Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 87


__ADS_3

Malam itu Lia masih merasa sangat asing, terlalu besar perubahan yang dia rasakan. Di balkon kamar nya, menikmati udara malam yang terasa dingin.


"Mikirin apa?" tanya Vi tiba-tiba menelusupkan tangannya di perut Lia.


"Aku hanya merasa..."


Suara dering hp memutus ucapannya. Lia mengambil hp dan menggeser tombol ke atas.


("Mbak Lia, rumah kebakaran...")


netra Lia melebar,


"Apa? rumah siapa yang terbakar?"


("Rumah kita mbak.")


"Bagaimana bisa rumah kita terbakar? Apa yang...."


V menyaut hp milik Lia, memiringkan tubuhnya dan melummaatt bibir lembut Lia yang terbuka karena terkejut suaminya itu tiba-tiba merebut dan memutus pembicaraannya dengan Farah.


Lia tak melawan, walau ingin rasanya memberontak dan memaki V karena ia sedang menerima berita yang menggoncangkan perasaannya saat ini. Namun malah memaksanya bercumbu.


"Ada beberapa hal yang harus kamu ingat saat menjadi istriku." kata V pelan,


V menarik tangan Lia masuk ke dalam kamar, menekan bahunya agar duduk di bibir ranjang. Ia mengambil selembar kertas dari dalam laci meja dekat walk in closed. lalu menyerahkannya pada Lia.


"Sejak hari itu, kamu sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan mereka." ungkap V menatap Lia yang memegang berkas perjanjian yang di tandatangani oleh bapaknya sendiri. Lia tersenyum kecut.


"Aku tau." lirih Lia lemas dan sedih.


"Kenapa mereka mengingkari janji dan menghubungi mu?"


"Rumah kami terbakar."


"Lalu?"


"Rumah kami terbakar V." tangis Lia tak bisa membendung air matanya."Kenangan kami di masa kecil hangus terbakar..."


V berjongkok di depan Lia, menatap wanita nya dari bawah.


"Mereka punya Satu milyar untuk memperbaikinya." ucap nya menggenggam tangan Lia.


"Apa yang sudah hangus terbakar tak bisa mengembalikan kenangan."

__ADS_1


"Kamu benar. Lalu untuk apa mereka menghubungi mu? Mengganggu mu lagi? Memeras mu lagi? Atau menjual mu... Lagi?"


Tatapan mata yang tajam dan menyiratkan amarah keluar bersamaan dengan tanya dari mulut V.


Lia tersedu..."Benar..."


'Bapak sudah menjual ku pada V, bahkan dengan harga yang tidak masuk akal. Aku harus patuh padanya. Aku miliknya sekarang.'Batin Lia menatap sedih pada V. Ia menangis dan memeluk tubuh suaminya.


"Kamu benar V, Kenapa aku masih perduli pada keluarga yang sudah menjual ku?" tangis Lia semakin pilu. "Kenapa aku masih mengkhawatirkan mereka? Kenapa aku masih memikirkan mereka? Mereka jahat padaku? Mereka menjual ku? menjadikanku sapi perah dan sebagai penebus hutang. Kenapa aku masih perduli?"


V merengkuh tubuh Lia yang terus menangis pilu. mengusap kepala dengan lembut dan hangat.


"Itu karena kamu terlalu baik. Kadang ada baiknya kita perlu memutus komunikasi agar jiwa kita bahagia dan terbebas dari hal yang meracuni...."


V terus mengusap lembut rambut Lia, memberinya kekuatan dan ketenangan ditengah kesedihan dan tangis nya. Memang ini yang terbaik, harus memutus semua komunikasi.


'Ini memang salah ku, harus nya sejak awal aku mengganti hp Lia agar mereka tak mengganggu lagi.' pikir V


"Berjanjilah padaku kamu nggak akan menghubungi mereka lagi." ucap V dengan tegas."Setidaknya, dalam waktu dekat. untuk satu atau dua tahun kedepan."


Malam itu, Lia tertidur dalam dekapan suaminya. Suara nafas yang tersengal masih lembut terdengar, karena lia terlalu lama menangis tadi.


V menarik tangannya, dan bangun dengan perlahan agar istrinya itu tak bangun. Membetulkan selimut yang sempat tersibak. V mengambil hp Lia, lalu berjalan keluar kamar.


