
"Li, aku beli nasi Padang, makan bareng yuk."
Lia tersentak, kepala nya langsung memutar melihat ke arah pintu kamarnya. V tersenyum, namun juga terlihat terkejut melihat ada Bu Sumi di sana.
"Siapa dia Lia?"
Lia menoleh pada ibunya.
"Ini Vicky..."
Vi duduk bersimpuh dan mengulurkan tangannya, menyalami Bu Sumi dan mencium tangannya dengan takzim.
"Saya Vicky, pacar Lia."
Bu Sumi mendelik dan cepat-cepat menarik tangannya. Menoleh pada putrinya.
"Pacar?"
Wajah Lia sedikit berubah jadi tegang.
"Di sini kamu pacaran Lia?"
Lia menunduk. Tak mendapat jawaban dari anaknya, Bu Sumi memindai V.
"Kamu ganteng juga. Apa kerjaan kamu?"
"Saya bekerja di carwash dan resto buk." jawab V tanpa mengurangi rasa hormatnya pada calon mertua.
"Oohh buruh to? pekerja kasar."
Vi terkejut dengan reaksi Bu Sumi yang terlihat sangat acuh dan meremehkan dirinya. Ia memandang Lia yang menunduk tak enak sambil menggigit bibirnya.
Vi tersenyum kecil. "Iya buk, pekerjaan halal kok. Saya yakin tetap bisa mencukupi kebutuhan dan membahagiakan Lia."
Bu Sumi mendengus, "Lagaknya mau membahagiakan Lia... Kerjaan aja nggak jelas berapa gajinya."
"Buuk....." lirih Lia dengan mata memohon agar tak berbicara lebih menyakiti kekasihnya.
Bu Sumi mencleos melirik putrinya lalu berpindah memandang V. "Kamu bawa apa itu?"
"Nasi Padang buk. Ibuk sudah makan? Ini ada dua."
"Kamu ke sini buat antar nasi padang?" tanya Bu Sumi menarik kantong berisi nasi Padang. mengambil satu bungkus lalu membuka karetnya.
"Iya," angguk V.
"Ya sudah, sana pulang!" Usir Bu Sumi,
ada riak keterkejutan di wajah V, namun tak terselip kekecewaan. Vi memandang wanitanya sebentar. Lia lebih banyak menunduk dan tidak banyak bersuara.
"Kalau begitu, saya permisi buk." pamit V mengulurkan tangannya lagi hendak mencium tangan Bu Sumi namun wanita tua itu bergegas menarik tangannya sebelum di raih oleh V.
"Itu, yang satu kamu bawa aja."
"Ini buat Lia aja buk."
__ADS_1
"Nggak usah! Takut ibuk itu nasi Padang sudah kamu kasih apa-apa biar anak ku nurut sama kamu."
Lia langsung mengangkat wajahnya menatap ibunya dengan sangat tak percaya sekaligus memelas.
"Bukk!"
Vi tersenyum lagi.
"Saya bukan orang musrik buk. Ini di beli dalam perjalanan kemari. Warungnya di depan gang ke kos ini. Saya nggak akan sempat kasih macam-macam, dan ibuk juga bisa lihat bungkusnya masih rapi. Jadi biar di makan Lia ya..." ucap V lembut."Belum masak kan?"
Lia menggeleng.
"Halah, siapa tau juga kami baca-baca in mantra." ketus Bu Sumi memiringkan tubuhnya yang duduk bersila membelakangi V.
"Kamu bawa aja V." pinta Lia lirih,
"Kamu gimana?"
"Tenang aja. Aku antar sampai depan." ucap Lia beranjak dari duduknya.
"Eee... mau ke mana kamu Lia? Tetep di sini? ngapain pake di anterin segala. Datang kesini sendiri kok pake di anter-anter." protes Bu Sumi menoleh dengan tatapan tajam.
"Cuma bentar kok Buk, ayo Vi." Lia berjalan cepat dan menggandeng lengan V hingga sampai di parkiran kos tanpa memperdulikan ibunya yang berteriak melarang.
"Udah Lia, sampai sini aja, nanti ibumu semakin marah. Sana balik."
Lia menatap wajah V yang tetap tersenyum dan meneduhkan.
"Maaf..."
"Ibu ku..."
