
"Apa kamu mencintainya?" lontar V dengan hati-hati namun penuh harap.
Jeni tak mampu berkata, ia memang merasa jika V sudah memiliki rasa dengan nya. Dan kini ia melihat pancaran itu lagi di mata V .
"V... aku...."
"EHEMM..."
suara deheman dari belakang terdengar, Jeni dan V sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
"Ini sudah larut kenapa Mash di luar, istriku?" Suga berjalan mendekat, masih segar di ingatannya, sedekat apa dulu V dan Mega hingga tercipta hubungan kedua nya padahal saat itu Mega masih berpacaran dengan Suga.
"Aku hanya cari angin."
"Jangan kelamaan, nanti masuk angin." Suga meraih pinggang Jeni mendekat ke tubuh nya dan mengecup ringan pipi wanita yang sedang hamil muda itu.
"Ayo masuk." ajaknya dengan tangan yang menyentuh perut Jeni.
Jeni bernafas berat, ia tau anak dalam kandungannya lah yang Suga khawatirkan. Ada rasa tak mengenakkan yang hinggap di hatinya. Jeni memaksakan senyuman dan berjalan lebih dulu setelah berpamitan pada V.
"Aku ke kamar dulu." pamit Jeni melambaikan tangannya.
V yang merasa cukup canggung itu hanya melempar senyum dan ikut melambaikan tangannya.
Sedangkan Suga terlihat menetralkan perasaan tidak sukanya pada sang adik.
"Tidurlah. ini sudah malam. Jangan keseringan begadang." lontar Suga menepuk lengan V.
Malam itu, walau tidak suka Jeni tetap tidur satu kamar dengan suaminya. Jeni yang tengah duduk di bibir ranjang menatap sinis pada Suga.
"Apa? Apa maksud tatapan mu itu pada ku?"
"Apa maksudmu bersikap seperti itu di depan V?"
"Di depan V? Jadi kamu keberatan?"
"Heemmm.... tentu saja.. V itu teman baikku." ujar Jeni dengan nada tak suka.
Suga tertawa jengkel."Dan aku suamimu!" menunjuk muka Jeni.
"Dalam kesepakatan! Ingat itu, kita menikah karena kesepakatan, kau demi relay, dan aku demi bayi ini!"
Di luar kamar Kedua nya yang sedikit terbuka, tangan V yang siap mengetuk terhenti. Awalnya dia hanya ingin meminta maaf pada Suga namun, ia justru mendengar pembicaraan yang tak seharusnya ia dengar.
Ucapan yang ia dengar dari suara Jeni itu, membuatnya mengurungkan niat dan memilih pergi. Ada rasa lega dan bahagia menelusup di dada V. Seperti dugaannya, mereka menikah bukan karena cinta, tapi kesepakatan. Itu artinya ia masih memiliki kesempatan.
__ADS_1
"Bayi? Bayi ini? Apa Jeni sedang hamil? Anak siapa itu?" gumam V mencoba mencerna lagi apa yang Jeni lontarkan."Apa itu milik Suga? Kenapa?"
"Aku tau Suga sangat berhati-hati, tidak mungkin dia sampai seceroboh itu melepas kecebong nya."
Otak V mulai menduga-duga, "Jeni bukan wanita seperti itu."
_____
Keesokan pagi nya setelah pertengkaran semalam, Jeni dan Suga tetap bersikap manis di depan mamy Susi. Jeni dengan telaten mengambilkan sarapan untuk Suga.
Ia mengisi seentong nasi, lalu mengambil sayur dan lauk. Jeni meletakkan piring itu di depan Suga duduk. Dengan mata mendelik melihat isi piringnya, Suga melayangkan tatapan protes pada Jeni yang mulai sibuk mengisi piring jatahnya sendiri.
"Apa ini sayang?" protes Suga dengan nada suara yang di lembutkan.
"Bagaimana matamu melihatnya sayang? Itu nasi." tukas Jeni dengan senyum yang di paksakan seramah mungkin.