"Tolong urus keluarga Subekti di kampung X, buat mereka jauh dari jangkauan istriku."


Sambungan telpon di putus. V membuang nafasnya.


"Ada apa lagi?" suara Suga membuat V menoleh,


"Ini belum ada satu Minggu, dan mereka sudah mengusik lagi." V mengeluh pada kakaknya.


"Mereka memang keluarga toxic."timpal Suga menepuk bahu adiknya."Aku akan menyuruh orang menyelesaikan mereka."


"Nggak usah, sudah ku tangani, kakak sebaiknya urus Jeni dan Gani saja." sahut V melangkah menjauh


Setelah mengganti nomor ponsel Lia dan menghapus semua yang berhubungan dengan Keluarganya. V membaringkan tubuh di sisi wanitanya.


"Saat ini aku cuma ingin ada kamu dan aku saja." gumam V,


***


Keesokan paginya, V berangkat ke Resto sementara Lia yang memang sudah menjadi pengangguran semenjak pengunduran dirinya karena ulah sang ibu membuat Lia hanya berdiam diri di rumah.

__ADS_1


Tak ada yang dia lakukan selain menemani Jeni dan Gani.


"Bagaimana rasanya menjadi nyonya V?"


"uumm... entahlah. aku bingung." jawab Lia seadanya. Ia memang bingung dengan keadaan yang tiba-tiba membuat nya seperti Cinderella.


"Apa yang kamu bingung kan?"


"Apa kamu tahu sejak awal V hanya berpura-pura jadi orang biasa?"


"Hmmmm.... bagaimana ya?" Jeni bingung bagaimana mulai bercerita."Sebenarnya, dulu saat mengenal V aku juga sama seperti mu. Aku baru tau jika dia adik Suga, saat dia akan menggantikan kakaknya, tapi tidak jadi. Aku juga terkejut waktu itu."


Lia menundukkan kepalanya mentowel-towel pipi gembul bayi Gani. Jeni memandang Lia.


"Apa kamu merasa di bohongi?" tebak Jeni. Lia menegakkan lagi kepalanya.


"Entahlah, aku hanya merasa tidak suka ini. Rasa nya sangat...." tenggorokan Lia tercekat.


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi tidak ada yang akan berubah Lia. V tetap akan seperti sebelumnya. Karena itu memang sudah sifatnya. Membumi, berbaur dengan masyarakat dan melakukan banyak kebaikan lainnya. Berbeda dengan Suga yang... yaahh, kamu tau..."


Lia tersenyum kecil.


Hari berganti, Siang itu setelah semua pekerjaan rumah selesai. Lia merebahkan tubuhnya kasur lantai ruang tamu. V memang tinggal bersama Lia di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar tidur, dan halaman yang cukup luas di hiasi pohon mangga dan jambu di bagian belakang. Rumah itu terletak di komplek perumahan dekat resto dan Carwash.


Lia terus memandangi hpnya, menunggu Farah atau setidaknya orang rumahnya menghubungi. Namun, tak satupun pesan yang masuk. Lia merasa cukup aneh.


"Aku sudah berjanji nggak akan menghubungi mereka. Tapi aku merasa sangat khawatir." gumam Lia.


Saat V tak ada di rumah, Lia mencoba mencari nomor salah satu keluarga nya. Akan tetapi tak juga dia temukan.


"Kenapa nomor nya tidak ada?" gumam Lia semakin bingung.


"Mereka juga nggak ada menghubungi ku lagi setelah malam itu."


Lia mengecek lagi nomor kontak dan hp nya. Lia tersenyum kecut. Menyadari semua telah berubah.


"Kamu sangat jahat V. Kenapa kamu melepaskan ku dari belenggu keluargaku sampai sejauh ini?"


Terdengar suara pintu pagar di buka. Lia yakin itu suaminya. Gegas dia beranjak dan berjalan membuka pintu depan. Benar saja, V baru saja memarkirkan motor klasik nya di samping teras.


"Bosan nggak?" tanya V dengan senyum di wajahnya, berjalan mendekat."Temenin aku survey tempat buat buka cabang resto Rescue."


"Di mana?" Lia balik bertanya mencium tangan V.

__ADS_1


"Ada deh." Ucap V berlalu masuk ke rumah, Lia mengekori."Kamu masak apa? Aku lapar."


__ADS_2