
Diatas motornya, Vi tersenyum-senyum sendiri. Teringat akan tindakannya yang mencium pipi Jeni.
"Aneh, padahal dia juga tidak cantik, wajahnya bahkan berjerawat. Kenapa aku bisa tertarik padanya?" Gumam Vi masih tersenyum kecil.
____
Di lain tempat,
Suga berendam di bathtub miliknya yang luas. Ia memejamkan matanya menikmati rendaman air hangat dan aroma yang menenangkan. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
Selintas wajah berjerawat Jeni mengganggunya. Suga mengibaskan tangannya mengusir bayangan Jeni dari pikirannya. Bayangan itu pun hilang, berganti dengan hal lain yang menyenangkan.
Senyum Suga terkembang lagi. Namun, lagi-lagi wajah Jeni melintas tanpa permisi. Apa lagi wajah yang penuh gairah di bawah tubuhnya. Suga mengibas-ngibaskan lagi tangan nya mencoba mengusir bayangan wanita tak berakhlak yang menganggap nya gigolo.
Namun, lagi-lagi wajah penuh gairah wanita itu menghantui, wajah wanita yang terus bergoyang diatas tubuhnya. Seketika membuat Suga bangkit.
"Sialan! Wanita itu terus saja mengangguku." Umpat Suga mengenakan bathrobe nya.
Suga berjalan keluar dari kamar mandi ia menuruni anak tangga mencari sekertaris nya Kenzo.
"Aah, Disini kau rupanya." Gumam Suga begitu menemukan Kenzo yang sedang bermesraan dengan salah seorang wanita di bar pribadi mansion nya.
"Ada apa bos?" Kenzo melepas pangutannya dan menggeser wanita yang duduk di pangkuannya.
Tangan Kenzo mengibas menyuruh wanita itu pergi. Tentu saja wanita itu langsung pergi begitu mengintip akun ewaletnya telah bertambah nominal nya.
"Wanita itu..."
"Anda mau memakainya?" Tanya Kenzo memelengkan kepalanya kearah wanita yang baru saja pergi itu.
"Gunduull mu!"
Suga menjitak kepala asisten nya itu.
"Maksudku wanita yang sudah tidur denganku itu."
"Wanita yang mana tuan?" Tanya Kenzo sok bodoh.
"Apa aku harus memecatmu agar kau jadi pintar Kenzo?"
"Aahh, iya saya ingat, Jeni ya, ya, ya, Jenin nama wanita itu. Yang terus mengaggu pikiran anda ..." Kekeh Kenzo meledek, yang tentu saja langsung mendapat tatapan iblis dari bosnya.
"Tentu saja dia juga memberiku tips." Ucap Kenzo mencoba mengalihkan lelucon yang tidak lucu itu. Sembari menunjuk uang berwarna biru dari Jenin.
"Kau sudah mendapat kan nya?"
"Tentu saja belum tu...."
Geraman Suga menghentikan kalimat nya, "Tentu saja belum tuntas tuan, tapi, nona Jenin sudah di mutasi ke kantor pusat. Dia akan sangat terkejut melihat anda nanti." Sambung Kenzo mengkoreksi kalimatnya.
"Huuhh, bagus!"
Suga mengulas senyum culasnya.
"O iya tuan Suga, nyonya besar meminta anda kembali ke mansion utama."
"Kita sudah di mansion utama."
"Yang satu lagi."
"Katakan pada mama, aku tidak sempat." Suga berbalik dan sangat terkejut mendapati mamanya sudah ada di dalam bar itu.
"Tidak sempat apa anakku?" Tukas mama Susy dengan urat yang terlihat menonjol di wajahnya sakinng geram dengan anak sulungnya itu.
Suga bergidig...
_______
__ADS_1
Di sebuah rumah yang cukup megah, papa Roman, pria mapan berusia 56 tahun menuruni tangga sembari mengancingkan lengan kemejanya.
Di ruang makan mama Diana menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya di sana. Di sisi seberang nya, Adrian duduk dengan seragam putih abu-abu sibuk memijit ponselnya.
"Adrian, pagi-pagi jangan bermain ponsel, terlebih di meja makan." Tegur papa Roman mengacak rambut putra bungsunya.
"Iya pa." Patuh Adrian sembari menyimpan lagi ponselnya.
Mama Diana tersenyum kecil menyambut suaminya. Ia pun mulai melayani sang suami. Mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk.
"Papa mau SOP?"
"Nggak usah, itu aja cukup." Jawab papa Roman melirik kecil piringnya yang baru saja di letakkan sang isri ke meja depannya.
Mama lalu mengisi piring miliknya sendiri. Sementara Adrian mengambil jatah makan pagi nya.
"Sepi deh, sarapan tiap pagi." Celetuk Adrian sembari menyuap.
"Kenapa? Kalau sarapan jangan banyak cakap."
"Iya, ma. Cuma sepi aja. Rasanya kangen sama kakak."
Mama Diana mengulas senyum kecil dan melirik suaminya, "mama juga."
"Tadi Adrian sempat komunikasi, katanya kakak ada di kota ini."
"Yang benar?" Tanya mama penuh ketertarikan.
