Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 70


__ADS_3

Di kampung tempat kelahiran Lia,


Kediaman Bu Sumi dan pak Subekti mendadak ramai, barang-barang dari sana di lempar keluar dengan sangat kasar.


Suasana sangat kacau dan ramai. Warga banyak yang berdatangan namun tak satupun dari mereka yang berani, hanya menonton saja dari luar halaman. Dan berbisik membuat gosip.


"Tolong, jangan usir kami juragan!" Mohon Bu Sumi memelas memeluk kaki Bang Tantoro.


"Saya nggak akan ngusir kalau Bu Sumi bisa membayar utang kalian."


"Kami kan sudah mencicil nya Minggu lalu, juragan."


"Iya, benar. perjanjiannya adalah pembayaran setiap Minggu. Dan Minggu ini Bu Sumi belum bayar." Jawab Bang Tan enteng duduk di sofa tamu milik Bu Sumi.


"Ini baru terlambat dua hari juragan." ucap Bu Sumi masih memeluk kaki Bang Tan.


"Dua hari itu tetap terhitung terlambat."


"Makanya, kalau nggak bisa bayar itu, ya jangan ngutang !" seru anak buah Bang Tan yang mengeluarkan barang-barang Sumi secara paksa.


Pak Subekti mendekat pada pria yang membawa tivi milik keluarga nya yang dulu di beli oleh Lia.


"Tolong pak, ini jangan di bawa." pinta nya menahan.


"Minggir nggak!?" sentak pria suruhan Bang Tan dengan sangat galak dan mata mendelik. Nyali pak Subekti menciut.


"Itu adalah bunga selama dua hari. Jadi siapkan saja uang nya besok. jika besok masih tak ada uang juga, terpaksa saya harus mengusir kalian." Tukas bang Tan sambil berdiri dan mendorong tubuh Bu Sum yang memeluk kakinya.


" Karena sudah tak ada benda berharga lagi di sini!" Sambil memandang setiap sudut ruangan itu.


Lalu pria berkumis tebal itu berjalan keluar dengan angkuhnya. Di ikuti oleh dua anak buah nya yang lain. sementara satu yang membawa tivi sudah keluar duluan dan standby di belakang setir.


"Huhuhu.... kenapa nasib kita jadi begini pak?" tangis Bu Sumi yang masih tertunduk di lantai.


"Sudah buk, maafkan bapak yang sudah tua dan tak berdaya ini." ucap pak Subekti mendekat dan mengurut punggung istrinya.


"Terus gimana pak? Lia masih belum kirim uang, Lisna juga sudah ikut dengan suaminya di desa sebelah. apa kita ke sana saja minta uang?" usul Bu Sumi menatap harap pada suaminya."Utang ini juga kan karena Lisna juga pak."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti sore kita ke sana."pak Subekti menyetujui,"Sekarang kita bereskan dulu yang ada di rumah ini."


Sore hari nya, pak Subekti dan Bu Sumi berboncengan dengan motor butut menuju rumah menantu dan anaknya, Lisna. Yah, pak Subekti terpaksa memakai motor butut karena motor nya yang bagus sudah ikut ke ambil oleh sang tuan tanah, Tantoro. Sebagai bunga pinjaman tiga Minggu yang lalu.


Sesampainya di rumah Lisna,


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." jawab Lisna membukakan pintu rumahnya.


"Ibuk? Bapak? ada apa ke sini?" tanyanya mencium tangan keduanya bergantian. "Masuk dulu pak, buk."


Kedua nya masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa yang empuk.


"Lis, kamu masih ada uang simpanan nggak?" tanya ibuk langsung.


"Uang?" dahi Lisna mengerut tak ramah.


"Iya, Lis."


"Sudah Lis, tapi sudah kepake uangnya. Tadi siang Tantoro datang ke rumah. Rumah mau di sita Lis, tolong kasih ibuk uang buat bayar utang."


Wajah Lisna berubah tak senang


"Kenapa nggak minta Lia aja sih buk? Dia kan masih lajang, nggak banyak kebutuhan nya. Beda sama Lisna, buat bayar cicilan mobil mas Aldan, buat tabungan biaya lairan nanti juga. Belum buat makan sama arisan Lisna. Lisna nggak bisa buk."


"Ya itu, Lis, uang buat biaya lairan saja ibuk pinjam dulu. Kamu kan belum hamil Lis."


"Ya nggak bisa buk, nanti mas Aldan marah. Itu buat persiapan lahiran kok di pinjemin. Lagian ibuk pinjem mau balikin kapan?"


Bu Sumi mengurut dadanya.


"Ya Alloh Lis, sama ibuk sendiri kok kamu kayak gitu? Ini juga ibuk sampai utang juga karena kamu loh."


"Ibuk kok jadi itung-itungan sekarang? Ibuk minta ajalah sama Lia atau Yasinta yang masih lajang itu. Capek Lisna, Mas Aldan juga bentar lagi pulang. Ibuk sama bapak juga pulanglah! Lisna jelas nggak punya uang." jawab Lisna makin ketus.


Lisna berdiri dari duduknya dan menunggu di depan pintu jelas sekali ia mengusir kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sudah buk, kita pulang saja. Lisna sudah berkeluarga, kita nggak bisa ganggu-ganggu dia." ucap pak Subekti berdiri dan langsung berjalan ke pintu keluar.


"Tapi pak...." Bu Sumi masih keberatan.


"Sudah buk, kita masih ada Yasinta dan Lia. Kita minta mereka saja."


Bapak dan ibuk akhirnya pulang dengan tangan kosong. Di teras depan rumah, pak Subekti dan Bu Sumi duduk sambil ngopi. Bu Sumi memijit pelipisnya yang pusing.


"Gimana kita dapat uang nya pak."


pak Subekti masih terdiam.


"Pusing ibuk pak, Yasinta ada uang, tapi cuma dua juta. Nggak cukup buat bayar angsuran yang Lima juta ke Tantoro." Bu Sumi terus mengeluh.


"Buk, kamu masih punya emas kan? gimana kalau jual emas itu dulu."


"Apa pak?" Bu Sumi yang awalnya bersandar dan memijit pelipisnya itu langsung bangkit tersentak.


"Iya, emas milik ibuk." ulang pak Subekti,"Itu kalau bapak itung ada lah 20juta."


"Ya nggak bisa lah pak."


"Nggak bisa gimana buk? dari pada kita di usir?"


"Itu perhiasan ibuk pak, kalau itu jual, ibuk mau pake apa?" tukas Bu Sumi dengan wajah kesal.


"Ya Alloh buk, dari pada kita di usir buk, nggak punya rumah kita." Tutur pak Bekti lagi memberi pengertian.


"Nggak mau pak! Itu perhiasan ibuk. Ibuk nggak mau jual pokoknya, malu ibuk kalau pas arisan nggak pake emas."


"Terus ibuk lebih mau kita nggak punya rumah? Mau tinggal di mana buk?"


Bu Sumi masih keukeh dengan pendiriannya tak mau menjual perhiasannya.


"Nanti, ibuk biar tanya sama Lia. Dia pasti punya uang, dia anak kita satu-satunya yang punya jabatan." putus Bu Sumi dengan muka di tekuk.


"Terserah ibuk lah."

__ADS_1


__ADS_2