
"Kamu kenapa sih?"
"Aku kesal. Inilah sebabnya aku hanya ingin kamu tetap berada diruangan ku. Terlalu banyak mata yang memandang mu." tukas Suga dengan wajah cemberut.
"Jadi itu sebabnya aku tidak di beri pekerjaan sama sekali?" gumam Jeni ikut-ikutan sebal.
"Aahh, benar juga, menjadi engenering perlu bertemu dengan banyak orang, dengan vendor, klien dan pekerja. Picik sekali dia mengurungku di ruangan nya, dan hanya memandang nya bekerja." geram Jeni lagi menatap sinis suaminya.
Suga merasa begidig tiba-tiba, ia melirik istrinya yang menatap dengan mata seperti serigala yang sedang mengincar mangsanya.
"Kenapa dia jadi menakutkan seperti ini?" pikir Suga membenarkan posisi duduknya.
Saat itu mereka sedang meting yang sudah berlangsung hampir dua jam lamanya. Suga melirik istrinya yang menyimak meting kala itu. Dan mulai bersuara ketika ada yang tidak sesuai dengan misi dan visi Relay. Tentu saja selama Jeni bersuara, ia menjadi pusat perhatian. Semua mata menatapnya, memandangnya dan mendengarkan suaranya.
Suga menatap tajam satu persatu peserta meting yang melihat ke arah Jeni. Merasa mendapat tatapan tajam dari Suga, mereka memilih menunduk, ada juga yang pura-pura sibuk dengan mengetik di laptopnya. Hingga tak ada satupun yang berani memandang Jeni. Merasa heran Jeni menoleh pada suaminya.
Tatapan tidak suka itu masih ada. Jeni menghela nafasnya. Hingga meting usai.
"Ada apa denganmu?" protes Jeni begitu keluar dari ruang meting.
"Aku tak suka mereka menatapmu."
"Apa? Kau ini sudah tidak waras atau bagaimana? Seperti orang yang tidak pernah meting saja. Wajar jika mereka menatapku saat aku bicara."
"Aku tidak suka. Besok kamu tidak usah ikut meting."
"Arrgggg.... Lalu apa yang aku lakukan?" gemas Jeni dengan Sikap cemburu Suga yang berlebihan menurutnya.
"Kamu terima telpon saja." ucap Suga lalu menggeleng, "tidak! tidak bisa! Menerima telpon sama saja mereka mendengarkan suara indah mu."
Jeni memutar matanya malas.'Besok aku mengundurkan diri saja lalu melamar kerja di perusahaan papa.' pikir Jeni.
"Kenapa kamu tidak terima saja duduk diam di ruangan ku?"
"Huueeekkk.... aku mau muntah." Jeni mnutup mulutnya.
"Apa?" Suga terlihat cemas merangkul istrinya."Bagaimana jika aku jenguk saja dia biar nggak rewel?"
Mata Jeni melebar, Ia hanya berpura-pura muntah karena kesal dengan ucapan suaminya. Malah ngajak njengukin baby.
###
"Apa jadwalku kali ini?"
"Tuan Suga, berikutnya meting dengan perusahaan Barata." jawab Kenzo membuka tablet nya.
"Perusahaan barata?" ulang Suga melirik pada Kenzo lalu berpindah pada Jeni.
"Iya tuan."
"Aku sudah menyiapkan semua materinya." timpal Jeni sibuk dengan lembaran kertas di tangannya.
__ADS_1
"Jadi kau juga sudah siap?"
"Tentu saja. Aku kan sekertaris mu." balas Jeni menatap pada Suga sambil terus melanjutkan perjalanan mereka.
Tiba-tiba langkah Suga terhenti. Jeni yang tak memperhatikan masih berjalan beberapa langkah di depan, ia menoleh. Melihat Suga celingukan dan dengan wajah yang kesal mengambil gumpalan tisu di lantai dan membuangnya ke tempat sampah tak jauh dari sana.
Jeni melebarkan matanya,
"Nyonya, cepat jalan dan pura-pura tidak lihat!" bisik Kenzo sedikit mendorong tubuh Jeni dengan tubuhnya. Jeni pun menurut.
"Apa dia memang sebegitu?"
"Sudah pernah saya bilang, tuan Suga itu seorang Mysopobia."
Jeni terkekeh geli. "Tapi kami pernah bercinta di toilet."
