
"Kau."
Suga tersenyum miring. Memandang Jenin yang masih melongo kaget didepannya. Menatap dengan mata yang melotot sempurna karena terkejut.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Bagaimana rasanya malam itu? Enak? Menyenangkan?" Suga tersenyum lebar dengan penuh percaya diri dan sombong."Apa kamu ketagihan dan mau lagi?"
Jeni menggeram.
"Apa kau kemari untuk memerasku?" Seketika senyum Suga sirna, sudut bibir yang semula terkembang, turun bagai dihempaskan paksa.
"Apa?" Suga menatap dengan pandangan tak terima."Apa maksudnya memeras?"
"Aku ini hanya pegawai rendah. Aku tak punya banyak uang. Aku sudah memberimu cukup uang. Apa itu masih kurang?"
Suga yang mendengar ucapan Jeni melebarkan matanya semakin tak percaya dengan pendengarannya.
Jeni celingukan, memastikan tak ada yang melihat dan mendengar apa yang mereka perbincangkan. Ia sangat kesal dengan pria didepannya kini, seorang gigolo yang berniat memerasnya, atau mungkin ingin menikmati tubuhnya lagi secara gratis. Iya, itu yang ada di dalam pikiran Jenin.
Jeni merogoh saku celananya. Mengeluarkan uang merah dan biru. Jika di hitung sekitar tiga ratus lima puluh ribu rupiah.
"Ini! Aku sudah tak punya uang lagi untuk membayar mu. Jangan datang menemui ku lagi." Sentak Jeni dengan mata melebar,"Kalau kau sampai memerasku lagi. Aku laporkan kamu ke polisi."
Jeni berbalik tanpa memperdulikan ekpreasi Suga yang melongo tak percaya sampai tak sanggup berkata-kata. Jeni menatap Kenzo yang menggulum bibir menahan tawa.
Jeni juga sebal pada pria utusan itu sebenarnya. Tapi, ia kasihan juga padanya. Ia mengeluarkan lagi uang lima puluh ribu, mengambil tangan Kenzo lalu meletakkan uang biru itu disana.
"Kau dibayar berapa sama dia. Jangan mau dijanjikan apapun." Bisik Jeni dengan mata menatap Kenzo prihatin dan kasihan.
Jeni menoleh pada Suga yang makin melebar mulut dan matanya, melihat tindakan Jeni yang di luar perkiraan dan nalarnya.
"Lain kali jangan gunakan temanmu." Jeni menatap sengit pada Suga. Ia menepuk lengan Kenzo yang mematung didepannya. Dan mengangguk-angguk prihatin sambil berjalan melewatinya.
"Kasihan sekali mereka. Tapi, tetap saja melakukan hal seperti ini tidak dibenarkan. Bagaimana bisa mereka bersekongkol untuk memerasku. Huuuhh.." Jeni bergumam pelan sambil berjalan menuju kamarnya.
Walau masih terasa lapar, ia juga enggak kembali ke meja tempat teman-teman nya makan. Selain tak ingin ditanyai macam-macam Jeni juga tak tahan dengan pandangan mata mereka yang menggoda setelah ia pergi dengan pria tampan. Padahal setau Jeni kedua orang itu adalah gigolo yang berniat memerasnya.
Kembali ke Suga. Ia berdiri menatap punggung Jeni masih dengan penuh keterkejutan, reaksi yang sangat di luar dugaannya.
"Bagaimana ada wanita sebodoh itu hidup dibumi dan bercinta denganku?"
Geram Suga menendang meja dan kursi yang ia duduki tadi. Ia kesal bukan main. Menyugar rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1
"Dia seorang yang murah hati tuan, saya bahkan mendapat tips." Kenzo menunjukkan uang lima puluh ribu ditangannya pemberian Jeni tadi. Tak lupa senyum yang mengembang di wajahnya.
"Apa dia buta? Apa dia tak bisa melihat baju yang ku kenakan? Berani sekali memberiku uang receh. LAGI!!"
Kenzo tersenyum lucu melihat tuannya yang uring-uringan. Memang ini pertama kalinya Suga di bayar, dianggap seorang gigolo ditambah penolakan yang bahkan membuat Suga tak bisa berkata-kata, karena sikap Jeni yang di luar nalar itu.
"Wanita bodoh itu, bawa wanita bodoh itu ke mansion utama malam ini."
Kenzo nyengir aneh, "Itu tidak mungkin, tuan."
