Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 14 • Bertemu Bos •


__ADS_3

Malam itu keluarga Roman makan malam dengan cukup tenang, hanya mama Diana yang bicara banyak hal, menanyakan kehidupan Jeni selama setahun belakangan.


Tampak sekali kerinduan dia mata mamanya itu, sedangkan papa Roman yang biasanya tak prnah suka ada percakapan saat sedang makan hanya dia. Sepertinya, Pria berumur itu pun tertarik dengan kehidupan luar anak gadisnya, hanya masih gengsi untuk bertanya. Hingga dia hanya diam menyimak.


Saat makan malam usai dan mereka berpisah di depan restoran, mama Diana kembali memeluk anak gadisnya.


"Mama kangen banget sama kamu Jen, kapan kamu akan kembali kerumah?"


Jeni hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Saat mobil jemputan milik sang papa sampai di depan tempat mereka menunggu.


"Kami pulang dulu ya Jen. Kamu sehat-sehat di luar. Kalau kangen atau butuh apa-apa jangan segan menghubungi mama."


Jeni lagi-lagi hanya tersenyum tipis sembari menganguk kecil.


"Ya sudah kami pulang dulu." Pamit mama berjalan lebih dulu ke mobil.


"Kak, duluan ya,"


Jeni melambaikan tangannya. Saat itu, papa Roman berjalan menyusul terakhir, ia sempat berbalik sebelum membuka pintu mobil.


"Pulanglah jika kamu masih ingat jalan pulang." Kata papaa Roman dengan mata penuh kasih. Lalu mobil itu bergerak menjauh.


Satu kalimat dari papanya yang sedari tadi hanya diam, membuat Jeni tak karuan, air matanya tiba-tiba jatuh. Rasanya ia marah dan juga sedih. Rindu dan merasa bersalah pada sang papa. Jeni hanya sesenggukan saja di depan restoran itu.


"EHEM...."


Jeni melirik pada benda yang terulur di sampingnya. Sebuah sapu tangan. Jeni menyusuri tangannya itu dengan pandangan nya hingga melihat wajah si empunya.


Tentu saja ia terkejut, pasal nya itu adalah Suga. Sang bos yang entah kenapa jadi berada di sekitarnya.


"Kenapa kamu ada di sini bos? Apa kau menguntiti ku?" Cerca Jeni sembari mengambil saputangan milik Suga.


Suga menatap Jeni dengan mata tak terima. Memasukkan tangannya ke dalam saku.


"Ini restoran, tentu saja aku kemari untuk makan. Ngapain aku nguntititi kamu. Nggak ada kerjaan." Tukas Suga mengelak. Ia tadi baru aja selesai makan malam dengan beberapa kliennya. Saat keluar untuk pulang menunggu Kenzo mengambil mobilnya. Suga justru melihat Jeni tengah menangis.


Suga menghela nafasnya.


"Kenapa kamu menangis? Di tinggalin kekasihmu?"


Jeni melirik sinis pada Suga yang bicara bahkan tanpa menatap kearahnya. Pandangannya lurus kedepan.


"Bos kepo."


"Apa kau bilang, minta di pecat ya?"


Deg! Jeni bergidig mendengar kata di pecat. Tentu saja tidak begitu, ia Menganti mode emosinya dan melow nya menjadi sedikit ceria.


"Aku... Memang baru ditinggalkan kekasihku."

__ADS_1


"Lagi?" Suga bertanya dengan terkejut, baru sebentar kemarin dia memaki ku gara-gara kekasihnya berhianat, dia sudah berpacaran lagi. Benar-benar.. begitu pikiran Suga.


"Apa hatimu mudah berpaling, Belum lama kamu dicampakkan kekasihmu, sudah punya kekasih baru yang meninggalkanmu lagi."


Mulut Jeni melongo mendengar pernyataan merendahkan dari bosnya itu.


"Matamu katarak atau bagaimana? Tak bisa melihat pria yang setia dan malah jatuh ke lubang yang sama...."


"Kalau tidak tau apa-apa sebaiknya jangan asal bicara!" Sentak Jeni dengan mimik muka kesal.


Suga sedikit terkejut di teriaki oleh karyawannya seperti itu.


"Terserah bagaimana urusan ku. Ini bukan jam kerja, jadi jangan ikut campur. Membuat kesal saja." Jeni melempar saputangan Suga yang sudah ia pakai untuk mengelap ingus dan air matanya.


"Iiiihhh, apa-apaan ini? Aku memberimu dalam keadaan bersih. Kenapa kotor menjijikan begini kaamu kembali kan?"


Suga melempar balik saputangan itu kearah Jeni. Jeni mengambil saputangan itu dan menyimpan nya ditas tangan. Dan berlalu pergi dengan menghentak kakinya.


Jeni berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Sambil terus ngedumel kesal dengan ucapan bosnya yang sangat merendahkan dirinya. Menurut Jeni.


