
"Perduli amat, kalau butuh dan benar-benar penting pasti orang itu akan datang ke kemari. Bukan malah menyuruh orang untuk membawaku. Siapa yang bisa jamin aku tak diculik." Gumam Jeni masa bodoh merebahkan diri diatas ranjang dengan tangan yang terlentang.
"Ya ampun kamu ini Jen, mana tau dia nggak bisa kemari jadi suruh orang buat jemput kamu. Itu lebih sopan loh, dari pada cuma di telpon suruh datang." Nayla ikut merebahkan diri di samping Jeni sedikit menyindir tentang pacar Jeni."kek pacarmu itu. Nggak modal banged"
"Hiihh, biarin. Kalau aku diculik gimana?"
"Iisshh... Siapa juga yang mau nyulik cewek kusem, berjerawat bin jutek kek kamu." Cibir Nayla mencubit pinggang Jeni.
"Iiisshh... Biarin." Balas Jeni menggelitiki perut Nayla, hingga gadis itu menggeliat tak karuan menghindari serangan Jeni.
"Udah sana temuin." Nayla yang berhasil berdiri dan meloloskan diri dari keusilan Jeni yang menggelitiki perutnya.
"Ogah. Kalau kamu mau, kamu aja sana."
"Yang di cariin kamu, nggak lucu lah kalau aku yang datang."
Jeni mendengus kesal.
"Udah ah, aku mau tidur, ngantuk. Ntar kalau dah waktunya makan malam bangunin aku ya."
______
"Apa? Wanita itu menolak bertemu?"
"Benar tuan Suga."
Suga tertawa sebal. Untuk pertama kalinya, seorang Suga ditolak saat ia ingin bertemu. Suga yang sudah kesal menendang meja didepan dia duduk. Kenzo sang asisten tersenyum tipis melihat emosi tuannya yang tak terkontrol karena seorang wanita yang baru saja dia temui itu.
"Aku Suga Argantara, bahkan sesibuk ini meluangkan waktu untuk menemuinya, berani-beraninya dia menolak ku?"
"Dia bilang, jika tuan saat ingin bertemu, silahkan untuk mendatanginya dan mengatur jadwal."
"Ha-ha-ha." Suga semakin jengkel dibuatnya.
"Dia pikir dia siapa?"
"Jeni Putri Barata, tuan."
"Hiiisssshh, kau tak perlu mengatakannya. Asisten sialan!"
Suga yang sudah sangat jengkel semakin kesal dengan Kenzo yang terus meledeknya.
"Lalu apa rencana anda, tuan."
__ADS_1
"Karena wanita itu sudah begitu sombongnya, akan kubuat dia memohon untuk menemui ku." Tekat Suga menggeram kesal penuh dendam.
"Persiapkan semuanya."
"Saya rasa ini sedikit berlebihan, tuan Suga."
"Diam!" Hardik Suga makin geram."Disini siapa tuannya?"
"Anda. Tuan Suga." jawab Kenzo dengan senyum tipis dan terpaksa.
________
Suga merebahkan tubuh diranjang kamar suite yang dia tempati. Menatap langit kamar dengan terlentang. Ia memikirkan apa saja yang akan dia lakukan untuk membuat wanita sombong tak tau diri, yang menolaknya itu datang memohon untuk bertemu dengannya.
"Wanita itu dulunya bekerja di perusahaan Barata. Perusahaan keluarga, sayangnya karena kesalahan kekasihnya, dia di usir dari keluarga itu. Hak waris nya juga dicabut, ha-ha-ha, malang sekali nasib nya." Gumam Suga dengan kekehan kecil hingga tubuhnya sedikit berguncang."Dan sekarang dia bekerja di Relay Grup."
Suga membuka lagi ingatannya, saat pertama kali bercinta dengan Jeni. Wanita itu meracau tak jelas dan memaki kekasihnya.
["Apa kurangnya aku padamu? Kau butuh uang aku kasih, kau butuh mobil aku berikan. Semua sudah aku berikan padamu!"]
["Hanya karena aku tak bisa memberikanmu keperawanan ku, kau bermain dengan Yovie! Dasar Bajingan Kau!"]
["Aku baru tersadar, jika aku tidak benar-benar berharga. Semua menghianatiku, kekasihku, sahabatku, bahkan keluarga yang aku percayai pun membuang ku."]
"Bodohnya wanita itu, masih berani berlagak lagi di depanku."
Ia lalu bangkit dan menghubungi Asistennya Kenzo.
"Kapan wanita itu keluar dari kamar nya?"
("Satu jam lagi mereka makan malam di restoran hotel.") Suara Kenzo yang keberadaanya entah dimana.
"Baiklah."
Di sebrang sana yang tak diketahui keberadaannya itu, Kenzo tersenyum tipis.
"Maaf tuan, anda sangat lucu kali ini. Sepertinya rencana itu tak perlu dilanjutkan. Xixixi..."
.
.
Suga berjalan keluar dari kamarnya, ia melangkah ke restoran yang dimaksud. Disana Kenzo sudah menunggu. Memandang bosnya dengan senyuman yang seperti mengejek.
__ADS_1
"Untuk apa senyum itu?"
"Tentu saja untuk menyambut Anda, tuan Suga." jawab Kenzo dengan sangat ramah tanpa melewatkan senyuman di wajah tampannya.
"Ck! Kau tidak pernah menyambut dengan senyuman."
"Mulai hari ini dan seterusnya, akan begini, tuan."
"Jadi mulai hari ini kau akan terang-terangan mengejekku, hahh?" hardik Suga melirik tajam pada Asisten kepercayaan dan setianya itu.
"Tentu saja tidak. Ini adalah senyum keramahan."
"Jangan membuatku tertawa. Ha-ha-ha"
Suga menendang kaki Kenzo namun pria itu sudah menarik kakinya hingga Suga hanya menendang udara. Suga mendelik pada asistennya yang tersenyum seperti mengejek lagi.
"Ka-u."
Suga sudah mengangkat tangannya yang terkepal.
"Meja nya ada disana,tuan." tunjuk Kenzo cepat mengalihkan perhatian Suga yang mudah kesal itu.
Suga menyentak nafasnya, dan menurunkan lagi tangannya. "Benar-benar bikin kesal, kenapa kamu bisa jadi asistenku."
Suga duduk di meja yang sudah di reservasi. Ia duduk menghadap pada kumpulan meja dan kursi yang dibuat memanjang karena disanalah jeni dan para rekan kerjanya akan makan malam.
"Anda ingin makan sesuatu tuan?"
"Tidak." Suga mengangkat tangannya tanda menolak.
"Ini akan lama tuan, anda terlalu bersemangat hingga datang terlalu awal."
"Apa telinga mu itu cuma pajangan? Aku bilang tidak ya tidak!"
"Baiklah." Kenzo menunduk dan menoleh pada pelayan yang datang, tanpa suara Kenzo mengibaskan tangannya agar mereka pergi.
Kenzo berbalik dan menatap tuannya yang tak melepaskan pandangannya ke meja panjang yang tersusun rapi, bahkan sampai meja itu terisi dan beberapa pelayan meletakkan makanan diatas meja. Suga masih menatap ke arah sana.
"Dimana wanita itu? Kenapa belum muncul?" Tanya Suga tanpa melepas pandangannya ke arah meja yang sudah di reservasi itu. Dengan mata tak sabar.
"Mungkin dia melewatkan makan malam."
Bersambung....
__ADS_1