Suga mendelik pada asistennya itu.
"Ada nyonya besar disana."
"Sialan! Mansion utama milik ku. Kau belum pernah di kubur hidup-hidup rupanya."
"Tempat itu terlalu jauh tuan, ditambah lagi, kali ini nona Jeni sedang melobi klien penting. Anda bisa rugi besar."
"Aaarrrgggg....."
Suga makin kesal di buatnya, terus menendang udara.
_____
"Dimana Suga?"
"Tuan muda pertama sedang keluar kota nyonya."
Susy menganggukkan kepalanya,
"Bagaimana dengan V?"
"Tuan muda kedua sudah sangat lama tidak kembali kerumah."
Susy menghela nafas sabarnya, "Haahh,, anak itu sebenernya maunya apa sih?"
"Apa sejak hari itu dia tak pernah kembali?"
"Tidak. Nyonya."
"Baiklah Jaehe. Kembalilah bekerja." Titah Susy sembari berlalu memasuki kamarnya.
Susy merebahkan dirinya diranjang kamarnya.
__ADS_1
"Punya anak dua saja, tak ada yang bisa diharapkan. Yang satu sudah berumur tapi tak juga mau menikah. Yang satu lagi, malah hobi kelayapan tak tentu kemana. Benar-benar menyusahkan. Kapan mereka akan sadar jika ibunya ini sudah tua." Gumamnya menghela nafas berat.
Susy mengambil hp yang dia simpan di tas, lalu menghubungi seseorang."Beri aku laporan segera."
("Ini tentang siapa nyonya?") Suara di seberang sana.
"Anakku. Siapa lagi?"
("Keduanya?")
"Hemmm.."
("Baik. Beri saya waktu sepuluh menit.")
Susy menutup panggilan lalu ia meletakkan hpnya diatas pembaringan begitu saja. Susy berjalan memasuki kamar mandi yang luas. "Relaxasi dululah. Berendam dalam air hangat cukup membuat tenang dari memikirkan anak-anak tak berakhlak yang tega meninggalkan ibunya sendiri dirumah." Gumam Susy sembari melepas pakaiannya dan berendam di dalam bathtub.
###
Hari berlalu, siang ini Jeni membawa berkas laporan yang dibutuhkan kedalam tasnya. Jeni yang berjalan sendirian sehabis meting dengan salah satu kliennya, mengapit tas totebagnya di bahu. Siang ini begitu terik, Jeni merasa cukup kepanasan. Ia pun memutuskan untuk mempir sebentar di penjual cendol dawet pinggir jalan. Setelah menerima es yang dia pesan da membayar, Jeni menyimpan kembali dompetnya kedalam tas totenya.
Saat asik menikmati es cendol dawet Jeni merasakan tasnya disaut oleh seseorang hingga ia terguling dan jatuh. Ia terkejut, melihat seorang dengan sepeda motor membawa tasnya. Jeni mendelik.
'Berkas penting ada disana.' pikir Jeni berusaha bangkit dengan cepat tanpa perduli dengan lukanya.
"Jambret! Tolong! Tasku dijambret oleh motor xxxx " seru Jeni menyebut jenis motor dan plat nomor yang sempat ia lihat sambil menunjuk motor yang sudah berlalu.
Tentu saja teriakan Jeni membuat ia dikerubungi oleh beberapa orang yang melintas, ada yang langsung mengejar, ada juga yang menuntun Jeni lebih menjauhi jalanan yang cukup ramai.
"Tenang mbak, udah ada yang mengejar tadi. Moga barangnya bisa didapat lagi." Ujar salah satu orang yang menolongnya.
"Mbak nya lecet, ini ada betadin. Diobati dulu lukanya." Ujar yang lain.
Dengan wajah khawatir dan cemas, Jeni masih memandang arah motor jambret itu menghilang. Namun ia berusaha tenang, mengobati lukanya. Sampai ada sebuah motor bebek yang berhenti tak jauh darinya.
"Mbak, ini tas yang dijambret bukan?" Tanya orang yang baru saja turun dari motor bebek itu, menunjukan tas milik Jeni.
Wajah Jeni berbinar, "benar, syukurlah, makasih ya mas..." Ucap Jeni sembari menatap pria yang membawa tas nya.
Ia tertegun, pria itu tersenyum padanya menampakkan giginya yang putih bersih....
(Heemm, siapa ya pria itu?)
Bersambung...
__ADS_1