Sebuah mobil silver berhenti tepat didepannya.


"Masuk." Suara Suga di bangku penumpung.


Jeni melengos.


"Masuk! Aku antar kamu pulang, ini terlalu malam untuk menunggu taksi."


Mobil itu masih tetap di sana. Dengan Suga yang masih menatapnya tanpa suara.


'Iiihhh... Apaan sihh dia, diam aja, tidak pergi, nggak bicara atau apa. Apa maunya, Aneh.' batin Jeni masih acuh.


Lama menunggu, tapi tak ada taxi lewat. Jeni semakin kesal.


"Ini sangat menyebalkan. Kenapa tidak ada taxi lewat? Orang ini bahkan sedari tadi hanya melihat kemari. Bunnya pergi malah...." Gumam Jeni mengambil hpnya hendak memesan taxi online, tapi sial nya hp nya malah mati.


"Shitt!" Umpatnya melirik pada Suga yang masih menungguinya di dalam mobil, dan masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Masuk!"


Dengan bersungut menahan kesal dan malu, Jeni akhirnya masuk kedalam mobil Suga. Duduk tepat di sampingnya.


"Kosan teratai jalan xxx nomor xxx." Jeni memberi tahukan alamat tempat tinggalnya bersama Lia.


Keduanya hanya diam-diam. Kenzo yang jadi supir pun tak mengatakan sepatah katapun.


Sampai di depan sebuah bangunan kosan. Suga melongok keluar melihat bangunan itu dengan seksama.


Jeni keluar dari mobil bosnya.

__ADS_1


"Kamu tinggal di sini?"


"Hmm... Terima kasih tumpangannya." Ketus Jenin mulai melangkah mendengar suara pintu mobil yang di tutup Jeni menoleh. Suga juga ikut keluar memandang bangunan kos didepannya.


"Kenapa keluar? Kau tidak mungkin ada urusan disini kan bos?" Cemooh Jeni, yang tentu udah tau, tempat itu adalah kelas yang berbeda dengan Suga. Tak mungkin pria kaya raya sepertinya punya urusan di tempat seperti ini.


Suga melangkahkan kakinya tanpa beban berjalan mendahului tanpa menjawab pertanyaan Jeni.


"Hei, kamu mau kemana?" Jeni berlarian menyusul.


"Aku sudah mengantarmu, setidaknya kamu harus memberiku makan atau secangkir kopi." Kata Suga berjalan semakin masuk kedalam kosan tanpa perduli dengan Jeni yang melongo karena terkejut.


Ia menoleh ke belakang, dimana Kenzo hanya bersandar paa badan mobil dan menyalakan rokok.


"Kenapa dengan bosmu itu?"


"Dia juga bos mu, kenapa tanya padaku?"


"Heeeiisss...." Jeni mendessah kesal mendapat jawaban yang menyebalkan dari asisten bosnya yang seenaknya.


Jeni berlarian mengejar Suga tanpa memperdulikan lagi Kenzo yang dia anggap sama menyebalkan nya dengan Suga.


"Hei, dimana kamar mu?"


"Kenapa bertanya kamarku?" Tanya Jeni memotong langkah Suga.


"Lalu? Kosan biasa di sebut apa? Rumah? Dimana rumahmu?"


Jeni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya tidak juga, hanya sepetak, jadi itu hanya kamar..." Kalimat Jeni mengambang, matanya melebar melihat Suga mengeluarkan saputangan yang lain dan meletakkannya diatas hendel pintu kamar orang lain. lalu menggenggam Handle berselimut kain putih itu.


"Kau! Jangan sembarangan."


"Ooohh, ini bukan kamar mu ya, "Suga melangkah lagi ke kamar berikutnya. Mengangkat tangannya hendak menyentuh hendel pintu kamar penghuni kos lain.


Jeni geram dan menarik tangan Suga menaiki tangga dimana ia dan Lia tinggal dalam satu kamar yang sama.


"Di sini kamarku" Jeni menunjuk pintu kamarnya.


"Oohh..." Suga melangkah hendak masuk namun tangannya di tahan oleh Jeni.


"Ada teman sekamarku disana. Jangan sembarang masuk." Ucap Jeni pelan.


"Kamu tinggal berdua? Seluas apa kamar kalian hingga bisa ditinggali berdua?" Tanya Suga penasaran. Ia melangkah lagi, hendak masuk. Namun cepat Jeni menariknya, disaat yang bersamaan pintu terbuka, Lia terkejut ada Jeni dan Suga di depan pintu.


Mata Lia terbuka lebar, dan mulutnya menganga.


"Apa dia pacar baru mu? Kau sudah berani membawanya pulang? Apa kamu tak memandangku sebagai teman sekamarmu?"


Jeni mendesis kesal, bahkan Lia pun sampai salah paham padanya.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2