
"Buka! buka buk! Lia nggak mau nikah sama bang Tan! Dia sudah beristri!"
"Buukkk!!"
"Bapak!!"
"Lia nggak mau! lepasin Lia! Lia bakal dapatin uang buat ibuk dan bapak lebih banyak. Lepasin Lia!"
Lia terus berteriak menggedor-gedor pintu kamarnya yang di kunci dari luar.
"Dengar! Nggak ada siapapun yang boleh bawa Lia keluar!"
Bu Sumi memperingatkan ke tiga anaknya yang terlihat sangat prihatin dengan Lia. Bagaimanapun Bu Sumi sudah sangat keterlaluan, jika Lia yang menjadi penghasil uang selama ini saja bisa bapak dan ibuk perlakukan seperti ini. Tidak menutup kemungkinan dengan mereka. Semua hanya tinggal menunggu waktu saja.
Lia bersandar pada pintu dengan sedih, ia terduduk memeluk kakinya. Tatapan sendunya serasa kosong.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku nggak mau nikah dengan bang Tan." lirihnya meratap, tentu saja tanpa linangan air mata. Semua itu sudah kering sejak lama, hingga untuk menangis pun Lia sudah tak punya sisa.
"Aku harus kabur. Tapi bagaimana? Aku bisa tertangkap jika tidak membuat rencana." gumam Lia lagi.
"Jeni! aku harus minta tolong padanya. Hanya dia yang bisa di percaya."
Lia beranjak dan berjalan ke pembaringan, di atas kasur mengambil hp nya. Ia mengirim pesan, karena jika menelpon ia khawatir akan di dengar oleh orang rumah dan gagallah semua.
("Jeni, aku sekarang ada di kampung. Ibu menipuku jika bapak sakit. Minggu depan seorang tuan tanah yang sudah beristri akan melamar ku. Aku nggak mau dan berencana untuk kabur. Bisakah kamu membantuku?")
pesan di kirim.
["Lia kamu yang sabar. Aku akan datang membantumu. Apa yang harus aku lakukan?"]
balasan dari Jeni Lia terima tak lama setelahnya.
["Ceritakan padaku lebih detail."]
Balasan lain Lia terima dari Jeni.
__ADS_1
Lalu mengalirkan lah semua cerita tanpa Lia kurang dan tambahi. semua sesuai apa yang terjadi, dan dia sangat mengharapkan bantuan dari sahabatnya itu.
["Baiklah. Aku akaan menjemputmu. Pastikan kamu sendiri juga aman."]
["Aku tunggu kabar selanjutnya"]
Lia pun membuat suatu rencana kabur dengan Jeni. Sahabatnya itu hanya perlu menunggu nya di persimpangan jalan. Lia sendiri akan mencari jalan keluar untuk kabur dari rumah. Mungkin melalui jendela yang kebetulan belum di pasang teralis. seperti kamar adik dan kakaknya yang lain.
Hari yang ditentukan tiba. Lia sudah bersiap, memastikan luar jendela aman. Ia mencoba membuka jendela kamarnya. Untung saja bapak dan ibunya lupa. mereka bahkan tidak menempatkan penjaga di sana. Memang sudah sejak awal Lia tak pernah membuka jendela agar rencana nya berhasil.
Lia menyeret tas ransel nya sampai di depan jendela. Menyibak gordennya, terdengar suara kunci pintu di buka dari depan. Gegas Lia menutupi jejak nya dan menyembunyikan ransel agar tak ada yang curiga.
Pintu kamarnya di buka. Yasinta tampak masuk melalui celah dengan membawa sebuah baki berisi sarapan dan minum Lia. Ada sedikit rasa lega karena yang muncul bukanlah bapak dan ibunya.
"Makanlah dulu Li."
Lia bersungut mendekat dengan tetap memasang wajah datar.
"Maafin mbak ya Li. Mbak nggak bisa berbuat banyak." lirih Yasinta duduk di bibir ranjang tepat di samping adiknya.
