
Dua bulan sudah, Lia dan V berpacaran. Saat ini Vi berniat untuk melamar Lia. Hanya, ia masih bingung akan melakukannya dengan cara apa. Vi ingin sesuatu yang romantis, tapi tetap tak memunculkan jati diri. Vi ingin, menunjukkan siapa diri nya ketika mereka sudah menikah nanti.
Vi ingin memberikan sebuah rumah termegah sebagai kado pernikahan nanti nya.
"Apa yang kamu lamunkan Vi?" Mama Susy duduk tak jauh dari anak lelakinya,
"Ma, bagaimana menurutmu? Aku ingin melamar Lia."
"Bagus, kapan? Besok?" berondong mama Susy bersemangat, akhirnya setelah cukup lama menunggu akhirnya Vi mau melamar juga.
"Bukan besok mama."
"Hal yang baik, jangan di tunda-tunda Vi, lagian mama lihat Lia juga sudah sayang banget sama kamu."
"Mama tau dari mana? Mama sudah menemui Lia?" Vi tampak sangat terkejut,"Apa mama mematai-matai kami?"
Kini Vi menghadap mamanya merasa telah di curangi oleh mamanya.
"UMM.. Tidak..." gumam mama Susy gugup mengalihkan pandangan matanya liar."Mama mengumpulkan, iya, mama hanya menyimpulkannya dari ceritamu." sambung mama Susi lagi berhasil mendapatkan alasan yang cukup masuk akal.
"Benarkah?"
"Uummm,, iyaaa... Mama ingat tadi sedang masak... Aduuhh nanti gosong." Mamaa Susy bergegas bangkit dan pergi dengan di ikuti tatapan curiga dari Vi.
"Hei, aku dengar, ada yang mau melamar."
Vi menoleh ke arah sumber suara yang tentu milik Jeni yang malam itu sedang menginap di rumah mama Susi. Ada Suga juga di sana, mengikuti dari belakang dengan menggendong Gani.
"Apa rencana mu?" Jeni duduk di kursi sofa single di samping tempat V duduk. Tak jauh darinya Suga memangku Gani.
"Aku ingin sebuah lamaran romantis, tapi tidak terkesan mewah. Kamu mengerti maksudku?"
"Jadi kamu belum mengungkap identitas mu?"
V menggeleng,
"Aku akan melakukannya nanti jika kami sudah menikah."
"Sebenarnya untuk apa kamu merahasiakan nya lama-lama? Lia bukan gadis mata duitan. Hanya... orang tuanya itu, benar-benar toxic." Ucap Jeni agak ragu.
"Kamu tau keluarga nya?"
Jeni terdiam sesaat seolah ragu untuk mengucapkannya.
"Yang aku tau, Lia butuh sandaran, butuh seseorang untuk membawanya pergi dari keluarga nya. Terlepas dari semua jeratan dan tututan mereka. Walau Lia terlihat kuat dan tak butuh siapa pun. Tapi..."Jeni menjeda ucapannya, "Tolong jangan sakiti dia V, Dia terlalu banyak menanggung semua nya sendiri."
###
__ADS_1
"Halo?"
("Lia... Kamu sedang apa nak?")
"Mm... Makan buk, kenapa?"
("Makan? Wah, enak ya kamu bisa makan enak, sementara kami di sini kesusahan.")
Lia terdiam dengan kalimat sindiran ibunya, melihat lagi piring di depan hanya berisi nasi dan ikan asin yang di masak pedas. Apa tidak cukup pengorbanan yang sudah dia lakukan untuk keluarga nya sampai harus mendengar kata-kata menyakitkan itu? Haruskah dia makan batu agar terlihat susah?
"Ada apa ibuk menelpon?"
("Ibuk hanya mau nanya kabar aja, Lia.")
"Lia baik dan sehat buk."
("Yaahh, tentu saja sehat, kamu di sana makmur. Nggak mikirin bapak sama ibuk.")
Lia mengurut dadanya, perih hati ini, ibunya sampai hati berkata seperti itu.
"Buk Lia mau lanjutin makan." ucap Lia, pembicaraan yang hanya akan semakin menyakiti hati nya sebaik nya segera di putus saja, demi kesehatan jiwa.
("Tunggu Li, Ibuk sama bapak lagi butuh duwit, kamu kirimin 10juta ya.")
"Apa buk? 10juta? Kemarin Lia kan habis kirim ke ibuk."
