Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 52


__ADS_3

"Kamu udah siapin yang aku minta kan?"


"Sudah. Dalam kantong plastik hitam ku ikat karet biar sempurna."


Vi mengecek lagi tumpukan uang merah dengan di selipkan beberapa yang biru. Ia tersenyum cukup puas.


"Sengaja aku pilihkan yang lecek dan beberapa recehan."


"Oke. Terima kasih."


"Kenapa susah-susah begini? Dia akan langsung bertekuk lutut padamu jika tau yang sebenarnya." ucap Fajar, salah satu orang yang kepercayaan V yang juga bekerja di resto dan Carwash.


"Bukan itu yang aku cari."


"Baiklah, kamu bosnya. Lakukan sesukamu. Semoga dia tidak merasa di tipu nanti." kata Fajar mengiringi langkah V keluar dari dalam rumah.


###


Vi menemui Lia yang tengah duduk menatap rimbunan tanaman sawi yang sengaja di tanaman di halaman rumah V.


"Maaf membuatmu menunggu." V duduk di samping Lia. Gadis itu mengumbar senyumnya.


"Ini, untuk mu."


Lia tampak ragu menerimanya.


"Buka lah."


"Ini...." Lia menatap pada tumpukan uang yang di ikat dengan karet di dalam kantong plastik hitam itu .


"Itu ada 30juta. kamu bisa menghitungnya ulang."


mulut Lia masih ternganga.


"Kenapa kamu ..."


"Kamu lagi butuh uang kan?"


"I-iya.. tapi... ini..."


"Aku tidak memberikannya, jadi jangan ge-er. aku hanya meminjamkannya padamu."


"iya, tapi, ini, dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?"


"aku menabung."


"Dan kamu memberikan uang tabunganmu padaku?" Lia meletakkan tumpukan uang itu ke pangkuan V. "Aku tidak bisa menerimanya."


"Aku tidak berikan. Aku pinjamkan." tegas V mengambil tangan Lia dan meletakkan uang itu di sana."Anggap aku sedang memindahkan tempat penyimpanan."


"Aku tetap tak bisa." Lia menghela nafasnya, orang yang kini membantunya justru dia yang ia kenal belum begitu lama. Walau Bagaimana pun mereka bukanlah orang sedekat itu hingga bisa saling meminjam dalam jumlah besar.


"Kamu membutuhkan dan aku punya. Ini memang tidak sedikit, jadi aku sangat berharap kamu mengembalikannya dan tidak tiba-tiba amnesia."


Lia tertawa kecut."Kau percaya padaku?"


"Aahh, benar juga. Bagaimana kalau kita buat perjanjian saja. Kalau kamu sampai tidak mengembalikan nya. Kamu harus menggantinya dengan tubuhmu." kata V dengan mimik muka serius.


Melihat perubahan air muka Lia, V tertawa.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda."


"Tapi, memang benar. Tidak adil jika kamu meminjami ku uang sebanyak ini tanpa jaminan."


"Lalu?"


Lia tampak berfikir sejenak. Melihat motor matiknya. V menatap Lia, lalu ikut melihat ke arah yang sama.


"Motor mu itu tidak sampai 10juta."


"aku tau." jawab Lia mendengus."Bagaimana kalau SK dan sejenisnya?"


"Itu tidak berguna untukku. Seorang pekerja sepertiku, barang seperti itu hanya akan teronggok di lemari dan di makan rayap. Nanti bisa-bisa malah kamu yang menuntut ku karenanya." lugas V dengan memasang wajah serius.


"Jadi apa? Aku tak punya apapun sebagai jaminan."


"Sudahlah, pakai dulu uang ini dan kirimkan pada ibumu. Mungkin dia sangat cemas memikirkan nya."


Lia merasa tak enak hati pada Vicky, tapi memang dia membutuhkan uang itu. Lia menghela nafasnya.


"Kenapa lagi?"


"Aku lupa ini hari minggu. Bank Tutup."


"Tidak masalah, tenggat nya besok kan?"


Lia menepuk kepalanya sendiri.


"Kamu terlalu banyak berpikir. Simpan uang nya dan aku antar kamu pulang." V menepuk lengan Lia dan berdiri.


"Ayo."


Pria itu hanya mengulas senyum yang Lia tak lihat. Dalam perjalanan hanya ada keheningan, tak ada percakapan berarti hingga mereka tiba di kosan Lia.


"Bagaimana kamu pulang?" Tanya Lia saat V menyerahkan kunci motornya.


"Aku punya banyak teman. Jangan pikirkan aku." Vi melirik pada motor klasik yang biasa dia kendarai baru saja berhenti tepat di depan gerbang kos.


