Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 58


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar di sebuah ruang VVIP. Suara tawa dan riuh suka cita menyertainya.


"Dia mirip sekali dengan papanya." Mami Susy menimang bayi lelaki yang bahkan belum di beri nama itu.


"Aahh, benar, sangat tampan." puji Mama Diana mencubit gemas pipi gembul cucunya."Jen, apa kamu sudah memberi dia nama?"


"Belum." ucap Jeni lemah, ia baru beberapa jam yang lalu tersadar dari biusnya.


"Bagaimana kalau mama saja yang kasih nama?" tawar mama Diana.


"Hei, apa dia ini anakmu? Kenapa jadi kamu yang kasih nama? Biarkan orang tua nya saja yang buat." tukas Mami Susi karena dia pun sebenarnya juga ingin ikut andil memberi nama. Tapi gengsi juga jika berebut dengan besannya.


"Mereka kan memang sudah buat." dengus mama Diana cemberut, lalu kembali tersenyum melihat cucu pertama.


"Mamy, papa, mama, biarkan Jeni istirahat dulu. Dia baru saja tersadar dari biusnya. Jangan terlalu membebani."


"Ya ya, kami tau. Kami akan pulang." tukas mamy Susi meletakkan sang baby di box nya.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya papa Roman berdiri mendekat ke brangkar, dimana Jeni tengah terbaring lemas.


"Kenzo yang bereskan."


"Cepatlah membaik Jeni." papa Roman menatap lembut anak gadisnya. Yang diangguki oleh Jeni.


"Baiklah,papa dan mama pulang dulu." pamit mama Diana memeluk lengan Suaminya."cepat sehat dan kembali kerumah."


"Um.." angguk Jeni pelan."Hati-hati di jalan."


Setelah memeluk menantu nya, Papa Roman berjalan keluar kamar rawat Jeni di susul mama Diana.


"Mamy juga mau pulang." pamit mamy Susi mengambil tas bahunya. "Ayo V."


"Kak, pulang dulu ya, aku harus mengawal ratu kita pulang." V mengerling nakal pada Jeni dan Suga.


"Hati-hati. Jangan keganjenan, nanti kecantol sama wanita jadi-jadian."


V mengulas senyum tanpa membalas ledekan kakaknya.


Di lorong rumah sakit, mama dan V berjalan beriringan.


"V, berhubung Suga sudah menikah dan sudah memiliki cucu."


"Aku tidak tertarik." potong V cepat yang cukup tau kemana arah pembicaraan mamy nya.


"Hei, aku bahkan belum mengatakan apapun."


"Mamy sudah berkata barusan."


"Maksudku, mamy belum sampai ke intinya."


"Aku tidak tertarik sampai kesana." V mengorek telinganya acuh


"V!"


"Apa mamy, tidak perlu berteriak-teriak."


Mamy Susy mengatur nafasnya yang sudah emosi itu. "Anak teman mamy, namanya Alisa. Dia cukup kompeten, aku yakin kau juga akan suka."


Mamy Susi menunjukkan selembar foto pada V.


"Tidak."

__ADS_1


Mamy Susi meremas baju yang dia pakai. Wajah kesal nya berangsur memudar demi bisa membujuk bungsunya untuk menikah.


"Dengar Vi, mamy mau kamu juga menikah, kamu sudah cukup lama melajang, bahkan minggat dari rumah, mamy tidak mempermasalahkan. Tapi, kali ini kamu harus mau."


"Tidak."


"Hanya bertemu, Temui dia dan berkenalan. Setelahnya terserah pada kalian mau bagaimana. Huumm?"


V menghela nafasnya, "Baiklah, hanya bertemu dan berkenalan kan?"


"Yaa, simpan foto ini dan kamu boleh memandanginya sepanjang malam."


Mamy Susy meletakkan foto itu di atas tangan V, dengan senyum menang. Vi hanya meliriknya sekilas, mendekatkan jari tangan nya di dagu sembari berpikir.


'Apa rencana ku untuk menyingkirkan nya?'


###


"Wah, dia tampan sekali." puji Lia dengan wajah senang menatap bayi yang sedang di gendongnya.


"Siapa namanya Jen?"


"Aku belum memberinya nama."


"Cepatlah beri nama, aku tak mungkin terus memanggilnya gembul kan?" Lia makin gemas pada bayi laki-laki yang menggemaskan itu.


"Jeni, maafkan aku karena pergi bersamaku ke mal kamu jadi jatuh."


"Kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri? Ini murni kesalahan ku sendiri.Aku yang kurang hati-hati dan tak bisa menjaga keseimbangan." ucap Jeni menyayangkan sikap dan ucapan Lia.


