
Apa jika aku lulus, kita bisa resmi berpacaran?"
"Vi! Kamu tau aku belum siap untuk..." Ucap Jeni dengan gurat sesal di wajahnya.
Vi terkekeh melihat wajah Jeni yang serba salah itu.
"Aku hanya menggoda mu..."
Di ruang tamu, papa Roman duduk dengan menatap tajam pada Vi. Sedangkan Vi hanya melempar senyum ramahnya.
"Kau... Siapa?"
"Saya Vi, paman."
"Apa hubungan kalian?"
Vi membuka mulutnya, namun belum sempat berucap, Jeni sudah mendahului.
"Kami hanya berteman papa."
"Berteman?" Papa Roman menaikkan sebelah alisnya."Apa yang kalian lakukan sampai pulang selarut ini?"
"Papa, ini masih jam 10, kami bukannya pulang tengah malam." Tukas Jeni kesal, ia sangat hapal papa nya yang selalu berlebihan. Mencari-cari alasan untuk memarahi teman nya.
"Oohh, jadi selama kamu kos di luar kamu selalu pulang tengah malam Haahh?" Seringai papa Roman tak ramah. Jeni mendengus kesal, menatap papanya jengah.
"Ada apa papa memanggil ku, pasti ada hal penting bukan?"
"Tentu saja, hal yang sangat penting. Kita bicarakan setelah pap urus yang satu ini." Ucap Roman dengan mata tajam yang masih menatap pada V. Pria asing yang mengantar anak gadisnya pulang malam.
"Papa masih belum selesai bicara dengannya." Sambung Papa Roman menunjuk pada V yang masih terdiam menyaksikan ayah dan anak itu sempat bertengkar.
"Apa kau selalu begini? Membawa putri ku pergi dan kembali malam-malam?" Tuduh papa Roman tanpa basa basi lagi.
"Sebenarnya..."
"Apa peduli papa? Bukankah papa sudah mengusirku? Kenapa sekarang berlagak perduli?" Potong Jeni yang sudah sangat kesal pada papanya yang terus mendominasi dan asal menuduh.
"Jeni!" Hardik Papa Roman mendelik pada anaknya."papa tidak pernah mengajarimu untuk memotong ucapan orang tua!"
"Sejak kau bergaul dengan benalu itu kau jadi pembangkang. Dan sekarang gembel dari mana lagi yang kau pelihara?"
Tatapan nyalang papa Roman berpindah pada V. Tatapan yang sangat menyudutkan dan merendahkan. Jeni tak suka jika temannya sampai di perlakukan buruk seperti itu oleh ayahnya sendiri.
"Papa? Apa maksud papa dengan ucapan kasar itu? V pria baik-baik."
"Verel pun Kau sebut baik-baik dulu, sampai akhirnya kau sadar dia hanya memanfaatkan mu. Dan pria ini, papa tidak yakin dia tak berbeda dengan Verel." Ucap papa Roman dengan mata merendahkan ia tujukan pada V. Yang justru tersenyum kecil menanggapi.
__ADS_1
Jeni marah, bagaimana dia bisa memiliki seorang papa seperti Roman. Dia saja tidak pernah memilih dengan siapa berteman, baginya semua sama saja. Selama mereka baik dan tulus. Sayang, papanya berbeda. Orang yang tidak sederajat hanya di pandang sebagai penipu dan hanya memanfaatkan. Seperti Verel. Itu membuat papa Roman sangat geram hingga terpaksa mengusir Jeni, agar gadis itu membuka mata.
Dada Jeni sudah naik turun akibat emosi yang tertahan juga dia rasakan, tak jauh berbeda dengan Roman. Baik Roman, maupun Jeni sama-sama terdiam, walau mata mereka sama nyalang dan menantang.
"Sikap papa yang seperti ini yang membuat Jeni melawan." Ucap Jeni akhirnya."Papa egois. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Apa yang papa anggap salah, maka itu salah. Benar kan pa?"
Jeni beranjak dari duduknya, menarik tangan V hingga ikut bangkit.
"Kau mau kemana?" Pekik papa Roman ikut berdiri melihat putri satu-satunya itu melangkah dengan menggeret teman pria nya.
"Pulang, ke kosan ku." Ucap Jeni malas sembari berbalik menatap ayahnya."Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Yang papa lakukan hanya terus merendahkan temanku. Apa salahnya jika aku bergaul dengan mereka?"
"Apa? Mereka hanya memanfaatkan mu! Apa kau lupa bagaimana Verel?"
"V bukan Verel pa."
"Sama saja, mereka berawalan dari huruf yang sama V. Kau tau V. Venyebab kehancuran!"
Entah harus tertawa atau marah, Jeni benar-benar tak habis pikir dengan ayahnya ini.