"Nggak papa mbak." jawab Lia sembari melirik jam dinding.
"Mbak benar-benar minta maaf Lia."
"Iya mbak, nggak usah di pikirin. Mbak Yasinta masuk apa? Ntar telat loh." ucap Lia mencoba mengusir kakaknya agar dia bisa segera kabur. Mengingat Jeni pasti sudah menunggu disimpang depan.
"Masuk pagi Li."
"Ya udah mba, nanti mbak Yasinta telat lagi."
"Lia, Gimana kalau kamu kabur aja?" usul Yasinta lirih sembari menatap pintu. "Nanti, biar mbak bantu kamu."
"Eehh? Nggak usah mbak. Ntar mbak yanag malah kerepotan."
"tapi mbak nggak tega Li kamu sampai di korbanin sama ibu dan bapak"
__ADS_1
Lia menatap wajah kakanya itu, menang tersirat kekhawatiran dan kecemasan. Bisa Lia lihat jika Yasinta tulus ingin membantunya. Tapi, misi kabur ini tak boleh ada yang tau, Yasinta sekalipun
"Mbak, mbak Yas jangan mikirin yang lain-lain. setelah Lia pergi dari rumah ini nanti, kalian yang akan di repot kan oleh ibuk dan bapak. Kalian harus kuat ya, mbak Yas juga pasti mengerti kan posisi Lia?"
"Tentu sjaa Lia! Jika kamu mau kabur, mbak bersedia membantu. Bahkan nanti jika terpaksa mbak yang harus gantikkan, mbak pun terima."
"Makasih mbak." ucap Lia.
Tok tok tok... "ngapain itu? ngobrol lama banged?"
kedua Kakak adik itu melihat ke arah pintu. Lalu Lia bergegas menghabiskan sarapannya agar tak ada yang curiga.
"iya buk, Yas keluar " seru Yasinta.
"Kalau kamu butuh apa-apa, mbak siap membantu." bisik Yasinta sembari mengangkat nampan yang telah kosong itu.
"mbak keluar dulu ya." pamit Yasinta pada adiknya.
"Iya mbak, makasih mbak "
Setelah Yasinta keluar, pintu kembali di tutup. Lia menunggu beberapa saat, dan menajamkan telinga nya. Setelah mastikan rumah tak begitu ramai. Lia melihat jam lagi. Lalu ia mengambil tas, dan menggendong ranselnya.
Lia sudah membulatkan tekat untuk kabur. Dengan berhati-hati Lia membuka jendela, lalu mulai melompati jendela kamarnya dengan perlahan agar tak terdengar. Jantung nya terus berdetak kencang. Dalam hatinya terus berharap agar pelariannya lancar.
Lia berhasil keluar hingga di halaman depan, mengendap-endap dan melompati pagar setinggi satu setengah meter. Jantungnya berdegup kencang, di lihatnya sang ibu berbelok di ujung gang rumahnya. Sepertinya ia baru dari warung Bu Lastri.
Gegas Lia bersembunyi di antara rimbunan pohon pisang milik tetangga samping rumahnya. Jantung nya terus mengentak kuat , ia mengintip dari balik batang pohon pisang berharap sang ibu tak melihatnya.
Jalanan tampak kosong. Sepertinya, Bu Sumi sudah masuk ke halaman rumah, tak lama terdengar suara derit pintu pagar yang ditutup.
Lia bernafas lega, 'Syukurlah,'
Lia melangkah lagi, ke arah yang berlawanan dari Bu Sumi muncul tadi. Lia sampai di belokan menuju simpang tempat Jeni menunggu. Selangkah demi selangkah Lia tapaki dengan kewaspadaan.
Simpang sudah tampak, mobil yang mungkin milik Jeni pun sudah terlihat. Lia memantapkan lagi hatinya. Mengayunkan kaki dengan mantap.
__ADS_1