"Tapi, aku merasa bersalah."


"Kamu lihat kan kami baik-baik saja. Sudahlah."


"Bagaimana dengan dua bodyguard mu itu?" Lia ingat Suga sangat marah karena mereka di nilai lalai waktu itu.


"MMM... Suga sangat berterima kasih pada paman karena berkorban untukku tanpa memperdulikan tubuhnya sendiri. Tentu saja dia mendapatkan bonus." jelas Jeni


"Syukurlah."


"Heemm. aku menceritakan semua nya padanya. Juga aku sempat di interogasi polisi gara-gara itu."


"Benarkah?"


"Heemmm... Tapi semuanya sudah teratasi sekarang. tidak perlu khawatir."


"Kamu beruntung sekali memiliki tuan Suga." Lia mengemasi pipi anak Jeni mencium berkali-kali pipinya yang tembem itu. Bocah yang belum genap satu bulan itu menggeliat seoalh terganggu.


"Ya ampun, anakmu ini menggemaskan sekali."


"Lia, kamu sudah melupakan Yongki kan?"


"Kenapa membahas yongki? Pria penghianat tak perlu di sebut lagi."


"Aahh benar, bagaiman kalau kamu mulai mencoba hubungan yang baru?" tawar Jeni yang berniat menjodohkan adik Suga dengan Lia."MMM,, sebenarnya Suga memiliki..."


TOK TOK TOK


Suara pintu di ketuk memaksa Jeni menghentikan pembicaraannya.


"Sepertinya kamu punya tamu, aku pergi dulu saja."pamit Lia meletakkan baby Jeni ke box nya.

__ADS_1


"Kenapa cepat sekali?" Jeni bermuka sedih.


"Lain kali aku akan main lagi. Saat itu Baby Mu harus sudah punya nama. okey?"


"Baiklah."


Jeni dan Lia bercipika-cipiki.


"Aku pulang dulu ya." pamit Lia berbalik hendak keluar. Ia justru terkejut melihat V ada di dalam ruangan Jeni, sepetinya dia lah tadi yang mengetuk pintu.


Vi juga terlihat terkejut melihat Lia ada di sana, walau ia sudah tau jika Lia dan Jeni berteman. Tapi di pertemukan dalam situasi ini sangatlah tidak tepat.


"OOO, Vi?"


"Aahh, Hay."


Jeni yang melihat dua orang terdekatnya itu saling sapa dan terlihat kikuk mengerutkan keningnya.


"Kalian udah saling kenal."


Lia menoleh, "Iya, apa dia...."


"Aahh, baguslah kalau begitu,jadi akan mudah, dia ini...." ucap Jeni bersemangat.


"A- aku salah satu sopir suaminya Jeni."potong V cepat.


Jeni terdiam melongo. bertanya-tanya kenapa V justru memperkenalkan diri sebagai sopir pribadi.


"Aahh, pantas saja. dulu aku pernah melihat mu pesta pernikahan Jeni. Ternyata kamu supirnya. Aku hanya belum sempat menanyakannya padamu Jeni. Aku lupa. hahaha..."


Jeni ikut tertawa dengan sangat canggung.


"Kalau begitu kamu kemari apa untuk menjemput Jeni?" tanya Lia pada V.


"Uumm tidak, aku hanya mengantar pesanan saja." Vi menunjukkan beberapa kantong di tangannya.


"Oohh begitu." Lia mengangguk-anggukkan kepalanya."Kalau begitu aku pulang dulu"


"Okey, hati-hati di jalan."


Lia pun berlalu tak terlihat di kamar Jeni.


"Hey, apa kau mau menjelaskan sesuatu padaku?" Jeni menatap V yang masih memandang pintu yang baru saja menutup itu.


"Ummm... Bisakah kamu membantu ku Jeni? Jangan katakan siapa aku sebenarnya. Anggap saja aku seperti saat kita bertemu dulu."


Jeni menghela nafasnya."Terserah kamu saja."


"Kalau begitu, aku pulang dulu." pamit V, "Istirahat lah." sambung nya mengedipkan sebelah matanya.


Jeni memandang punggung V yang semakin mendekati pintu keluar.


"V!"


V menoleh,


"Jangan sakiti Lia."


Tanpa menjawab, V hanya melempar senyumnya dan menghilang di balik pintu.


"Ya ampun senyum V tetap saja membuat dada berdebar. Dia tampan sekali."

__ADS_1


"Apa lebih tampan dariku?" suara Suga di ambang pintu.


Bersambung ..


__ADS_2