
Dirumah, selama di tinggal dinas oleh Suga, Jeni hanya berbalas pesan dengan Lia. Sore ini mereka berencana ke mal setelah Lia pulang kerja.
"Lia!"
Liana melambaikan tangannya di depan mal.
"Lia, aku kan sudah bilang akan menjemput mu kenapa malah langsung kemari?"
"Mal ini kan ada di antara kantor dan rumah mu. Akan lebih cepat jika aku langsung kemari dan kita bertemu di sini saja. dari pada kamu harus memutar."
"Tetap saja...."
"Sudah lah, jangan cemberut begitu. jadi nggak cantik kan?"
"Haaahh,, baiklah." Jeni menghela nafasnya.
"Wah, sudah besar saja, kapan hpl nya?" Lia mengusap lembut perut Jeni.
"awal bulan depan."
"Oohh, dia bergerak." pekik Lia yang merasakan pergerakan dari dalam perut Jeni, diakhiri dengan tawa riang.
"geli nggak?"
"Geli, udah ayo masuk."
kedua wanita itu bersamaan masuk kedalam mal, berkeliling dan masuk ke beberapa toko. Jeni yang di dampingi oleh orang suruhan Suga, menarik lengan Lia memasuki sebuah toko tas branded.
"Ayo, pilihlah satu, aku mentraktirmu."
Lia tertegun.
"Tapi di sini mahal-mahal."
"Sudahlah, aku hanya menghabiskan uang suamiku yang sedang bekerja keras sekarang. Jadi aku tidak akan rugi. Karena aku hanya pengangguran. Ayo pilihlah."
Lia tersenyum kecil dengan lelucon sahabatnya itu.
"Atau, kamu mau aku yang pilihkan?" Jeni mengerling nakal.
"Iya,iya, siapa sih yang bisa melawan nyonya besar."
Setelah memilih satu tas, mereka keluar dari toko. Barang-barang yang Jeni beli di bawa oleh orang-orang suruhan Suga. sementara Lia yang tak enak hati membawanya sendiri meski Jeni memaksanya untuk menyerahkan bawaannya pada pengawal yang mengikuti mereka.
"Lia, bagaimana kalau kita makan mie instan ala Korea di kos mu?"
"Boleh,"
"Kamu ada stok mie nggak?"
"Ada."
"Heemmm.... kalau begitu kita beli yang tidak ada saja. Jamur Enoki ada nggak?"
__ADS_1
"Nggak."
"Baiklah, ayo kita ke supermarket bawah." ajak Jeni menarik lengan Lia, saat itu hp nya Lia berdering.
"Sebentar, aku liat dulu siapa yang memanggil." ucap Lia sedikit memelankan langkah nya.
"Oke." Jeni melangkah mendekati eskalator, saat kakinya memijak, seorang anak tiba-tiba menyelonong menubruk Jeni. Jeni yang kehilangan keseimbangan oleng dan jatuh.
"Kyaaa......"
"Jeni!" teriak Lia yang melihat Jeni terjatuh dari Eskalator tanpa ia sempat menolongnya. Sementara orang suruhan Suga yang mengikuti Jeni sedang sibuk dengan belanjaan milik Jeni. Sedangkan yang satu lagi mencoba menangkap Jeni menggunakan tubuhnya sebagai bantalan agar Jeni tak terlalu parah jatuh nya.
Lia berhambur menghampiri Jeni. Sementara yang orang-orang pengunjung mal histeris melihat Jeni jatuh berbantal salah satu orang Suga.
"Nyonya...."
"Jeni! Kamu baik-baik saja."
"Aakk.. perutku sakit.." rintih Jeni memegangi perutnya. Rembesan darah mengalir keluar dari jalan lahir dan sekitar lantai tempat dia jatuh.
"Aakkk...."
"Nyonya!"
"Jeni!"
"kita bawa kerumah sakit dulu." kata salah satu pengawal jeni panik.
"Baik." jawab seorang pengawal jeni membopong tubuh nyonyahnya.
("Halo sayang.")
