Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 53


__ADS_3

Sudah hampir 8 bulan lamanya Jeni hamil. Perut nya kini makin tampak membesar. Rasa cinta Suga pun semakin besar seiring waktu. Begitupun dengan Jeni yang mulai terbiasa dengan sikap posesif dan cemburu an nya Suga.


"Honey, aku lapar." rengek Jeni mengelus perutnya yang buncit itu.


"oke, aku masakin dulu ya." ucap Sug bangkit dari pembaringannya. "Kamu tunggu sini aja, nanti aku antar. heem?"


"oke."


Suga berjalan dengan riang, sejak beberapa bulan yang lalu. Suga menemukan cara lain untuk menangani mual Jeni. Yaitu, dengan memakan masakannya.


Sehingga Suga selalu rutin memasak untuk Jeni. bahkan ketika dia pergi keluar kota pun, Suga sempatkan memasak sebelum berangkat. Kadang malah Jeni ikut serta.


Dengan riang, Suga mengeluarkan bahan-bahan untuk menu sepesial kali ini. Mencuci dan memotong sambil bersiul.


"Seneng banget?"


"kan udah ku bilang tunggu di sana. ngapain, ikut ke sini?"


"Baby nya pingin liat papa masak."


"Baby nya apa kamu yang tak mau jauh dariku?"


Jeni tersenyum lebar."Baby nya."


Jeni melihat aktifitas Suga memasak dengan memangku wajahnya.


"Kamu masak apa?"


"Tebak apa?"


Jeni melongokkan kepalanya."Nasgor?"


"Ini bukan nasgor biasa."


Jeni melihat lagi nasi goreng bikinan Suga.


"Sama aja kok."


"beda! ini nasgor seafood sepesial bikinan Chef Suga."


Suga meletakkan piring nasi goreng di depan Jeni duduk.


"Ayo makan."


Jeni tak bergerak, hanya menatap nasi goreng dan Suga bergantian.


"Kamu mau di suapi?"


"Bukan aku...."


"Oohh, baby nya ya yang mau?"


Jeni mengangguk dengan senyum lebar.


"Okey." Suga pun ikut duduk dan mengambil sesendok nasi, lalu mengangkatnya jauh.


"Kapal terbangnya mau masuk, ayoo buka mulutnya..."


Jeni membuka mulut nya. Wajahnya terlihat sangat senang.


"Nggengg.... pesawatnya mau lewat lagi...." suara Suga sambil menggoyangkan sendoknya selayaknya pesawat di udara.

__ADS_1


###


"Udah kenyang?"


Jeni mengangguk.


"Sekarang kamu mau apa?"


"MMM... sebenarnya aku kangen sama Lia."


"Kamu mau ketemu sama dia?"


"boleh kah?" Jeni memasang tampang memelas menatap suaminya dengan mata bulat yang menggemaskan.


"Boleh."


"Yeeeeyy...."


Suga tau, Jeni pasti kesepian karena sejak hamil enam bulan Suga sudah tak mengijinkan nya bekerja lagi. Terus berada di rumah menunggunya pulang pasti sangat lah membosankan. Walau Jeni tak merengek akan hal itu, Suga pun cukup tau.


"Panggil saja dia kemari. Jangan bertemu di jalan atau pun di tempat umum. Disana aku tak bisa mengawasi mu."


"Tapi, aku ingin sekali jalan-jalan sama Lia."


"Kamu lagi hamil. ingat itu!"


"Iya, kami akan baik-baik aja kok. Aku janji." Jeni menggunakan jurus memelas yang menggemaskan sekali lagi. Karena jurus itu selalu berhasil setiap kali membujuk Suga.


"Baiklah,"


Dan berhasil.


"Terima kasih sayang." Jeni memeluk tubuh suaminya. Suga membalas pelukan hangat, dan mengusap kepala Jeni.


Pagi ini, Jeni sudah menyusun rencana. Akan kemana saja dia dengan Lia besok. Karena Lia masih bekerja dan hanya libur di hari Sabtu-Minggu saja. Jadi, Jeni masih harus bersabar hingga hari itu tiba. Yang penting sudah dapat lampu hijau dari Suaminya.


Ring ring...


"halo?"


("Honey, tolong siapkan berkas yang ada di atas meja ruang kerja ku. Nanti akan ada yang datang mengambil.")


"Baiklah. Bagaimana kalau aku saja yang mengantar ke sana?"


("Mmmm.....") Suga seperti sedang berpikir.