"Sudahlah, namanya juga ibu, pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Dan aku nggak menyerah, aku bakal perjuangin kamu. Huumm?" Tutur V mengusap kepala Lia, agar wanitanya itu tak lagi gelisah.
"Masuk sana."
Lia melangkahkan kakinya kembali ke kamar setelah melambai pada V sebentar. Wajah Lia masih terlihat cemas dan sedih, namun melihat V yang terus tersenyum ramah padanya. Menguatkan hati yang sempat goyah.
###
"Pokoknya ibuk nggak setuju kalau kamu sama Vicky itu!"
"Vi orang baik buk, dia juga pekerja keras.."
"baik aja nggak cukup Lia!" kata ibu Sumi meninggi."Mau di kasih makan apa kamu sama dia nanti?"
"Nasi buk..."
"Lia!" Bu Sumi menunjuk wajah Lia dengan mata melotot dan wajah marahnya."Pokoknya ibu nggak merestui hubungan kalian. Kamu itu manager! Minimal, cari yang manager juga dong!"
"Lia cinta...."
"Makan saja itu cinta sampai kenyang?! Kamu ini manager kok nggak pinter-pinter. Sudah! Pokoknya besok kamu putuskan saja dia."
Keesokan hari nya Lia berangkat kerja dengan diantar sang ibu. Motor Lia Bu Sumi yang bawa. Karena Bu Sumi ingin melihat-lihat suasana kota. Sebenarnya Lia ingin minta ijin untuk libur beberapa hari, agar bisa menemani sang ibu jalan-jalan. Tapi Bu Sumi tak mengijinkan, dari pada gajian nanti berkurang.
__ADS_1
Setelah seharian bekerja, Lia berdiri di depan gerbang menunggu jemputan. Hampir satu jam lamanya Lia menunggu. Sebuah motor klasik berhenti di depannya.
"Ayo naik."
"V?"
"Udah satu jam kan kamu nunggu di sini?"
"Kok kamu tau?"
Vi hanya melempar senyum. lalu menarik tuas gas motornya setelah memastikan Lia sudah duduk dengan sempurna di jog belakang.
"Kamu kok tau?"
"Tadi ada yang kasih tau, kamu udah berdiri di depan gerbang lebih dari satu jam." jelas V pelan."Motormu di pake ibuk??"
"Iya."
V membelokkan motornya ke sebuah warung di pinggir jalan.
"beli makan dulu ya." kata V turun dari motor nya. "Kamu tunggu sini aja."
Beberapa menit kemudian, V kembali dengan dia tentengan kantong plastik, yang satu berisi nasi bungkus yang masih hangat dan satu lagi berisi es teh dan teh jahe anget.
"Nanti kasih ini ke ibuk."
"V...."
"Ini usaha ku untuk meluluhkan hati ibumu. Dari makanan." Vi nyengir, melihat kekhawatiran di wajah Lia, ia mengusap kepala Lia dengan sayang.
"Ayo pulang."
Sesampainya di kos an, Bu Sumi sudah menunggu dengan tangan yang terlipat. Wajahnya berubah begitu melihat Lia turun dari motor V.
"Huuhh, motor nya aja motor jadul. Pasti kere itu anak. Beraninya deketin anakku." gumam Bu Sumi mengawasi dua orang yang baru saja berpisah itu.
"Kamu pulang telat, ternyata enak-enak an pacaran ya sama Vicky itu?"
Lia mengurut dada nya sabar. Menarik nafas panjang dan hembuskan. Lalu memaksakan tersenyum dan bertanya dengan halus.
"Ibuk kenapa nggak jemput Lia? Tadi Lia nunggu satu jam di depan kantor."
Bu Sumi tampak gugup.
"Itu, kamu beli apa?"Mengalihkan pembicaraan, mata Bu Sumi menunjuk pada Kantong kresek di tangan Lia.
"Bukan Lia yang beli buk. Ini Vi."
"Ya sudah, ibuk juga nggak masak."
Keesokan paginya, Lia hendak berangkat kerja, melihat sang ibu yang masih pulas tertidur, dan tak tega membangunkan, Lia segera keluar karena jam kerja sudah mepet.
Lia terkejut, di parkir tidak ada motornya. Lia panik, memandang ssetiap sudut tempat itu, pikirannya mulai Kacau tak karuan. Apa mungkin, motornya hilang di maling orang?
Bersambung..
__ADS_1