"Tuan Suga, Jeni jatuh dari eskalator, sekarang kami dalam perjalanan ke rumah sakit." terang Lia cepat.
Setelah menyebutkan nama rumah sakit yang di tuju. Lia lalu menutup telponnya. Sesampainya di rumah sakit, Jeni langsung mendapatkan perawatan. Lia menanti dengan cemas di depan ruang tindakan. Tak lama Suga datang dengan terburu-buru dan wajah pucat saking cemasnya.
"Apa yang terjadi?" Suga berteriak dengan salah satu orang nya.
"Maaf tuan. kami kurang waspada, teledor dan tidak sigap." tunduk pengawal Jeni dengan penuh penyesalan karena orang yang di percayakan justru berakhir di ruang tindakan.
Wajah Suga tampak sangat marah, mata nya mendelik menatap kedua orang pengawal jeni. Tangannya mengepal kuat. Lia mendekat walau ia juga takut.
"Maaf, mungkin mereka memang teledor. Tapi mereka juga meminimalisir jatuhnya Jeni. bahkan paman ini mengunakan tubuhnya sebagai tameng agar Jeni tak terluka parah. Saya rasa, dia pun mengalami sakit karena menahan tubuh Jeni." Sela Lia
"Kau!" Suga melirik Lia dengan mata yang merah berapi.
"Saya mengerti perasaan tuan, Kita tunggu saja, semoga nyonya baik-baik saja. Saya yakin jika nyonya sadar dan anda berlaku tidak adil pada orang yang mungkin sudah berusaha menyelamatkan nya, Nyonya Jeni akan sangat kecewa pada anda, tuan Suga." Kenzo menyentuh pundak Suga.
Suga mencoba menetralkan amarahnya. Mengatur nafas yang sudah tak tentu itu.
"Aku mengerti."
Dengan lemas, Suga berjalan ke depan pintu ruang tindakan. "Jeni, baby, aku harap kalian baik-baik saja. Maafkan aku yang tak bisa menjaga kalian."
__ADS_1
"suga!"
Mama Diana dan papa Roman berlarian ke arah Suga dengan cemas dan Khawatir. Suga berbalik dan menatap mertua nya.
"Apa yang terjadi?"
"Papa...." Suga memeluk tubuh papa Roman. "Istriku... anak ku..."
"Jangan cemas, Jeni kuat. Mereka pasti selamat."
"Suga!"
Kini mami Susy yang datang.
"Jeni...." Mami Susy Segera menyambut pelukan sang anak memberinya kekuatan.
"Dia di dalam... Dan masih belum keluar mi."
Pintu ruang tindakan di buka, Seorang dokter keluar dari dalam sana.
"Keluarga pasien?"
"Saya suamiinya." ucap Suga dengan sangat cemas.
"Kami harus melakukan sc. Mohon tandatangani prosedur nya." ucap dokter itu.
"Baik. Tolong lakukan yang terbaik."
"Silahkan ikut saya." pinta perawat yang juga baru saja keluar dari ruangan itu.
Setelah menandatangani berkas prosedur SC. Suga dan Keluarganya menanti di depan ruang operasi. Sementara Lia pamit pulang karena ada urusan mendadak.
"Kak." Suara V menyentuh pindah suga yang duduk menutup wajahnya dengan kedua tangan. dengan lemas mengangkat kepalanya.
"V..."
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. kakak ipar selamat, keponakanku juga selamat."
"Terima kasih."
Ruang operasi terbuka. Semua yang sedang menunggu bergerak mengerubungi dokter yang bertugas.
"Operasinya berjalan dengan lancar. Sementara pasien akan ditempatkan di ruang isolasi."
"Syukurlah.." suara syukur serentak terdengar.
"Bagaimana dengan bayi nya?"
"Bayi nya laki-laki dan akan ditempatkan di ruang khusus."
Suga merasa lemas, sangat bersyukur tak kehilangan salah satu apalagi keduanya.
"Terima kasih dokter."
__ADS_1
Bersambung....
Bersambung..