Suga menunjuk potongan jagung dan kacang di piring nya.
"Oohh,, iya kamu mau tambah kacang kapri nya ya?" tanya Jeni dengan wajah yang di buat sepolos mungkin.
mami Susi menatap Suga dan Jeni bergantian.
"Mama tidak tau, sekarang kamu sudah suka dengan kacang kapri ya?" lontar mami Susy dengan wajah yang sedikit terkejut.
Dengan sangat terpaksa Suga memakan kacang kapri dan biji jagung yang sangat tidak dia sukai.
"Wah, Suga, sepertinya kamu memang sudah berubah banyak. Terimakasih Jeni." ucap mamy Susi menatap Jeni penuh syukur."Biasanya dia selalu menyisihkan biji-bijian dari piringnya."
'Sekarang pun masih begitu' pikir Suga mengunyah kasar kacang di mulut nya.
Seusai sarapan Jeni bersiap berangkat ke kantor bersama Suga. Suaminya itu masih harus ke kamar mengambil tas dan beberapa barang nya. sedangkan Jeni menunggui nya di depan pintu utama.
"Lama banget sih, Suga." gumam Jeni melihat jam di lengannya.
"Kenapa?" V menghentikan motornya di depan Jeni yang berdiri dengan gelisah.
"Kamu mau pergi?" Jeni memindai V yang duduk di jog motor menatapnya.
"Hemm.... Nunggu kak Suga?" angguk V sembari melongok bagian belakang Jeni yang tak ada siapapun.
"Iya, udah jam segini, ngapain sih dia." gumam Jeni, walau di tempat kerja juga dia tak melakukan apapun. Tapi karena terbiasa berangkat tepat waktu membuat Jeni gelisah jika jam segini masih belum juga berada di tempat kerjanya.
"Mau nebeng?" tawar V
"Nggak usah V, lagian carwash mu berlawanan arah dengan Relay."
__ADS_1
"yah, anggap aja aku lagi narik costumer."
Jeni tertewa kecil. "Tidak usah, terima kasih."
"Sayang, ayoo! kita sudah terlambat!" kata Suga keluar dari pintu utama dan langsung berjalan cepat ke parkiran mobil nya.
"Aku duluan ya." pamit Jeni menyusul suaminya.
"Okey." jawab V dengan pandangan yang masih mengikuti Jeni hingga gadis itu menghilang di balik mobil kakaknya.
Di dalam mobil Suga.
"Apa yang kalian obrolkan selagi aku tak ada?"
"Bukan hal penting." jawab Jeni malas.
Sesampainya di kantor. Jeni dengan malas mengikuti Suga ke ruangannya.
"Tak bisakah kamu memberi ku pekerjaan? Rasanya aku hanya makan gaji buta saja." pinta Jeni begitu masuk ke ruangan Suga dan duduk di meja kerjanya.
"Baiklah. Aku beri kamu pekerjaan untuk hari ini." jawab Suga duduk dan memeriksa email yang masuk di komputernya.
"Benarkah?" Jeni bersemangat.
"Heemm..." angguk Suga tanpa memalingkan wajahnya, ia hanya melirik melalui ekor matanya. Melihat Jeni yang mulai berdiri dari kursi nyaman yang empuk itu.
"Tetap duduk di situ."
Jeni mengurungkan niat untuk berdiri dan mendudukkan bokongnya lagi ke kursi yang empuk dan nyaman, menatap Suga dengan tanya.
"Dan lihat kemari."
Jeni melakukan sesuai instruksi Suga. Duduk di tempat dan hanya melihat ke arah Suga. Lima belas menit berlalu, Jeni masih dengan sabar menunggu pekerjaan yang Suga janjikan. Namun pria itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
"Sebenarnya, kapan kamu akan memberiku pekerjaan?" tanya Jeni yang akhirnya tak tahan untuk bertanya.
"Sudah kan?"
"Haahh??" Jeni terlihat sangat bingung.
"Pekerjaan mu melihatku bekerja. hahahaha...."
Bersambung....
Bersambung...
__ADS_1