Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 76


__ADS_3

"Buk, bapak sebenarnya sakit apa?" tanya Lia saat mereka dalam perjalanan ke kampung halaman menggunakan kereta.


"Sakit ya sakit. kok masih nanya?" ketus Bu Sumi tidak suka Lia banyak tanya seperti itu.


"Maksud Lia itu sakit apa? ginjal? liver? atau tumor?"


Bu Sumi melotot tak suka."Huuss! Lia, kok kamu nyumpahin bapak mu sakit parah gitu?"


"Lia kan tanya buk, bukan nyumpahin."


"Udah ah Lia, ibuk mau tidur. Kalau sudah sampai bangunin ibuk ya." tukas Bu Sumi membetulkan posisi duduk ternyamannya.


Lia memilih diam, ia merasa seperti ada yang ibunya sembunyikan. Bahkan Lia merasa kan hal yang tidak mengenakkan hatinya.


'Semoga ini hanya perasaan ku saja. Bukan Firasat buruk.' pikir Lia mencoba berpikir positif.


****


Beberapa hari sebelum Bu Sumi datang ke kosan Lia di kota.


Di rumah kediaman pak Subekti, bang Tan kembali bertandang. karena lagi-lagi Bu Sumi telat membayar utang.


Pria berkumis berumur sekitar 45 tahunan itu duduk menyilang kan kaki dan menghisap cerutunya. Di samping kiri nya berdiri dua orang preman berbadan kekar yang biasa bertugas mengeksekusi.


Bu Sumi dan pak Subekti duduk di sisi yang lain sofa ruang tamu. Wajah mereka sangat gelisah dan gugup.


"Kami minta maaf juragan... Uang kami belum cukup untuk membayar hutang. Tolong beri kami waktu dua hari lagi." pinta pak Subekti memohon.


Bang Tan menghisap cerutu nya dan menghembuskan asap nya tepat di wajah pak Subekti dan Bu Sumi. Hingga pasangan itu terbatuk-batuk.


"Dengar pak Subekti dan Bu Sumi. Saya sudah sering memberi kalian kelonggaran. Dan berulang kali pula kalian terlambat membayar."


"Sekali ini saja! saya mohon." Pak Subekti memelas dengan tangan yang di tangkup di depan dadanya.


"Tidak bisa pak, tidak bisa ya tidak bisa."


"Tolong kami juragan... Berbelas kasihan lah pada kami. Kami akan melunasinya, kami janji." kali ini Bu Sumi ikut memohon dengan wajah memelas.


"Aku sudah sering makan janji mu Bu Sumi."


"Kami benar-benar tak punya uang saat ini." terang pak Subekti bingung. Karena Lia baru Minggu lalu mengirimi mereka uang. Tak mungkin juga untuk nya meminta uang lagi pada Lia.

__ADS_1


Sementara dua anak lainnya tak bisa di harapkan lagi. Lisna sudah menikah dan benar-benar lepas tangan mengenai hutang yang diakibatkan oleh nya. Karena dulu menjaminkan sertifikat rumah, Bu Sumi terpaksa membayarnya dengan mengandalkan Lia.


"Begini saja. Saya akan anggap hutang kalian lunas, jika..."


pak Bekti dan Bu Sumi tampak berbinar mendengarnya, semangat mereka terlihat muncul seketika mendengar sang juragan akan menghapuskan hutang.


"Jika, kalian nikahkan anak gadis kalian pada ku." sambung bang Tan dengan senyum tipis nan licik di wajahnya.


pak Bekti dan Bu Sumi saling berpandangan. Lalu kembali melihat pada Tantoro.


"Makasih juragan Tantoro? Yasinta?" pak Bekti menyebut salah satu anak gadis nya yang yang bekerja di swalayan.


"Bukan."


Bu Sumi dan pak Bekti berpandangan lagi. tangan mereka bergetar dan wajah keduanya tampak sangat tegang dan berkeringat.


"Apa Farah?" tanya Bu Sumi dengan sangat lirih dan berhati-hati.


"Dia masih sekolah juragan.... Saya mohon..."


Tantoro tergelak, tawanya sangat lebar dan keras. Pasangan yang berhutang itu semakin bingung.


"Kalian kan masih punya anak satu lagi. Yang paling cantik, tapi dia tidak ada di sini..."


"Biar ku ingat siapa namanya..."


"Li-Lia?" tanya pak Bekti dengan terbata dan wajah yang semakin tegang.


"Iya, benar. Lia!" tegas Tantoro dengan tatapan menajam.


"Aku mau Lia. Serahkan dia padaku, dan hutang kalian lunas!"


"Ta-tapi... Lia..."


Tantoro berdiri dan menarik kerah baju depan pak Subekti. "Dia kenapa? Tidak suka? Aku tidak perduli. Selama dia jadi istriku hutang kalian kuanggap lunas, rumah ini juga kembali jadi milik kalian."


Tantoro melepas cengkramannya.


"Aku beri kalian waktu satu Minggu untuk memikirkannya. Selama itu, bunga hutang kalian tetap berjalan. Tapi aku tidak akan mengusik." sambung Tantoro lagi melangkah keluar rumah.


"Aku menantikan kabar baik."

__ADS_1


****


"Gimana ini pak?" Bu Sumi tampak sangat cemas."Kalau Lia diambil oleh Tantoro, kita sudah tak punya sumber uang lagi ke depannya.


pak Subekti memijit kepalanya yang berdenyut. "Bapak juga bingung buk. Saat ini Lia lah yang terus memberi kita uang. Dari Yasinta hanya cukup buat makan dua Minggu. Farah sekolah, dan Agus tak bisa di harapkan. Sedangkan Lisna sudah angkat tangan."


"Benar pak, usaha bengkel bapak juga lagi sepi akhir-akhir ini kan?"


Bu Sumi makin gelisah, "Terus gimana ini pak solusinya. Ibuk nggak mau hidup susah. Malu sama teman-teman arisan ibuk, malu sama tetangga, juga sama saudara ibuk yang lain."


"Kita sudah buntu buk." pak Bekti mendesssaah kasar."Kita cuma bisa korbankan Lia. Demi menyelamatkan rumah ini. Jika rumah ini sampai di ambil, kita sudah nggak punya tempat tinggal lagi."


Bu Sumi mengurut dada nya berulang lagi. Wajahnya terlihat sangat susah membayangkan hidup mereka nantinya.


"Ibuk nggak mau hidup susah pak."


pak Bekti mengusap pungung istri agar lebih kuat dan bersabar lagi. "Besok kita jemput Lia. Ajak dia pulang."


"Biar ibuk saja pak, sayang ongkos nya. Biar ibuk yang bujuk Lia."


****


Sesampainya Lia di rumah, mendapati bapaknya sedang terbaring di sofa tamu dengan selimut tebal. Lia merasa sedih dan prihatin.


"Pak?" Lia menyentuh lengan bapaknya.


"Lia? Udah pulang?" pak Bekti bangun dan duduk sambil menggosok matanya.


"Udah pak, bapak katanya sakit kok malah tidur di sini?"


"bapak cuma demam Lia, udah ke dokter juga kemarin. Bapak tadi nungguin kalian, kata nya udah di jalan." jelas pak Bekti lembut.


"Ya udah, bapak dah minum obat?"


"Sudah nak."


"Udah makan?"


"Sudah."


"Ya udah, bapak pindah di dalam saja." saran Lia membantu pak Bekti berdiri dan memapahnya ke kamar.

__ADS_1


"Nggak papa Lia, bapak bisa jalan sendiri kok."


__ADS_2