
"Mama ini kenapa sih?" Gumam Suga merasa sedikit heran.
Suga saat itu sedang membersihkan diri di toilet karena habis kena semprot nasi dari mulut Jeni. Suga berjalan keluar dari toilet, Kenzo sudah berdiri di luar pintu.
"Kamu ngapain?"
"Nona Jeni sudah pulang."
"Apa? Setelah menyemburkan nasi ke wajahku, berani sekali dia pulang tanpa pamit." Suga menggerutu kesal dan berkacak pinggang.
Kenzo tersenyum mengejek.
"Apa arti senyum itu?"
"Tuan Suga, kenapa seorang Mysopobia seperti anda menerima saja semua ini?"
"Apa maksud mu?"
"Yeah, pertama bercinta di toilet, lalu cicak, dan di semprot nasi. Buahaha..."
"Kenzo! Kau di pecat!" Ujar Suga melenggang pergi.
Seketika tawa Kenzo terhenti.
"Tuan Suga tak punya sisi humor."
###
Jeni berjalan dengan tergesa di dalam gedung kantor tempatnya bekerja. Ia menepuk dada nya beberapa kali, agar emosi nya rontok dari dalam dadanya.
"Kenapa dengan tuan muda itu? Kenapa terus saja membuatku kesal?" Gumam Jeni mengipasi wajahnya."Rasanya panas sekali setiap kali memikirkan dia. Apa dia begitu sangat terobsesi padaku?"
Jeni duduk di ruang kerjanya. Membuat banyak laporan dan lain sebagainya. Saat ia sedang sibuk-sibuknya, pintu ruangannya diketuk, tanpa menunggu di persilahkan tamu nya menyelonong masuk. Membuat Jeni terkejut.
"Astaga..." Ucapnya terperangah. Suga sudah duduk di sofa tamu.
"Apa yang membawamu kemari?"
"Apa?" Balas Suga santai melintangkan tangannya di punggungan sofa dan melipat kakinya."Ini kantor milikku, teserah aku mau dimana."
Jeni menyentak nafasnya kesal.'Kenapa aku bisa punya bos yang sangat childish seperti ini.' pikirnya.
"Jadi disini kamu melarikan diri?"
__ADS_1
"Apa maksud tuan Suga saya melarikan diri?"
"Setelah kau menyemburkan nasi kewajahku langsung melarikan diri dari tanggung jawab."
"Itu karena anda bicara dengan tanpa di pikir kan." Balas Jeni mencoba bersabar.
"Tunangan, sebentar lagi, kita akan menikah, kenapa duduk berjauhan. Kemarilah."
Jeni tertewa mengejek.
"Kenapa tawa mu mirip dengan Kenzo? Aku tidak suka."
"Kalau tidak suka kenapa malah kemari?"
"Cepat duduk kemari tunangan! Jangan buat tuan Suga menunggu." Ucap Suga tak sabar.'kenapa gadis ini lamban sekali?'
Jeni menghela nafasnya sabar. Dari ruangannya yang hanya bersekat kaca transparan itu. Jeni melihat keluar. Hampir semua tim-nya melihat kearah ruangannya dengan mata penuh tanya dan penasaran. Mereka langsung pura-pura sibuk begitu menyadari Jeni menatap keluar.
'Jika begini terus, apa aku harus menerima pernikahan ini?' kata Jeni dalam hati yang kebetulan saat itu sedang melihat forum pekerja yang ramai membicarakan dirinya.'Untuk apa dia kesini?'
"Tunangan, kemarilah. Apa kau tak lihat para tim mu melihat kemari?"
Jeni beranjak dari duduknya mendekati Suga, ia sudah memilih sofa yang sedikit jauh dari Suga. Namun pria itu sudah berdecak.
Jeni yang sudah membungkuk hendak duduk itupun terpaksa mendekat dan duduk disamping Suga, begitu melirik ke luar ruangannya para karyawan menjadikan mereka tontonan.
"Sebenarnya apa tujuan anda kemari tuan Suga."
"Tentu saja untuk menegaskan hubungan kita di depan pablik."
Jeni menyipitkan matanya tidak mengerti. Suga tersenyum kecil.
"Seperti ini."
