Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 12


__ADS_3

"Nona Jenin, datang ke ruangan saya."


Tubuh Jeni terduduk lemas, setelah ia cukup kaget dan terkejut mendapati Suga, pria yang dia anggap sebagai gigolo itu ternyata adalah bosnya sendiri.


Selama meting berlangsung, Jeni terus meruntuki dirinya sendiri, mencoba setenang mungkin saat presentasi walau ia sangat gugup dan tidak karuan. Orang yang ia sangka seorang gigolo ternyata bosnya sendiri. Yang kini duduk dihadapannya, memperhatikan dengan mata tajam.


Hingga meting usai, ia pikir telah lolos begitu saja. Namun nyatanya tidak. Ia tetap di panggil ke ruangan pria yang sudah menghabiskan waktu satu malam dengannya.


Jeni terus menjedotkan kepala nya di pembatas lift saat ia hendak menghadap Suga di ruangannya.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Gumam Jeni meruntuk."Kenapa sial ku beruntun seperti ini. Kupikir aku sudah bisa memulai hidup baru setelah terlepas dari benalu Varrel. Nyatanya kini aku malah harus berhadapan dengan bos yang ku sangka gigolo."


Jeni mengingat-ingat lagi saat bertemu dengan Suga. Saat memberi Suga uang, beserta kata-kata yang dia lontarkan.


"Aaahhhh.... Ya ampun..." Jeni semakin lemas menyenderkan tubuhnya di pembatas lift yang bergerak semakin keatas itu.


Jeni menghela nafasnya. Ia ingat lagi malam dimana dia dan bosnya itu menghabiskan malam yang panjang dan panas itu.


"Ya Tuhan..." Dessaahh Jeni makin lemas, engsel kakinya serasa lepas semua. Sampai ia terduduk lemah."Kenapa aku se-sial ini."


Jeni terus bergumam-gumam tak jelas. Yang masih hanya seputar kesialan dan semua yang telah terjadi antara dia dan Suga.


Pintu lift terbuka. Dengan langkah berat Jenin berjalan keluar lift. Wajah nya tampak sangat lusuh dan kuyu. Saat ia sudah mencapai ruangan dimana disana ada banyak sekertaris Suga yang sedang sibuk bekerja di meja masing-masing.


"Bagaimana caraku kabur?" Gumam nya pelan.


"Aku tak ada hasrat sedikitpun untuk bertemu dengannya. Aku tak punya muka."


Jeni menggeleng dengan frustasi memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Maaf, Ada perlu apa kemari?" Tanya salah satu sekertaris wanita dari balik meja nya. Menatap tajam pada Jeni yang jelas tampak kebingungan dan gelisah itu.


"Aku mau bertemu dengan nya." Dengan lemas Jeni menunjuk ruangan Suga tentu saja dengan rambut yang acak-acakan karena sedari tadi Jeni terus mengacaknya karena sangat frustasi.


Bayangkan saja, seorang yang ia sangka gigolo dan telah menghabiskan satu malam dengan nya. Masih ditambah dengan makian yang Jeni lontarkan. Dan ternyata dia adalah bosnya sendiri. Yang kini memanggilnya untuk datang keruangan pribadi sang bos.


Sekertaris wanita bername tag Lusy itu memandang Jeni dari atas sampai bawah dengan pandangan aneh. Mungkin saja ia berfikir Jeni gila.


"Maaf, saat ini tuan Suga...."


"Aahh, dia tidak ada ya.. oke. Aku akan kemari lain kali." Potong Jeni cepat membalikkan badannya.


Ia terlonjak seketika mendapati Kenzo yang sedari tadi ada di belakangnya dengan kini tersenyum lebar melihat wajah Jeni yang berantakan dan sangat terkejut itu.


"Apa aku mengagetkan mu manager Jeni?" Gumam Kenzo dengan senyum yang lebih terkesan meledek itu.


"Ha-ha-ha, sepertinya, tuan CEO Suga sedang Tidak ada di Ruangan nya. Saya akan kembali keruangan saya dan datang lagi nanti. " pamit Jeni dengan sangat kikuk dan aneh karena tak ingin bertemu lebih lama lagi dengan dua orang yang saat ini sangat ingin dia hindari.


Dengan langkah yang lebar Jeni ingin segera kabur. Namun kerah belakangnya di cengkram oleh Kenzo dengan sangat kuat.


"Kenapa sangat terburu-buru, manager Jeni? Tuan Suga sudah menunggu anda diruang nya sampai rela menunda banyak meting dan pekerjaan penting." Tentu saja senyum terulas di wajah Kenzo walau sangat jelas nada bicaranya yang terdengar jengkel.


Kenzo terus menarik Jeni mendekat ke pintu ruangan Suga.


"Oohh Tuhan! Selamatkan aku!" Jerit batin Jeni dengan muka memelas pasrah ditarik kerah baju belakangnya oleh Kenzo. Meminta di selamatkan dari situasi ini.


Begitu pintu di buka, Kenzo melepas cengkeramannya dan mempersilahkan Jeni masuk dengan sangat sopan, tentu saja senyum itu masih terkembang di wajah Kenzo. Walau terkesan dipaksa.


Jeni berdiri menghadap bosnya dengan sangat cangung.

__ADS_1


"Tenanglah Jenin, aku yakin dia orang yang profesional, tidak mungkin akan Membahas hal pribadi di kantor. Jadi, harusnya ini tentang pekerjaan." Batin jeni mencoba tenang."Tapi ini juga mengkhawatirkan, bagaimana jika dia malah memecatmu? Oohh, Tuhan."


Cukup lama ketiga orang itu dalam keheningan.


'Dia yang memanggilku, kenapa dia malah diam? Apa tujuannya memanggilku jika hanya diam begini? Apa aku dipanggil hanya untuk jadi pajangan?' batin Jeni.


'Apa yang harus aku katakan? Kenapa dia tak bereaksi sama sekali. Aku ini bosnya. Dan dia menganggap ku gigolo. Dan ia hanya diam saja? Tak mengatakan apapun? Apa maunya? Apa aku yang harus menuntunnya untuk minta maaf? Apa sedikit pun dia tak ada inisiatif untuk bersuara?' dalam pikiran Suga.


'Apa ini? Kenapa semua nya malah diam?' batin Kenzo heran dengan bosnya yang masih terdiam dengan tatapan tajam pada Jeni. Dan gadis disampingnya yang juga diam tanpa kata.


'Aaarrgggg.... Sepertinya memang harus aku yang membuat suara jika begini.' dalam pikiran Kenzo dengan sedikit geram.


"Tuan Suga, manager Jeni sudah ada disini." Suara Kenzo menyadarkan kedua nya dalam pikiran masing-masing.


"Aku tau. Apa kau pikir aku buta?"


'Kalau benar begitu katakan sesuatu, bukannya malah diam?' tentu saja ini hanya ada didalam pikiran Kenzo.


"Keluarlah."


'keluar? Jadi hanya begini saja? Huuff, aku udah deg-degan.' dalam pikiran Jeni.


Jeni berbalik bersamaan dengan Kenzo.


"Hei! Wanita! Bukan kau! Tapi Kenzo!" Seru Suga yang terkejut melihat Jeni juga ikut berbalik dan melangkah.


Deg!


'Bagaimana sih otak wanita ini bekerja?' gerutu Suga dalam batinnya.

__ADS_1


"Haiissshhh..." Dalam hati Jeni kesal bukan main, dipikirnya ia lepas dari bos nya.


Bersambung...


__ADS_2