Pria yang menumpanginya membuka helm. Orang itu adalah Fajar.


"Jemputan sudah datang." V mengulas senyum dan melambai pada Fajar."Aku pergi ya."


V melangkah pelan. Lia menatap punggung yang kian menjauh itu.


"Terima kasih." teriak Lia dari tempat nya berdiri.


Hanya lambaian yang dia dapatkan tanpa pria itu menoleh lagi dan langsung membonceng. Hingga suara motor itu ilang bersama wujudnya.


Keesokan hari nya, Lia mengambil ijin keluar beberapa jam untuk ke bank guna mengirimkan uang untuk ibunya.


Setelah semua urusan pengiriman ke kampung. Lia kembali ke kantor. Membuat surat perjanjian piutang. Walau bagaimanapun uang 30juta bukanlah sedikit.


Lia pikir setidaknya V harus punya sesuatu jika nanti dia mangkir.


"Akhirnya selesai juga." gumamnya setelah menandatangani surat perjanjian utang yang sudah ditempeli materai.


###


"Apa ini?"

__ADS_1


Vi menatap lembaran kertas di tangan nya ketika ia sedang main ke kosan Lia.


"Itu perjanjian pembayaran utang ku."


V tertawa kecil, entah untuk apa tawa itu. Lia tak mau terlalu memikirkannya. Ia hanya mencoba sebaiknya agar ia ingat dan tak mangkir untuk membayar hutang.


"Nanti jika aku mangkir dalam pembayarannya, kamu bisa melaporkanku atau apapun."


"Ini nantinya tidak akan masuk pidana. Ah sudahlah, lupakan saja." Vi akhir nya menyimpan kertas itu di saku jaketnya setelah melipat menjadi empat bagian.


"Aku lapar kamu masak nggak?"


"Cuma balado terong."


Vi mengangguk.


"Sebentar biar aku ambilkan." Lia masuk ke kamarnya.


Di kosan Lia walau bebas jam malam, tapi tidak bisa bebas memasukkan laki-laki ke dalam kamar, di depan setiap kamar ada satu bangku panjang untuk menerima tau. Di sanalah V duduk menunggu.


Lia membuka tutup mejikom melihat nasi di dalamnya tinggal sedikit. Ia mengambil hingga Butir sisa nasi terakhir dan memindahkan nya ke piring.


"Semoga dia nanti tidak minta nambah." bisik Lia, melihat piring nasi itu terisi sekitar dua entong nasi. Mejikomnya sudah kosong, akan sangat memalukan jika V minta tambah dan nasinya habis.


"Aku pasti di Tertawakan, seorang kepala bagian bisa kehabisan nasi." gumamnya lagi tersenyum getir.


Lia mengambil satu sendok sayur terong balado yang terlihat sangat merah dan berminyak. Menggoda lidah untuk mencicipi nya. Lia menyentuh perutnya, lalu menggeleng.


'Muliakan tamu Lia.'


Lia lalu beranjak dan duduk di depan kamar kos nya.


"Ini."


Vi menerima piring yang Lia sodorkan.


"Hmmm... menggoda banget balado nya." kata V dengan senyum lebar memandang Terong balado buatan Lia.


"Kamu nggak makan?" tanya Vi karena Lia hanya membawa satu piring saja.


"Enggak. Udah kenyang. Baru tadi abis makan." bohong Lia, sebenarnya dia juga belum makan. Namun karena nasi yang tinggal dua entong. Yang biasanya dia makan untuk dua kali. Kini berpindah ke piring V.


Vi melihat lagi nasi di piringnya. Tampak Karak kecil yang masih putih. Tanda itu mungkin nasi terakhir. Ia tersenyum tipis.


'Sepertinya, kami memang memiliki karakter yang sama.' pikir V berganti menatap Lia.


"MMM.. nggak enaklah makan sendiri." katanya."Dimakan berdua ya?"


Ada riak di wajah Lia yang terdiam.


"Kamu masih punya sendok nggak?"


"Nggak usah V, aku masih kenyang, beneran." Lia mengangkat dua jarinya.


"Ini kebanyakan buatku. Nggak akan habis, mubazir kalau sisa. Cepat ambil sendok sana atau kamu mau makan satu sendok berdua?"


"Tapi, aku makan dikit aja, nemenin kamu doang." lirih Lia dengan wajah yang sedikit bersemu. Ia memang belum pernah makan sepiring berdua dengan lawan jenis. Tentu saja kecuali dengan adik lelakinya saat mereka masih remaja dulu.


"Iya, buruan ambil sendok."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2