"Iya ma, nanti Adrian mau ketemu Kaka....." Jawab Adrian bersemangat karena melihat papa Roman tak begitu tertarik, yang artinya Adrian bisa bebas menemui kakaknya tanpa ijin dari sang papa.
"Kalau begitu mama iku...."
BRAK!
Papa Roman menggebrak meja, tampak air mukanya yang tak ramah dan otot tangannya yang menonjol saat terkepal. Tentu saja itu membuat mama dan Adrian terdiam seketika.
Hening ...
###
Di gedung sebuah perkantoran.
Papa Roman menatap sebuah bingkai foto di meja kerjanya. Ia menatap nya, tersirat rindu di matanya, namun tangan pria tua itu terkepal.
"Pak, waktunya meting."
"Oke,"
Roman bangkit dari duduknya. Melirik pada bingkai foto diatas mejanya sekali lagi. Sebuah potret keluarga bahagia, dengan dua orang anak, satu perempuan, dan satu lelaki yang lebih kecil.
###
Siang itu, Adrian memacu motor nya membelah jalanan kota M. Dan berhenti di sebuah cafe, memarkirkan motornya di sana. Adrian berjalan memasuki cafe, ia mengedarkan pandangannya berkeliling, saat menemukan sosok yang ia kenali, segera berjalan mendekat.
"Kak, lama nunggu ya?"
Sosok itu melongok pada Adrian, remaja yang beranjak dewasa, tersenyum menyambut adiknya.
"Enggak, Kaka juga baru aja, duduk. Udah Kaka pesenin makanan kesukaan mu."
Adrian menjatuhkan bobotnya di kursi sebrang kakaknya.
"Kak Jeni makin kusen aja kulihat."
"Biarin."
"Banci laknat, apa masih morotin Kaka?"
__ADS_1
"Kok kamu ngomong gitu sih?"
"Bener kan? Orang kayak gitu nggak pantes disebut laki. Adrian aja malu kak." Tukas Adrian tak bisa menyembunyikan kekesalan nya."Liat Kaka sekarang di buatnya. Kusem, berjerawat, bahkan sampai di usir sama papa. Kami bahkan nggak di ijinkan ngomongin kakak, apa lagi nemuin."
Jeni tersenyum maklum, memang papanya itu sangat keras, namun juga penyayang. Sayang nya Jeni baru menyadarinya sekarang saat dia sudah habis-habisan.
"Gimana kabar papa?"
"Yah, jika dia masih marah-marah itu pertanda baik."
Jeni tertawa geli."Bagaimana dengan mama?"
"Mama kangen Kaka."
Adrian menatap matanya dengan mata menyelidik.
"Kenapa kakak kembali?"
"Kakak mutasi ke kantor pusat."
"Hmmmm... " Adrian mengangguk paham."orang itu?"
Jeni menghela nafasnya."Kaka nggak mau bicarain dia dulu, Adri. Kami dah putus."
"Alhamdulillah.... Akhirnya, dibukak juga mata kakaku yang tertutup ini."
"Iiisshhh.... Kamu sih."
"Abis, ngapain cowo gitu di pelihara coba."
"Iya, iya, pesenan dah Dateng tuh, ayok makan."
______
Hari berikutnya,
Jeni memasuki gedung pusat tempat nya di mutasi, hari ini ia dan Lia tepat satu Minggu bekerja disana.
"Hari ini kita akan meting dengan bos besar. Pastikan semua sempurna." Ucap pak Mazda atasan langsung Jeni memberi instruksi awal pada tim nya agar tak melakukan kesalahan.
"Bos kita ini sangat temperamen dan perfeksionis dalam hal pekerjaan, tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun."
Semua anak buahnya menganggu mengerti. Termasuk Jeni.
"Dan kamu Jeni, karena kamu yang memegang klien penting kita kali ini, bapak harap kamu tidak melewatkan apapun."
"Baik."
Usai brefing Jenin kembali ke meja nya, mengecek ulang semua data dan laporannya.
"Jen, lunch yuk." Ajak Lia tiba-tiba muncul di balik bilik tempat nya bekerja.
"Bentar Li, masih tanggung." Ucap Jeni tanpa mengalihkan pandangannya dari layar datar di depannya.
"Udahlah, tinggal dulu meting dengan bos masih ntar sore kan? Makan aja dulu, kita juga butuh asupan biar sehat dan fresh."
"Iya, iya..." Jeni mengulas senyum tipis.
Seusai makan siang, Jeni dan semua managers berkumpul di ruang meting berkapasitas besar. Semua sudah siap menanti sang big bos datang.
Jeni beberapa kali mengecek berkas dan datanya. Mastikan tak ada yang terlupa dan terlewat. Pintu utama ruang meting di buka, semua peserta meting berdiri, Jeni pun ikut berdiri, karena ini pertama kali nya ikuy meting bersama CEO nya.
"Selamat datang tuan..." Serentak membungkuk. Jeni pun mengikuti. Lalu menegakkan punggungnya kembali. Jantung nya berdebar karena ini pertama kalinya melihat langsung wajah bos nya.
Ia memasang senyum semanis mungkin. Seketika netra melebar, melihat sosok CEO-nya...
Bersambung...
__ADS_1
______