"Maaf paman, jika saya menyela. Saya bukan Verel. Nama saya Vi, yang artinya Victory, itu berarti kejayaan, kemenangan, suka cita. Saya bisa membawa Jeni kesana, dan membahagiakannya." Ucap V dengan senyum dan yakin.
"Ha-ha-ha... Jangan membuat aku tertawa." Roman tertawa mencemooh, "yah, aku juga tidak perduli. Aku mau kau menjauhi putriku, mulai malam ini."
"Papa!"
"Jeni! Papa lakukan ini demi kebaikanmu, tadi sore bos mu datang melamar. Tentu saja papa langsung menerimanya. Dia jauh lebih-lebih dari pria ini. Jadi..."
"Aku... Tidak Sudi, diatur-atur oleh papa." Jeni berlari keluar dengn menarik tangan V.
"Ini rumah mu! Papa tidak mengijinkanmu keluar dari rumah ini." Ucap papa berapi-api dengan tangan menunjuk ke bawah dengan tekanan."kembali Jeni!"
Di halaman rumah mewah itu, Jeni menghapus air matanya. Ia langsung asal memakai helmnya dan naik diatas motor V.
Vi hanya menghela nafasnya. Pertengkaran yang sebenarnya tidak patut dia saksikan. V melepas helm dari kepala Jeni, yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan protes dari gadis yang dia cintai itu.
"Menyelesaikan masalah bukan dengan berlari. Tapi di hadapi, Jeni."
"Aku tidak berlari, aku hanya butuh menenangkan diri sejenak."
"Dengan pergi dari rumah?"
Jeni menatap manik mata V yang teduh. Mata yang terus menatap wajahnya dengan lembut.
"Aku yakin, paman roman akan melunak jika kamu kembali kerumah. Berbeda jika kamu tetap pergi bersamaku. Bisa-bisa aku bahkan tak dapat restu karena gagal membujukmu..."
"Viii..." Jeni memelototi pria tampan di depannya yang kini justru terkekeh itu."Memangnya siapa juga yang mau menikah dengan mu?"
__ADS_1
"Aahh, kukira kamu mau, dari tadi kamu terus menarikku sampai aku kesulitan berkata-kata. Lihat, jantung ku sampai berdebar seperti ini." Ungkap V sembari meletakkan tangan Jeni di dadanya.
Wajah Jeni serasa menghangat.
"Masuklah kedalam. Jika tidak mau berbicara dengan papamu, kamu bisa langsung masuk ke kamar. Mengunci pintu lalu tidur. Saat hatimu sudah tenang, baru bicarakan lagi dengan papamu. Heemmm?"
Jeni meyentak nafasnya kuat-kuat. Lalu menatap manik mata V lagi.
"Itu, jika kamu masih memandangku sebagai teman dan membiarkan ku keluar hidup-hidup dari gerbang itu."
Vi menunjuk ke arah gerbang yang di jaga oleh sekurity yang kedua petugas itu menatap kearah Vi dan Jeni yang masih berdiam di depan teras. Jeni menghembuskan nafasnya, guna mengurangi rasa sesak di dadanya. Ia tau maksud V, sudah pasti papa Roman sudah menginstruksikan para security-nya agar tidak membiarkan lewat begitu saja.
"Maaf V," Jeni bergegas turun dari atas motor Vi.
"Masuklah." Ucap V sembari mengibaskan tangannya.
"Hati-hati di jalan."
"Hmm..."
"Aku akan masuk setelah melihatmu keluar dari gerbang itu."
V memakai helmnya lalu menstater motor klasiknya. "Aku akan pergi setelah melihatmu masuk kedalam rumah."
"Tidak. Aku lihat dulu kamu keluar dari gerbang."
"Aku sangat keras kepala. Masuk." Ucap V diakhir senyuman.
"Sial, kita sama-sama keras kepala." Kekeh Jeni dengan terpaksa.
"MMM... Begini saja, aku akan membawa motorku sampai depan gerbang. Dan kamu masuk bersamaan aku keluar, bagaimana?"
Jeni tersenyum geli."repot sekali."
"Kalau begitu masuklah sekarang." Balas V dengan senyum geli juga.
"Baiklah, aku setuju. Cepat, sana pergi sampai depan gerbang." Jeni mengibaskan tangannya mengusir.
V pun membawa motor nya sampai didepan gerbang lalu menoleh. Memastikan Jeni melangkah masuk kedalam rumah, barulah ia mengegas motornya.
.
.
"Jadi, kakak sudah melamar." Gumam V diatas motor yang melaju."Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Di depan sebuah rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama ini bersama beberapa temannya. Vi memarkirkan motor yang biasa dia gunakan. Saat hendak menutup pagar, Vi di kejutkan oleh kehadiran beberapa orang..
__ADS_1
Bersambung....
Hmmm, siapa ya orang-orang itu? Datang dengan niat baik atau buruk ya?