Suga melintangkan tangannya memeluk pundak Jeni, sementara tangannya yang lain meraih tengkuk gadis itu. Wajahnya perlahan mendekat dan menyatukan bibir mereka. Menggulum lembut mulut Jeni yang perlahan terbuka oleh kekagetan bersamaan dengan netranya yang melebar.
"Ka-u..."
"Apa kau akan menamparku?" Suga tersnyum sinis melihat Jeni mengangkat tangannya. "Kita ini sebentar lagi menikah, apa yang akan mereka pikirkan jika melihat mu menamparku setelah kita berciuman tadi."
"Kau licik sekali."
"Apa? Kau mau lagi, baiklah," Suga tak menggubris umpatan Jeni, ia justru semakin mendekat dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
"Uummmpp..."Jeni membekap mulutnya yang tiba-tiba merasa mual. Dan tanpa aba-aba langsung memuntahkan di tubuh Suga.
Suga sangat terkejut mendapati tubuhnya kena muntahan Jeni. Netranya melebar dan kaki nya melebar menghindari muntahan, namun apa daya. Tetap kena juga.
"Kau.... Punya dendam apa padaku?" Hardik Suga kesal sekaligus jijik. Mendapati sebagian tubuh depan nya kena muntahan Jeni.
###
Di mansion utama.
Mega masih duduk di atas sofa ruang utama. Ia beberapa kali melihat jam dan menatap ke pintu utama mansion.
"Ini aneh, sudah hampir petang kenapa Suga masih belum juga pulang. Mama Susy juga." Gumam Mega menautkan alisnya.
Merassa sangat bosan, Mega memutuskan untuk keliling mansion saja sembari mengingat kenangan selama dulu ia sering main dan menginap di sana.
Mencintai Suga dan juga V. Dua pria tampan kakak beradik itu. Menjadi kekasih Suga, namun juga bermain dengan V. Sangat menyenangkan saat melihat kedua kakak beradik itu memperebutkan dirinya. Hingga V pergi dari mansion dan Suga justru memintanya pergi dari kehidupan sang kekasih. Hati Mega merasa sangat hancur, namun, itu juga oleh ulahnya sendiri.
Kini, ia sudah kembali, untuk Suga. Mega sudah sadar telah salah membagi hati nya dengan V. Hingga dua bersaudara itu bertengkar. Mega sadar, jika hanya Suga yang bisa membuatnya tergugah.
Mega berhenti di depan sebuah bangunan yang sedikit menyendiri yang kesemua sisi terbuat dari kaca. Disanalah tempat favorit nya dan Suga berbagi kasih walau belum menikah
Memang selama berpacaran dengan Suga. Mereka sudah berhubungan cukup jauh, bermain di atas ranjang adalah hal yang biasa bagi mereka. Namun, Mega tak cukup puas, hingga V pun ikut dia nikmati.
Mega memasuki ruangan itu. Menyapu setiap sudut ruangan yang penuh kenangan akan gairah mereka berdua semasa pacaran.
"Suga, apa kau ingat masa indah itu? Kenapa kau menolakku pagi ini? Apa perasaanmu telah pupus untukku?"
Mega mendessaaahh pelan. Ia teringat lagi apa yang membuat nya kembali, teringat dengan adegan dimana tangan Suga masuk kedalam baju Jeni.
"Aku, tak bisa membiarkan ini. Akan kutemui gadis murahan itu. Tak akan kubiarkan Suga menikah dengannya."
###
Disisi lain, Yovie yang melihat berita tentang Jeni dan Suga di internet melebar matanya.
"Dia, sok suci sekali padaku, tapi nyatanya bermain begini juga dengan CEO Suga. Benar-benar rubah." Gumam Yovie jengkel karena Jeni selalu mendapatkan yang lebih baik dari nya dengan wajah pas Pasan. Sementara dirinya yang cukup cantik itu justru mendapatkan Verel yang sebenarnya juga dia rebut.
"Hmmm.. apa sih istimewanya Jeni? Sampai Seorang Suga juga tergoda padanya? Jelas aku lebih cantik dari dia. Aaahh,, mungkin karena tuan Suga belum bertemu denganku. Mungkin jika bertemu denganku akan jatuh juga padaku, seperti varel."
Yovie terus tersenyum-senyum sambil menggeleng penuh percaya diri."Baiklah, akan kudekati dia."
Bersambung...
__ADS_1