"Itu membuat saya sangat kaget waktu itu." Kenzo bergumam.
"Dia juga mengambil sendiri ikan di kolam."
"Apa anda mengerti sekarang? Seberapa besar rasa cinta nya pada anda?"
Langkah Jeni terhenti, sementara Kenzo masih terus melanjutkan ayunan kakinya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Suga yang sudah berada di belakang Jeni.
"Tidak. Hanya... terima kasih..." Jeni menatap lekat pada Suga.
Tanpa jawaban, Jeni hanya melempar senyumnya dan menyusul Kenzo.
Di dalam ruang meting kecil, Kenzo, Jeni dan Suga menyambut Direktur Roman dan dua orang asistennya.
"Kamu tidak kangen dengan papa mu ini?"
"Kenapa aku harus kangen? Papa saja pernah mengusir ku dari rumah dan perusahaan. Kenapa setelah menikah tiba-tiba aku harus kangen?" lontar Jeni dengan wajah cemberut.
"Dasar anak..."
Jeni mengulas senyum begitupun dengan papa Roman yang mengangkat sudut bibirnya ke atas. Papa Roman merentangkan tangannya dan Jeni berhambur memeluk tubuh kekar papanya.
Setelah saling melepas kangen, Jeni duduk di samping Suga. Dan memulai meting dengan cukup serius. Walau Suga adalah menantu nya dan Jeni adalah putri nya, Papa Roman tetap profesional dalam bersikap. Hingga meting mereka berjalan cukup alot sampai mencapai kesepakatan bersama.
"Jeni, mama mu kangen. Pulanglah." ucap sang papa begitu meting usai dan mereka sudah berada di luar ruang meting.
"Oke." Jeni menyetujui dengan membentuk jari nya melingkar.
"Kalau begitu nanti sore."
"Apa?" Suga melebarkan matanya mendengar sore ini akan ke rumah sang istri.
"Kau tidak perlu datang jika tidak mau!" tukas Pak Roman menatap tajam pada Suga.
__ADS_1
"kami akan datang. Aku juga kangen sama Adrian juga." jawab Jeni sembari merangkul lengan sang suami."Yaa?" sambungnya mendongak menatap wajah Suga dengan permohonan.
"Sekalian bawa baju kalian, menginaplah dua atau tiga hari." kata pak Roman lagi."Papa pergi dulu."
"Ia pa, hati-hati di jalan." Jeni melambaikan tangan pada papa Roman yang berjalan menjauh.
"Nginap? ke rumah papa?" ulang Suga seperti tak rela jika berada di rumah papa Roman.
"Kenapa?"
"Apa kamu tidak lihat tadi? Dia sangat tidak suka padaku."
Jeni mengulas senyum lebar. "Itu kan hanya perdebatan masalah kerja. Papa nggak profesional kok. Kalau di rumah, kamu tetap menantunya yang pertama." ucap Jeni mengerling nakal.
Suga membuang muka sebal.
"Baby ingin tidur dirumah kakeknya. Lagi pula, kita sudah pernah menginap di rumah Mamy Susy, jadi ayo kita menginap di rumah papa Roman." bujuk Jeni memeluk tubuh Suga dan menatapnya dengan manja.
"Benarkah baby menginginkan?"
"Uummm...." angguk Jeni.
"Baiklah kita menginap malam ini."
Jeni tersenyum lebar.
"Tapi, hanya malam ini saja. Demi dia." tukas Suga menyentuh lembut perut Jeni.
"Iya iya...."
###
Di sisi lain,
Papa Roman yang berjalan keluar dari gedung Relay merogoh kantong celananya. Mengeluarkan sebuah benda pipih yang biasa disebut Hp. Lalu ia menekan layarnya mencari kontak istrinya. Kemudian menempelkan nya di telinga.
"Mama, Jeni pulang malam ini, masak yang banyak."
("Benarkah?") suara mama Diana terdengar sangat gembira dan bersemangat.
"Heemmm..."
("Baiklah, mama akan masakkan makanan kesukaan Jeni")
Sambungan telepon di putus.
Papa Roman menghela nafasnya lalu berbalik melihat lagi gedung pencakar langit itu.
"Setidaknya dia jauh lebih baik dari pada begudal Verel." gumam Papa Roman memasuki mobilnya,"Walau dia sangat menyebalkan."
Bersambung ...
__ADS_1