Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 39


__ADS_3

Entah sudah ke berapa kali nya Suga menyiram tubuh nya di bawah shower. Kesal? jangan di tanya. Jengkel? sudah tentu.


Tapi mau bagaimana lagi, walau merasa sangat di aniyaya oleh istrinya. Ia tak bisa marah pada wanita yang tengah hamil anaknya itu. Rasa kesal dan jengkel nya seketika menguap saat melihat tonjolan di perut Jeni.


Yaahh, itu memang salah nya. Jika bukan karena nya, perut itu tak akan mengembang, dan akan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu.


"Bagaimana?"


Tak ada respon dari wanita yang berbaring di bawah selimut membelakangi dirinya. Suga berjalan memangkas jarak melongok pada Jeni yang ternyata sudah pulas.


"Sabar Suga. Sabar... Sabar itu di sayang Tuhan dan Jeni. Juga anak-anak mu kelak." ucap Suga mengurut dada bidangnya yang terbuka dan lembab sehabis mandi tadi.


Suga melirik jam dinding. Ia menghela nafas lagi, jam 03.30 pagi.


"Aku pasti sudah gila, mandi sampai jam 3.30 pagi." gumam Suga menatap ke atas seolah sedang mencoba menguasai diri nya agar tidak gila.


Suga sampai mandi berkali-kali menuruti sang istri yang sedang hamil muda itu. Karena sang jabang bayi ingin tidur dengannya. Sementara Indra penciuman Jeni menolak. Dan kini ia justru di tinggal tidur.


"Entah kenapa aku berkali-kali merasa di kerjai oleh mu. Oke. Lihat saja nanti." gumam Suga dengan kesal menatap wajah lelap Jeni, namun tak bisa melampiaskan.


.


.


.


Beberapa hari ini Yovie terus mencari kos an yang murah namun fasilitas full untuk diri nya agar tidak terlalu banyak membawa barang. Dan di hari Minggu ini, ia sudah pindah ke sebuah kos yang cukup dekat dengan gedung tempat nya bekerja.


Di depan kos an itu, Yovie melihat pria tampan yang sedang berdiri dan bersandar pada motor klasik di belakangnya. Yovie terus memindai perawakan pria tersebut.


"Tampan." gumamnya terus menelanjangi dengan pandangan matanya."Pria seperti ini pasti akan sangat menyenangkan bila di ranjang." bergumam lagi dengan senyuman mesum.


"Pria ini pasti orang kaya. Kulitnya saja putih bersih. Apa lagi setampan ini." Yovie berjalan mendekat hendak menyapa. Kaki nya terhenti saat di lihatnya pria itu mengambil jaket hijau milik nya. Lalu mengenakan jaket ojol itu.


"Ya Ampun, ganteng-ganteng ojol. Tiba-tiba aku jadi tak berselera." Yovie lalu berbalik dan memasuki kos baru nya.


Tak lama Lia memasuki area kos. Ia tertegun melihat V sedang mengenakan jaket hijau nya dan menaiki motor.


"Kamu, ngapain disini?" Lia menghentikan motornya tak jauh dari V parkir di seberang gerbang kos.


"Aku, mengantar costumer." jawab V santai."Kamu dari mana?"


"Dari depan."

__ADS_1


"Depan mana? kok lama?"


"Haahh?" Lia menautkan alisnya."Maksudnya lama?"


V menjadi sedikit salah tingkah, dia memang sudah menunggu sejak lama di depan gerbang kos an Lia. Entah untuk apa ia juga tak tau, tadi dia hanya berkendara asal dan terhenti di depan kos yang sudah tak asing baginya.


"Uummm... lama nggak ketemu."


"Haah? Kamu ngomong apa sih? Aneh deh." kata Lia merasa takut, kalau-kalau pria di depannya ini orang yang memiliki kelainan."Aku masuk dulu ya."


Setelah pamit, Lia segera memarkirkan motornya di halaman kos. Dan segera masuk ke kamar nya.


V menghela nafasnya."Sebenarnya, kamu ngapain sih V?" gumamnya menjitak kepala nya sendiri.


