Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 33


__ADS_3

"Yovie..."


Yovie mengulas senyum kepercayaan diri nya, berjalan mendekat pada Jeni yang terlihat sangat terkejut dengan penampakannya kala itu.


"Hai,, lama tak bertemu sahabat?" sapa Yovie mengulurkan tangannya.


Jeni hanya melirik tangan itu mengambang tanpa ada niat menjabatnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jeni Datar, dengan pandangan yang entah apa. Merasa tak mendapatkan sambutan tangan dari Jeni, Yovie memilih menarik balik tangannya.


"hmmm.. kita mungkin akan menjadi rekan."


"Rekan?"


Yovie tersenyum dengan sangat angkuhnya.


"Apa kau sekarang jadi lebih bodoh setelah menikah dengan Tuan Suga?"


"Aaaahhh, jadi kau kemari untuk mengambil Suga dariku?"


Yovie terkekeh kecil, lalu berubah menjadi gelak tawa.


"Kau sebaiknya mempertahankan posisimu, jika tidak ingin kehilangan."


"Aahh, benar juga. Akan aku ingat nasihat mu. Sebagai informasi saja, Suga berbeda dengan Verel." balas Jeni enteng, melanjutkan langkah kakinya melewati Yovie."Jadi, selamat berjuang."


"Kita lihat saja, apakah dia akan berpaling padaku? Atau tetap setia padamu?"


…………………………………………


Jeni meletakkan bokong nya di kursi sofa ruangannya. Memijit pelipis yang serasa berdenyut kuat.


"kenapa wanita itu bisa sampai kemari? Haaahhh,,,," Jeni bergumam, memejamkan matanya masih sambil memijit pelipisnya.


"Pusing nya kepala ku. Perutku juga mual." Bergumam pelan, mata yang menutup itu terbuka.


Jeni mengangkat tubuh nya dan berjalan mendekati meja kerjanya. Mengambil hp yang sedari tadi ia letakkan di sana. Jeni memilih kontak dan menekan tombol hijau.


["Ada apa?"]


"Um, aku ingin makan martabak manis dengan toping nangka dan coklat keju."


["Kalau mau martabak, hubungi penjual martabak bukan aku."]


Jeni memutar matanya malas.


"Tapi kau ayahnya. Anakmu ini ingin ayahnya yang melakukan semua itu."


["kau hanya mengadi-adi."]


"Kalau tidak mau ya sudah! Jangan salahkan aku kalau nanti anakmu ngences karena kemauannya tidak di turuti!"


Dengan kesal dan dongkol Jeni menutup panggilan telpon nya. Kemudian dengan kasar meletakkan benda pipih itu di meja kerjanya.


Sementara itu, di ruang rapat tempat Suga berada.


Suga merasa geli dengan permintaan Jeni yang sangat mengada-ada itu. Martabak di tengah hari tidak ada yang jual. Biasanya penjual martabak buka dari sore sampai malam. Ia berpikir sembari mengetuk ujung hpnya di dagunya.

__ADS_1


"Kenzo!"


"iya Tuan?"


"Dimana kamu bisa mendapat martabak di hari seperti ini?" tanya Suga dengan pandangan berfokus pada pria yang sedang melakukan presentasi di podium.


"Ada, di Martabak baba dan Martabak Yang."


"Apa mereka menjual menu martabak manis dengan toping Nangka dan coklat keju?"


"Tidak ada toping seperti itu tuan."


Suga tertawa kesal. Ia sadar Jeni jelas-jelas mengada-ada. Meninta sesuatu yang tidak ada.


"Minta koki untuk membuat yang seperti itu."


"Maksud tuan, Martabak dengan toping nangka dan coklat keju?" tanya Kenzo memastikan.


"iya."


"Baik."


###


"Apa ini?"


Jeni melihat bungkusan yang diantar oleh seorang kurir padanya.


"Aku tidak memesan apapun."


"Anda Jeni Putri Barata Istri Tuan Suga Afgantara bukan?" tanya si Kurir sambil mengecek hpnya.


