
"Buk, motor Lia ilang buk."
Lia akhir nya mengguncang tubuh ibu nya, dengan malas sang ibu menoleh pada Lia, membuka sedikit mata dan menatapnya sebentar.
"Motor Lia ilang buk."
"Ilang?"
"Nggak ada di parkiran." ucap Lia masih panik dan gelisah. "Buk, temenin Lia bikin laporan ke polisi buk."
"Haaahh?" Bu Sumi segera bangkit menatap anaknya masih dengan mata yang malas membuka.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Temenin Lia bikin laporan kehilangan ke kepolisian buk." ulang Lia.
"Eehh, sembarangan mau ke polisi. Motor kamu nggak hilang kok."
wajah Lia tampak sangat lega, "Syukurlah kalau nggak hilang." ucapnya penuh syukur."Ibuk parkir di mana?"
Bu Sumi menatap Lia lama, dengan kening yang makin lama makin berkerut.
"Buk, Lia udah mau telat buk, ibuk parkir di mana motornya?"
"Ibuk parkirin di tukang loak." tukas Bu Sumi kembali berbaring menunggui Lia dengan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Lia terbengong, mulutnya terbuka mendengar keterangan sang ibu.
"Mak-maksud ibuk?"
Lia menggoyangkan lagi tubuh ibunya dan menarik pelan selimut hingga tersingkap.
"Maksud ibuk, ibuk jual?"
Dengan sangat malas Bu Sumi bangun dan menatap nyalang pada Lia karena sudah mengganggu tidur nya.
"Iya! ibuk jual. Ibuk butuh uang buat di kirim ke bapak. Dia sudah di tagih sama rentenir." ketus Bu Sumi.
"Terus Lia kerja pake apa buk?"
"kamu kan bisa naik ojek. Atau minta aja itu pacar kamu antar jemput. Biar guna dikit dia."
"Buk!"
__ADS_1
"Udah Lia! Ibuk nggak mau debat! Kamu mau kerja apa nggak? Udah jam segini. Telpon Vicky Vicky mu itu buat anter!"
Lia mengurut dada nya sabar.
***
"Kamu bertengkar lagi sama ibuk?" tanya Vi saat dalam perjalanan mengantar Lia ke kantornya.
Lia memilih diam tak menjawab. Enggan rasanya membicarakan sang ibu. Meski itu dengan kekasih nya V, rasanya tidak pantas membicarakan orang yang sudah melahirkan nya.
Vi tau, apa yang Lia alami. Kemarin siang, sebelum Bu Sumi menjual motor Lia, Motor itu di cuci lebih dahulu di carwash milik V, tanpa Bu sumi tau.
Saat itu Fajar yang kebetulan mengerjakannya. Merasa curiga, dengan motor yang dirinya cuci mirip milik kekasih bosnya, Fajar membuat obrolan ringan sambil mencari informasi. Dari sana Fajar tau jika Bu Sumi adalah ibu Lia dan bermaksud untuk menjualnya.
Dari Fajar lah, V mendapat informasi itu, dan meminta Fajar untuk mewakili membelinya dengan harga yang pantas.
"Makasih ya V." ucap Lia begitu mereka sampai di depan Kantor.
Vi menatap Lia dengan iba, sangat di sayangkan, Lia memiliki seorang ibu yang sangat egois dan mata duitan. Padahal Lia adalah pribadi yang baik.
"Nanti aku jemput."
"Kamu masuk apa di resto?"
"Nggak usah V, nanti aku naik ojek aja." ucap Lia tak tega juga jika V sampai repot seperti itu ditengah dia yang sedang bekerja.
"Aku lebih nggak rela kalau pacarku yang cantik ini di boncengin sama pak ojek. Kalau dia suka sama kamu gimana? Terus kamu juga suka sama dia karena ganteng? Nanti aku tersingkir..."
Lia tertawa kecil.
"Nah, kalau ketawa gini kan cantik." puji V menyentil hidung Lia.
"Sudah ya, aku masuk dulu. udah bel masuk."
"Oke. Jangan naik ojek. tunggu aku jemput."
Lia membalas dengan anggukan.
###
Sore hari nya, sebelum Lia keluar dari gerbang di kantornya. V sudah stand by di atas motor klasiknya.
Sore ini V berencana untuk melamar Lia, ia tak ingin menunda lagi dan membuat Lia sedih oleh ulah sang ibu. V ingin melepaskan Lia dari rong-rong an keluarganya.
__ADS_1
"Vi!"
Vi menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Udah lama?" tanya Lia berjalan mendekat.
Vi mengambil helm dan memasangkannya di kepala sang kekasih.
"Mampir dulu ke resto ya."
"Oke."
Sesampainya di resto, V menggandeng Lia memasuki resto, menuntun menaiki tangga menuju bagian teratas dari resto itu. Di bagian atas yang menjadi bagian resto bertema rooftop itu terlihat indah dengan banyaknya bunga dan meja kayu yang tertata sangat rapi.
Lia memandang dengan takjub setiap sudut rooftop dengan senyum kecil di wajahnya. Menikmati tempat yang di hiasi oleh untaian lampu yang masih belum menyala, langit pun masih terlihat terang dan cerah sore itu.
Puas mengedarkan pandanganya Lia memandang V yang perlahan melepas genggamannya. Pria tampan itu tiba-tiba bersimpuh di depannya. Di belakang V dari arah bawah muncul balon-balon yang berterbangan.
Lia terbengong dengan apa yang baru terjadi. Melihat balon-balon bertebaran semakin banyak.
Semakin lama, balon itu semakin banyak dan terkumpul membentuk sebuah kalimat lamaran. Lia berganti memandang V yang tersenyum dan mengulurkan sebuah balon yang terkait pada sebuah cincin.
Mulut Lia terbuka, dengan cepat dia menutupnya sebelum sesuatu terbang memasuki rongga mulutnya.
"Menikahlah dengan ku. Seperti kataku sebelumnya, dua bulan aku akan melamar mu."
Lia terdiam dengan pandangan mata yang terus bertumbu pada wajah V.
"Percayalah padaku, aku akan membahagiakan mu, aku akan menjagamu, menjadikan mu ratu di istanaku. Menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hati dan hidupku."
"Menikahlah dengan ku Lia."
Lia terdiam... Ia sangat tersentuh dengan semua perlakuan dari V. Pria baik yang selalu ada untuknya. Membantunya saat ia dalam kesulitan. Sudah tentu Lia pun ingin menikah dengan nya, menjalani sisa hidup bersamanya.
Tapi, kehidupannya sangatlah rumit dan sulit. Ibu dan bapaknya sudah pasti akan menolak bila V datang ke rumah untuk melamar. Tanpa perduli seberapa besar cinta yang mereka punya.
Lia menggigit bibirnya, makin besar dan nyata bayang itu di matanya. Lia tak akan sampai hati melihat V di injak-injak oleh keluarga nya, terutama ayah dan ibunya.
"Terima kasih V."
Vi mengulas senyumnya. Dia lalu berdiri dan menyematkan cincin itu di jari manis Lia.
"Aku yang berterima kasih."
__ADS_1
bersambung....