
"Mama, Suga sudah menikah, dan menolakku." adu Mega pada sang mama melalui sambungan telpon.
("ya sudah kalau Suga sudah tak menginginkan mu, kenapa kamu tak dekati lagi saja V. Bukankan hubungan kalian cukup jauh waktu itu?") saran mama Mega.
"Yaahh, tapi, aku mencintai Suga." lirih Mega lesu.
("lalu? apa kamu berniat merebutnya?")
Mata Mega menajam.
"Bagaimana menurut mama?"
("Terserah, mama tetap mendukungmu.")
****
Di kediaman Suga.
Suga dan Jeni sedang bersiap untuk berangkat ke Macau. Tentu saja mama Susi pun ada di sana.
"Jangan lupa, oleh-oleh untuk kami." pesan V memeluk kakaknya.
"Jangan khawatir."
"Lia, sayang sekali kamu tidak ikut." dengan wajah cemberut menggenggam tangan Lia.
"Ada banyak hal yang harus kami lakukan. Lain waktu kami ikut jika liburan lagi." hibur Lia memeluk tubuh sahabat sekaligus iparnya.
"Ya sudah, kami pergi dulu."
__ADS_1
"V kapan resepsi pernikahan kalian akan di gelar?" tanya mama Susi
"Uuummm... Satu bulan lagi."
"Baiklah, setelah itu ingat untuk masuk lagi ke relay."
"Mama kenapa sih? nggak capek-capek nya, relay biar Suga yang pegang. Aku punya urusan sendiri." kilah V yang memang malas jika bekerja di kantor. Dia lebih suka freelance dan mengurus resto serta carwash nya.
"Kalau di sana gimana kamu bisa kasih makan Lia dan anakmu nanti?"
"Sayang, selama ini kamu makan nggak?" menatap Lia dengan sayang.
"Makan..." jawab Lia singkat.
"Mama dengar? Lia bilang makan. Berarti semua baik-baik saja." gumam V dengan senyum di wajahnya.
"Sudahlah ma, kami nyaman kok di sana. Benar kan sayang?"
Lia mengangguk.
"Atau, kamu mau rumah sebesar ini?" tanya V lembut mengedarkan mata berkeliling ruangan Utama.
"Tidak. Nanti aku tersesat. Rumah itu sudah sangat bagus."
"Mama dengar?"
mama Susi hanya mendessaaahh kesal. Ia bisa berbuat apa jika anak bungsunya mau seperti itu. Mama Susi hanya tak ingin, perbedaan antara Suga dan V terlalu besar. Apalagi, mereka bersaudara. Setidaknya, V bisa memiliki rumah sebesar milik Suga, atau paling tidak separuhnya saja. Tapi, ini bahkan seperempatnya saja tidak ada.
Tapi apapun, V dan Lia yang menjalani, mereka lah yang tau di mana kebahagiaan itu terletak. Entah di rumah besar, atau kecil. Semua sama saja asal bahagia.
__ADS_1
Seusai mengantar keluarga nya pergi, Lia dan V melanjutkan agenda untuk pembukaan cabang di dekat kampung Lia. Sejujur nya Lia sangat penasaran, kemana keluarganya pergi. kenapa bisa tanpa jejak?
***
Di waktu yang lain dan tempat yang lain.
Adrian membawa Farah ke tenda pembina. Di sana Farah mendapat perawatan dan kembali ke tendanya.
"Ayo, biar ku bantu kamu kembali ke tenda."
"Tidak apa kak, ada temanku kok." tolak Farah halus.
"Benarkah?"
"uummm...."
Walau masih ada sedikit khawatir dan cemas, Adrian membiarkan Farah pergi dengan di papah oleh teman wanitanya.
Beberapa hari kemudian, acara kemah pun berakhir. Dan semua kembali ke sekolah masing-masing.
Farah baru saja keluar dari gerbang sekolahnya. Ia terkejut melihat Adrian duduk di atas motor nomax -nya.
Pria tampan itu langsung tersenyum begitu melihat Farah keluar dari gerbang sekolah dan bertemu tatap.
"Bagaimana kaki mu?"
"Sudah, lebih baik." Jawab Farah mendekat. "Di mana rumah mu? biar ku antar."
Bersambung....
__ADS_1