana menyodorkan sebuah plastik tepat di muka Jeni.
"Apaan nih?"
"Buka lah"
Liana duduk di samping Jeni memandang sahabatnya itu membuka plastik yang tadi dia berikan.
"Es krim?"
"Mau nggak?"
"Oke deh, karena siang ini panas, jadi aku terima saja." gumam Jeni sembari membuka bungkus Cone es krim itu.
"Tumben kamu bawa es krim?"
"Ooh, itu dari orang." jawab Liana enteng.
"Orang? Siapa?" Jeni tampak sangat penasaran mengernyit heran.
"Ada deh, tiba-tiba tadi dikasih aja."
"Kamu sudah punya penggemar baru nih."
Liana mengumbar senyuman.
Flash back dikit
Lia baru saja selesai makan siang dengan beberapa rekan tim nya. Saat mereka baru saja keluar dari resto tempat ia makan. Lia di kejutkan oleh kehadiran pria tampan yang tersenyum kecil padanya.
__ADS_1
Lia hanya membalas senyum kecil. Dan memilih kembali berlalu dan ngobrol dengan tim nya yang lain. Sampai di depan gerbang kantor, ia sekali lagi di kejutkan oleh pria yang sama sedang berbincang dengan scurity kantor.
"Kamu... Ngapain di sini?" tegur Lia yang gatal juga karena sedari tadi Vicky terus muncul di sekitarnya.
"Ini, antar pesenan." jawab Vicky sembari menunjuk kantong di tangan scurity. Saat itu Vicky sedang memakai jaket ojol ijo.
"Oohh..." Lia hanya ber oh ria.
"O iya, ini ada es krim." Vicky mengoper plastik berisi eskrim cone pada Lia.
"eehh?"
"Buat kamu aja."
"Eehh?"
"Sudah ya, aku pergi."
Lia masih terbengong tiba-tiba mendapat es krim cone dari V.
"Sebenarnya dia itu kerja apa aja sih?" gumam Lia lalu masuk ke dalam gedung.
Lia masih bingung mau diapakan es krim itu. Pertama dia sudah kenyang. Lagi pula dia tak begitu suka es krim. Saat itu, Lia melihat Jeni sedang termenung di samping kolam. Lia mendekat dan mengagetkan Jeni.
"Hei!"
flash back selesai.
______
Hari menginjak malam, Jeni pun sudah kembali ke rumah. Tidur di bawah selimut yang hangat. Sementara Suga, ia masih berkutat di gedung Relay Grup.
Suga melepas jas nya, menggulung lengan nya hingga sebatas siku. Dan juga menggulung celana panjangnya cukup tinggi.
Suga memberi instruksi dengan tangan yang dia tempat kan di pinggangnya.
"Tuan, kenapa tidak beli saja di penjual ikan. Dari pada susah-susah menyedot air dan menangkap ikan di kolam."
"Kamu tau Kenzo, keinginan ibu hamil itu sangat aneh dan mengadi-adi."
Kenzo tersenyum simpul. "Baik tuan, saya laksanakan tanpa bantahan."
Kenzo meminta beberapa tukang kebun menyedot air di kolam. Dan menyiapkan beberapa ember berisi air tempat ikan yang sudah Suga ambil nanti.
Air di kolam sudah menyusut. hanya tinggal air semata kaki.
"Sudah tuan."
"Jaring."
Kenzo dengan sigap mengambil jaring dan memindah tangan kan jaring pada Suga.
Kaki Suga melangkah memasuki kolam yang licin. Mulai menjaring ikan-ikan yang bergerak kesana-kemari.
Satu ember penuh sudah terisi oleh ikan berwarna Oren itu. masih tersisa beberapa lainnya di kolam. Suga masih berjuang mengambil dengan jaring. semakin sedikit ikan semakin susah di dapatkan.
Hampir dua jam lamanya, Suga akhirnya menangkap satu yang tersisa.
"Kamu yang paling bandel, seperti Jeni."gumam Suga memegang ikan yang dia dekatkan pada wajahnya seolah tengah mengajak ikan itu berbicara.
"Wah, wajah kalian bahkan mirip. Aku beri kamu nama Jeni." gumamnya lagi pada ikan yang tampak menggerakkan mulut nya.
"Pisahkan yang satu ini." titah Suga keluar dari kolam. "Dan isi kolam ini dengan bibit ikan Koi."
__ADS_1
"Baik." tunduk Kenzo. menerima ikan dari genggaman tangan Suga.
"Aku mau mandi."
"Sudah saya siapkan tuan."
"Kegiatan ini sangat menjijikkan. Aku bahkan bau amis. Arrgggg..."
Suga terus bergumam tak jelas.
###
Jam 11.00 malam
Jeni mengerjab, tangannya merentang meraba ruang kosong di sisinya. Ia mengangkat kepalanya. Memastikan lagi disisinya tak ada Suga.
Jeni melirik jam dinding."Apaan nih? udah selarut ini dia belum balik."
Jeni bangun dari pembaringan, duduk dengan masih berselimut di separuh badan. Pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Suga yang tampak segar baru saja keluar dari sana.
"Loh, kok bangun?"
"Kamu baru pulang?" selidik Jeni curiga, dalam pikirannya tiba-tiba terlintas Yovie.
"Heemm...." Suga duduk di pinggiran ranjang tak jauh dari Jeni.
Jeni mengerutkan hidung dan alisnya. Membaui tubuh Suga.
"Bau nggak enak apa ini? Amis."
"Masih bau ya?" gumam Suga mencium bau tubuhnya sendiri."Padahal udah mandi berkali-kali juga."
"Kamu ngapain sih sampai sebau ini?" Jeni mendorong tubuh Suga menjauh."Bau... Minggir sana, jangan dekat-dekat."
Suga tersenyum kesal, bagaimana tidak, karena Jenilah dia rela berbasah-basah di malam yang dingin, rela masuk ke dalam kolam yang bau dan licin. Tapi sesampai nya dia di rumah justru mendapat penolakan.
"Kamu nggak sadar demi ka- "
"Huuwweeekkk..." Jeni sudah menahan mulutnya dengan kedua tangan sebelum Suga menyelesaikan ucapannya.
Jeni bergegas lari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Suga mendekat dan mengurut tengkut Jeni. Namun bau tubuh Suga terlalu menyengat di Indra penciuman Jeni.
"Pergilah, kamu membuatku semakin mual."
"Tapi kamu ...."
"Pergi... Hueekkk,, kamu... bau... huuwweeekkk..."
Melihat Jeni terus muntah. Akhirnya Suga tak tega dan memilih pergi.
Tidur di ruang sebelah sembari memainkan hp. Suga terperangah, melihat di layar hp nya panggilan masuk dari Jeni.
"Halo?"
["Kamu kok pergi sih?"]
"Tadi katanya pergi? Aku bau."
["Baby nya mau tidur sama papa."]
Suga menyentak nafasnya kesal. "Tadi nyuruh pergi sekarang nyuruh balik lagi. Apa sih mau nya?" Gemas Suga sembari beranjak dari pembaringan berjalan kembali ke kamar Jeni.
bersambung....
__ADS_1