
"Sa-satu milyar?"
"Iya, kalau kalian mau membawa Lia bayar dulu satu milyar pada ku. Setelah itu kalian boleh membawa nya."
Bu Sumi tersenyum menang, melihat ke tiga tamu tak di undang itu terdiam setelah dia menyebut nominal satu milyar itu. Memangnya, dapat dari mana mereka uang sebanyak itu? Begitu pikir Bu Sumi picik.
Jeni menatap V lalu berganti menatap Suga. Ia sangat berharap mereka mau menebus sahabatnya itu dengan uang yang sudah pasti tidak sedikit. Jeni sendiri tak pernah menyangka jika Bu Sumi akan senekat itu.
Jeni hendak bersuara. Namun tangan Suga sudah menyentuh tangannya, Jeni menatap pria yang menjadi suaminya itu dengan tatapan protes yang mengharap belas. Suga menggeleng pelan.
"Baiklah kami pamit undur diri. Tidak ada yang bisa kami bicarakan lagi di sini." Ucap Suga berdiri dari duduknya, melirik kecil pada sang adik yang ia tau akan bertindak apa. Jeni yang sedikit enggan pun akhirnya mengikuti sang suami. Sedangkan V masih duduk diam di tempatnya.
"Heemmm...." Dehem Bu Sumi melengos. Melihat V masih duduk diam ia jadi geram.
"Kamu... Nggak ikut pergi?"
"Saya akan bawa kan uang itu besok. Biarkan saya bertemu Lia dulu." Kata V mantap menatap ibu dari wanita yang dia cintai itu.
"Kamu itu wong kere, gimana mau bawa uang satu milyar besok?" Dengus Bu Sumi meremehkan."Jangan mimpi kamu."
"Saya akan membawa nya besok. Jam tiga sore. Butuh waktu untuk menyiapkan uang sebanyak itu."
"Ya iyalah. Mau ngapain kamu sampai jam tiga sore? Ngrampok bank?" Ujar Bu Sumi lagi dengan kalimat dan senyum meremehkan.
Pak Bekti menatap V melihat pria itu memiliki tekad dan keyakinan membuat Pak Bekti bersuara.
"Ya sudah, bawa uang nya besok. Harus besok. Jam tiga sore." Ucap pak Subekti menyetujui. Sembari matanya melirik pada Jeni dan Suga yang sudah berada di luar rumah.
Pak Bekti pikir lumayan juga uang satu milyar. Hutang berikut bunga saja 150juta. Masih sisa sangat banyak. Mereka akan kaya raya dalam sekejap. Jikalau tidak dapat uang satu milyar itu, mereka masih terbebas dari hutang, dengan menikah kan Lia pada juragan Tan.
"Pak!" Protes Bu Sumi memandang suaminya. "Pak, kamu percaya sama orang kere ini? Mana mungkin dia punya uang satu milyar!" bisik Bu Sumi geram pada suaminya. Pak Bekti tak bergeming.
"Gus! Buka pintu kamar biarkan Lia keluar buat ketemu sama dia." Titah pak Subekti. Yang di susul gerakan cepat Agus mendekat
"Pak!"
__ADS_1
Ada sedikit kelegaan di wajah V akan ada harapan untuk nya bertemu dengan wanita yang dia cintai itu. Walau sebentar.
"Tunggu Gus! Bayar dulu satu juta kalau mau ketemu sama Lia. 10menit." Ujar Bu Sumi menahan langkah Agus tepat di depan pintu kamar di mana Lia di kurung.
Vi hanya menggeleng dengan sikap Bu Sumi. Sejak awal wanita tua itu memang sudah mempersulit keadaan, hanya tak menyangka akan menggunakan kesempatan sampai detik ini. Tanpa ragu dan bantahan, V mengambil dompetnya, mengeluarkan 10 lembar uang merah. Dan letakkan nya di atas meja.
Dengan menyungging senyum, Bu Sumi mengambil uang itu, menghitung lalu menyimpannya.