###


Siang itu, V ikut mempersiapkan pesanan untuk TPA Latahzan di Resto Rescue miliknya. Karena memiliki harga yang kaki lima dengan rasa bintang lima. Hingga resto rescue sering menjadi pilihan banyak kalangan. Apa lagi ada paket nasi box dengan harga yang lebih miring tanpa mengurangi kualitasnya.


"Mas V sebenarnya, nggak perlu membantu. Ini juga pesanan partai kecil, kami masih bisa kerjakan sendiri." ucap salah satu juru masak bernama mbok Pri.


"Nggak papa mbok, saya lagi senggang." ucap V dengan senyuman ramahnya.


Setelah semua selesai, dan membantu menata semua nasi box. V menghitung lagi jumlahnya, memastikan tak ada yang kurang ataw lebih.


"Harusnya sih sekarang, Mas." jawab Rani selaku bagian koordinasi melirik jam di lengannya.


"Hmmm... Tau alamat TPA nggak?"


"Coba cek di gugel mas, kemarin mbak nya cuma kasih DP sama nama TPA Nya aja. Katanya sih mau diambil." jelas Rani lagi.


"Oo gitu."


V membuka gawainya, melakukan pengecekan. Ia pikir mungkin saja jika si pemesan ada halangan, jadi dia bisa membantu delivery.


Suara deru motor terdengar parkir di samping resto. V mengangkat kepalanya, matanya bertubrukan dengan mata bulat seorang gadis yang sering ia temui itu. Dengan penampilan yang sedikit berbeda karena gadis itu menggunakan jilbab.


"Lia?"


"OOO,, Vicky?"


Kedua nya sama-sama terkejut.


"Kamu kerja di sini juga?"

__ADS_1


Rani yang mendengar pertanyaan Lia membuka mulutnya hendak menjelaskan.


"Bukan, mas V ini..." ucapannya terhenti saat melihat tangan V menahan di belakang tubuh tegap pria itu, mengisyaratkan untuk diam.


"Iya aku kerja di sini." angguk V cepat memotong ucapan Rani.


"Waahh, kamu pekerja keras ya?" Lia merasa cukup kagum dan salut pada pria tampan yang kini berdiri diantara kardus-kardus berisi nasi pesanannya.


"Kamu, apa dari TPA Latahzan?"


Lia mengangguk pelan. "Mau ambil pesanan nasi box sama bayar ke kurangannya." jelas Lia mendekat dan menyerahkan nota beserta uang sejumlah kekurangan nya.


V mengambil nya dan mengoper pada Rani. "Tolong ya Ran."


"Iya mas." Rani melangkah menuju kasir.


"Ini mau di taruh dimana?" V memandang motor matik yang tadi Lia kendarai."Kamu cuma bawa motor?"


"Iya."


"Bisa bawanya?"


"Bisa. Ini aku bawa keranjang kok." jelas Lia mengambil dua ikat nasi box lalu meletakannya di keranjang yang sudah di ikat kuat di bagian jog belakang motor. V tak lupa membantunya. lima puluh box sudah terangkut di atas keranjang dan sebagian di bagian depan motor.


"Ini masih ada dua puluh lima box lagi, Li."


"Iya, nanti aku ambil lagi." ucap Lia enteng berjalan ke motor nya."Nitip dulu ya."


Melihat motor matik itu penuh dan hanya menyisakan sedikit jog untuk Lia duduk. V tak tega juga. Ia menahan lengan Lia. Lia menoleh.


"kamu bisa bawa motor kopling?"


"nggak."


"Uummm... gini aja, ini motor aku yang bawa, sisa yang dua lima ini biar pake motor sini aja." usul V menunjuk satu motor matik inventaris yang nganggur.


"Uummm...." Lia tampak berpikir.


"Aku nggak akan bawa kabur motormu kok." kata V yang berpikir mungkin saja Lia khawatir jika motornya bakal di bawa kabur olehnya.


Lia masih tampak tak bergeming.


"Kamu udah tau dimana aku kerja kan? Kamu bisa cari aku di sini atau di carwash. Gimana?"

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2