("Itu sudah habis Lia, kamu pikir uang tujuh juta itu banyak? coba kamu pulang, lihat tv rumah sudah tergadai, motor pun sudah bablas.")
"Memangnya ke mana semua uang-uang itu buk? ke mana uang yang Lia kirim? dan kenapa sampai barang-barang tergadai?"
("Ini semua salah kamu Lia, karena kamu tidak mau membantu Lisna kemarin, Ibuk terpaksa hutang sama rentenir.")
Lia makin terkejut mendengar penuturan sang ibu.
"Rentenir?"
("Jadi, ibuk minta kamu untuk kirim uang, 10juta buat bayar hutang. Lusa harus sudah ada.")
"Bukk!!!"
Tututuuutt....
Lia mengusap wajah dan menyembunyikan nya di sana. Ingin rasanya menangis, kenapa dia bisa memiliki ibu yang begitu menuntut nya seprti ini, selalu membuat masalah tanpa memikirkan bagaimana nantinya.
Tiba-tiba kepala Lia serasa sakit berdenyut. Uang 10juta dalam dua hari, dari mana dia bisa mendapatkannya? Apa lagi ia dengar ibunya sampai hutang rentenir, tentu saja tidak bisa main-main.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku lelah sekali, aku ingin bisa Bernafas sebentar saja. Kapan ini akan berakhir?"
__ADS_1
Lia merasa sangat putus asa, ia ingin berteriak yang kencang membuang semua beban bersama suaranya hingga serak. Tapi ke mana?
Tok tok tok.
Pintu kamar kos nya yang memang sudah terbuka itu di ketuk. Lia mendongak melihat V berdiri di depan pintu dengan senyum lebarnya. Rasa sesak di dada nya kian bertambah. Pria tampan yang sangat baik pada nya itu, mungkinkah mereka akan memiliki harapan? Atau harus terpisah karena pertentangan?
"Udah makan ya? Mau ku ajakin makan di luar padahal."
"Ummm... iya," Lia mengalihkan pandangan matanya.
"Ada apa? kenapa wajahmu begitu?" V duduk lesehan di ambang pintu menatap wajah Lia yang kusut dan penuh beban.
'Aku nggak mungkin nyritaan ini sana V, baru satu setengah bulan kami pacaran. Mungkin saja dia akan langsung meninggalkan ku jika tau keadaan hidupku yang selalu di jerat oleh rantai yang tak terlihat ini.' pikir Lia.
"Hei! kok malah melamun."
"Vi,"
"Huuummm?"
"Aku ingin berteriak dengan bebas tanpa ada yang terganggu..."
"Aku tau tempatnya." potong V dengan senyum lebar di wajahnya."Bangun! aku ajak kamu ke sana."
Beberapa menit kemudian.
"Ka-karaoke?"
"UMM,, ini tempat yang pertama," ucap V mendorong Lia masuk ke dalam sebuah tempat karaokean.
"Berteriak lah sampai suaramu serak." ucap V lagi begitu mereka sudah masuk ke dalam ruang karaoke. V menyodorkan sebuah microphon pada Lia."Nggak akan ada yang terganggu."
Lia tersenyum sedikit lega dan bersyukur. Meraih mic itu dan mulai memilih lagi, bernyanyi dengan keras dan menari bak orang gila.
V hanya duduk diam menatap wanita nya beraksi tak karuan.
'Apa yang membuatmu seperti ini? Ibumu?'
Dua jam kemudian,
"Sudah lebih baik?" tanya Vi di parkiran karaoke, mengambil helm dan memasangkannya di kepala Lia.
"Sepertinya belum. Kalau begitu kita ke tempat yang kedua." sambung V menyelesaikan dengan mengunci pengait helm Lia.
"Di sana aku yakin kamu bisa mengeluarkan uneg-uneg mu."
Vi membawa Lia di sebuah bukit yang menjorok ke arah laut, hanya suara ombak yang sangat keras yang terdengar, hingga untuk bicara saja harus berteriak.
__ADS_1
"Nah, keluarkan semua yang mengganjal di hatimu. Teriakan di laut lepas." V menunjuk lautan lepas di depannya."Setelah itu, jadilah, Lia yang ceria seperti sebelumnya. Aku akan menunggu di sini. Agar kamu merasa nyaman, aku akan menggunakan headset dan mendengar musik."
Bersambung..