"Buka Gus."
Dari balik pintu yang mulai terbuka, tampak Lia berdiri , Ia mendengar semua percakapan alot sedari tadi, karena kamar dan ruang tamu hanya bersekat dinding. Termasuk permintaan uang satu milyar dan V menyetujui. Lia melangkah keluar kamar dengan gontai.
V mulai berdiri dari duduknya, berjalan mendekat hingga mereka bertemu pada satu titik. Kedua nya hanya terdiam. Lia bahkan tak mampu berkata, rasa malu akan sikap ibunya yang mata duitan dan terus mengambil untung. Apalagi jika mengingat ia telah menolak pria baik itu saat dirinya di lamar.
Tangan V terangkat membingkai wajah Lia.
"Kamu jadi makin kurus sekarang..."
Kalimat yang keluar dari mulut V yang membuat mata Lia mengembun.
Lia menggeleng.
"Kamu jelek sekali kalau kurus."
Tubuh Lia berguncang, air matanya tumpang juga. Aneh bukan? Selama ini ia bahkan tak pernah meneteskan air matanya. Dia sangat tegar dan kuat dengan semua beban hidupnya. Dan kini bulir bening itu justru keluar saat bertemu lagi dengan V.
Vi memeluk tubuh Lia. Menenangkan gadis yang menangis sesenggukan di pelukannya.
"Aku akan membawa mu pergi dari sini. Kamu percaya padaku kan?" ucapnya mengecup ringan kepala Lia.
Tanpa jawaban, Lia mengangguk. V melonggarkan pelukannya. Menempatkan tanganya di lengan Lia. Mengangkat dagu Lia dengan jarinya agar ia bisa melihat wajah gadis nya. V mengusap pipi Lia yang basah dengan jempolnya.
"Besok aku akan menjemputmu, berdandan lah yang cantik. Hemm?"
Tubuh Lia makin bergoncang, air matanya makin deras mengalir. Baginya ucapan V adalah pengharapan, walau ia tau, seorang pria sederhana seperti V pastilah kesulitan mendapatkan uang 100juta. Namun, justru menjanjikan 1 milyar besok.
__ADS_1
Bagaimana V akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu hari? Lia tak ingin memikirkan itu. Harapan dari V sudah membuatnya bahagia. Walau itu akan menjadi nyata atau tidak.
"EHEM! Sudah sepuluh menit, Lia cepat masuk!" hardik Bu Sumi acuh.
"Masuklah. Makan yang banyak malam ini. agar besok, pipi tembem mu kembali lagi." ucap Vi mencubit pipi Lia dengan sayang.
Lia sesenggukan, air matanya deras mengalir hingga menganak sungai di pipi.
"Kamu percaya pada ku kan?"
Lia mengangguk pelan.
"Bagus."
Vi mencium kening Lia sebelum mereka terpisah lagi.
"Cepetan!" hardik Bu Sumi tak sabar. Melirik Agus agar segera menyeret Lia masuk ke dalam kamar.
"Ayo mbak." pinta Agus pelan.
****
"Jar, siap kan uang 500juta dan bawa ke kampung Xxx."
["Eehh??"] Suara Fajar tampak sangat terkejut
["Banyak banget? Buat apa bos? Jangan-jangan..."]
"Iya, sekalian bawa beberapa orang untuk mengawal, penghulu dan semua nya. Kamu tau maksudku?"
["Oke, siap laksanakan!"]
Vi menutup sambungan telponnya, dari tempatnya duduk di atas motor klasiknya. V mengawasi rumah Lia, ia tak ingin jika Lia sampai di boyong lebih dulu ke rumah Juragan Tan.
"Vi, aku akan menempatkan beberapa orang untuk menjagamu selama di sini." ucap Suga, "Maaf aku nggak bisa menemani mu lebih lama, banyak yang harus aku kerjakan."
__ADS_1
"Aku tau, hati-hati di jalan." jawab V pelan mengantar kepergian kakak dan ipar nya kembali ke kota.