"Ini memang di tujukan pada anda." kata si Abang kurir, sambil menunjukkan layar hp nya."Jeni Putri Barata Istri Tuan Suga Afgantara. Satu martabak manis dengan toping nangka dan coklat keju."


Jeni tercenung, lalu ia ingat pesannya pada Suga. Ia tertawa jengkel.


"Apa dia sama sekali tidak menyimak apa yang aku ucapkan? atau memang dia tidak mengerti sama sekali?" gumam Jeni mengusap wajahnya.


"Baiklah, tinggalkan di sini. Terima kasih."


Setelah kurir itu pergi, Jeni berjalan dengan membawa bungkus martabak ke ruangan Suga.


BRAK!


Suga tampak terlonjak kaget pintu ruangannya terbuka lebar dan menampakan Jeni diambang pintu.


"Kau, apa kau tak bisa belajar mengetuk pintu?"


"Tok-tok-tok...." ucap Jeni sembari mengetuk jari nya ke pintu.


"Haahh, lupakan saja. Ada apa?"


Jeni berjalan mendekat.


"Papa, aku minta martabak manis dengan toping Nangka dan coklat keju." ucap Jeni dengan menirukan bahasa bayi yang cedal.


"Ada apa dengan mu? Bukankah itu sudah sesuai?" menatap Jeni dengan bingung.

__ADS_1


"Baby bilang papa yang lakukan. Bukan delivery order."


Suga mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan.


"Maksud mu adalah...."


"Papa yang melakukannya. Artinya papa yang buat."


"Hahaha... Kau jelas-jelas mengadi-adi, aku ini seorang CEO bagaimana bisa membuat martabak?"


Jeni menyipitkan matanya, lalu mengusap perutnya.


"Sayang, kamu yang sabar ya, papa tidak mau memberikan apa yang kamu mau... Kita cari papa yang lain saja."


Mata Suga mendelik sempurna mendengar celoteh istrinya itu. Ia branjak dari duduknya dan berjalan mendekat mengambil dagu Jeni dan membuat wanita itu menatapnya.


"Coba saja! Kita terikat surat perjanjian. Kalau kau macam-macam dan membuat reputasi Relay jatuh. Akan ku jatuhkan kau di ranjang berkali-kali sampai tak bisa bangun." ancam Suga sebelum mulutnya melummat habis bibir mungil Jeni.


Netra Jeni melebar, lidah Suga sudah sibuk mengorek seluruh rongga mulutnya. Memeluk pinggang nya semakin mendekat pada tubuh pria berbadan proporsional itu. Dan terus memperdalam ciuman.


.


.


.


Dengan perasaan jengkel, Jeni menunggui Suga yang sedang memperhatikan seorang koki membuat Martabak Manis.


Akhirnya Suga bersedia membuat sendiri Martabak nya dengan Syarat Jeni menunggui dan melihat langsung ia membuat martabak.


Jeni menghela nafasnya, netra nya terus menatap pada Suga yang terlihat memperhatikan dengan seksama Koki membuat martabak, mulai dari menuang adonan hingga semua toping masuk dan memplating nya diatas piring.


Mata Jeni terus menatap pria tampan itu dengan telaten membuat martabak.


'Dia tidak buruk.' batin Jeni masih terus memandang Suga. Tanpa Jeni sadari dia sudah terjerat pada pesona pria yang menjadi ayah bayi dalam kandungan.


"Ini!"


Jeni menatap Martabak yang masih mengepulkan asap di atasnya. Aroma wangi martabak bercampur dengan aroma nangka membuat perutnya berbunyi.


"Makan!"


"Temani aku makan."


Suga menautkan alisnya,


"Baby nya mau makan di temani ayahnya." ucap Jeni beralasan.


Suga duduk tepat didepan Jeni. "Baiklah, ayo makan."


Dikejauhan, Kenzo tersenyum tipis.


"Sepertinya, si jabang bayi punya cara untuk menyatukan papa dan mama nya." gumam Kenzo.


"Semoga ini awal yang bagus. Tuan Suga sudah banyak berubah, dan Dia sudah menyukai Nona Jeni, entah sadar atau tidak. Tapi ini pertanda bagus."


"Semoga Nona Mega sudah kapok dan tidak berulah lagi."

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2