"ya? ya? Rasa nya aku sudah lama sekali tidak ke sana"


("Baiklah, akan ku kirim kan supir untuk menjemputmu.")


Jeni tersenyum sumringah, akhirnya dia bisa keluar juga dari mansion Suga. Walau hanya ke Relay grup, itu sudah cukup untuk mengganti suasana. Apa lagi nanti nya ia bisa menemui Lia, sekedar ngobrol bersama itu sudah akan membuat nya senang.


Mobil jemputan sudah datang, Jeni segera mengambil tasnya dan berkas Suga yang terteringgal.


Jeni baru saja menapaki lobi Relay Grup. Ia sudah berpapasan dengan Yovie. Wanita itu kini sudah menjabat sebagai salah satu kepala bagian yang berposisi hampir sama dengan Lia. Tentu saja itu tak lepas dari pengaruh pak Bambang.


Suga sendiri tak mempermasalahkan dengan semua promosi jabatan yang pak Bambang rekomendasi kan untuk Yovie. Selama Yovie bekerja dengan baik. Lagi pula dia memang memiliki kemampuan, Yovie hanya bermasalah dengan perilaku nya yang binal.


"Hai, lama tidak bertemu Jeni," sapa Yovie sok ramah sambil melirik pada perut Jeni yang sudah membesar.


"Sepertinya, lama tidak bertemu, penampilanmu sudah berubah. Kau jadi gendut sekarang." dengan kekehan mengejek.

__ADS_1


"Benar, aku memang gendut sekarang, dan itu hanya di satu bagian. Tidak masalah buat ku karena aku punya suami. Berbeda dengan seseorang, karena terlalu binal." jawab Jeni yang di akhiri dengan senyum meremehkan.


Tangan Yovie mengepal.


Jeni melangkah pelan melewati Yovie dengan perutnya yang sudah buncit itu.


"sudah ya, aku masih harus mengantar berkas ini pada suamiku. Dia sudah menunggu wanita gendut ini."


###


"sial! sial!"


"Aku lebih cantik darinya, lebih seksi dari nya, kenapa tuan Suga sedikitpun tak pernah melirikku!"


"Sudah tidak ada Jeni di kantor pun, aku masih kesulitan! Apa lebihnya jeni? Aku bahkan bisa melakukannya lebih baik."


Yovie terus uring-uringan di ruang kerjanya. membanting beberapa barang hingga berserakan di lantai. Yovie yang masih di liputi oleh kemarahan itu mengusap kasar wajahnya.


"Aku tak boleh diam saja. Pasti akan ku dapatkan Tuan Suga."


Yovie mondar-mandir tak jelas di ruangannya.


"Tapi bagaimana caranya?"


Yovie menggigit i kuku jempolnya sembari terus berpikir.


"Baiklah, akan ku gunakan kesempatan metting dengan dengan klien untuk menjeratnya. Tapi, aku harus menyingkirkan situa Bangka Bambang dulu." gumam Yovie.


Di sisi lain,


Tok tok tok.


Suga menegakkan kepalanya, saat ia masih memeriksa beberapa berkas ditangannya. Pintu di buka, Jeni berdiri diambang pintu dengan perut buncitnya. Lalu berjalan seperti Badut dengan perut besar yang mengikuti langkah kakinya.


"Aawww... Dia seksi sekali." gumam Suga sembari berdiri dari duduknya. "Begini saja aku sudah berdiri."


"Kenapa wajahmu di tekuk begitu?"


"Aku bertemu dengan Yovie." jawab Jeni datar mengulurkan map biru yang dia bawa. Suga menerimanya dan memeriksa sebentar, hanya untuk memastikan barang yang di bawa Jeni sudah benar. Lalu meletakkannya di atas meja.


Jeni menduduki sofa tamu membelakangi Suga. Suga berjalan mendekat, duduk tepat di samping Jeni.


"Kenapa lagi? kalian bertengkar?"


"Tidak, bertemu dengan nya mood Ku langsung hilang." Jeni menyenderkan kepala nya di dada Suga."Aku ingin bertemu dengan Lia, malah dia yang ada."


"Jadi kamu tak mau bertemu denganku?"


"kita sudah bertemu setiap hari."


"Jadi kamu sudah bosan?"


Jeni mendongakkan kepalanya melihat wajah Suga, dengan bibir yang maju beberapa senti.


"Jangan seperti ini, ini membuatku gemas." Suga mencubit bibir monyong Jeni, lalu menggigit nya dengan gemas.


"Aaawww...."


Suga terkekeh, dan berakhir dengan lummaattan lembut di bibir istrinya....


bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2