
Suga membisu, bola matanya bergerak menyelami dalamnya jendela hati wanita yang kini berada di bawah tubuhnya. Ia melihat ada genangan di sana. Bibir Suga bergerak, menelan ludahnya pelan.
"Anakku, bagaimana keadaannya?"
"Entahlah, mama nya terguncang karena sang papa terlambat datang di hari pernikahan."
"Oh ya? Biar kulihat."
Suga menelusup kan tangannya memeluk tubuh Jeni. Wajahnya mendekat dan perlahan melummat bibir lembut wanita yang sudah hampir menangis itu. Lidah keduanya saling membelit, tangan Jeni terangkat memeluk leher Suga. Pangutan Suga terhenti kala keduanya sudah kehabisan nafas.
Dengan mata menggantung, Suga menyusuri leher jenjang Jeni, menyibak rambut panjang yang berantakan menutup i sebagian lehernya. Menarik.handuj yang masih menutupi tubuh sanga istri.
Suga berguling hingga jeni kini berada diatas tubuhnya. Tangan Suga mengurut punggung dan pinggang Jeni lalu menggeser tubuhnya ke atas. Mengecup dada hingga perut Jeni yang masih rata. Jeni menduduki perut Suga tangannya meraba dada bidang Suga yang masih mengenakan toxedo. Melucuti satu persatu pakaian pria itu.
Tangan Suga dengan nakalnya bermain pucuk kemerahan bagai setroberi yang menggoda untuk dilahap. Dengan tak sabar Suga menjatuhkan tubuh Jeni diatas peraduan melepas sendiri sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Suga menarik tubuh Jeni mendekat seperti bayi yang kelaparan, dia melahab benda kemerahan dipucuk tertinggi milik istrinya.
Jeni melenguh, tangan Suga menjelajahi setiap inci tubuh istrinya. Dan berakhir di pusat Jeni. Berhenti di sana dan bermain dengan sangat lihai.
Mulut Jeni terbuka lebar, merasakan setiap sengatan menyenangkan yang menjalari setiap tubuhnya. Tangan nakal Suga membuat Jeni kepayahan. Tangan itu menahan tangan Jeni yang mulai memberontak, menggulum lagi bibir lembut gadis itu. Tangan Suga yang lain mengangkat kaki Jeni ke atas dan melintangkan diatas pinggulnya. Kaki Jeni yang lain mengikuti. Mencapit pinggul Suga. Dengan hentakan ringan Suga mencoba menerobos pertahanan Jeni tanpa melepas gulumannya pada puncak tertinggi milik istrinya.
Piton Suga siap memasuki sarangnya, namun ia tak ingin bermain cepat.
"Ayo sayang, kita bermain sedikit lama." Bisik nya lalu menggulum daun telinga Jeni.
"Shiitt!"
Malam itu menjadi malam yang cukup panas dengan pertempuran sengit keduanya. Suga menggempur pertahanan Jeni untuk kedua kalinya setelah untuk yang pertama bagi mereka dulu. Jeni pun tak mau kalah dengan sangat arogan membalas setiap sentuhan serangan dari Suga.
Keesokan paginya, Suga membuka matanya, mengerjab dan menggosok matanya beberapa kali. Ia melihat tubuhnya, toxedo masih melekat lengkap di sana. Ia memelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencoba mengumpulkan memorynya.
"Apa mungkin setelah itu aku kembali mengenakan semua pakaian yang ribet ini?" Gumam nya.
Suga melihat berkeliling lagi, ruangan yang sangat rapi memandang sepray yang masih tampak rapi. Hanya ia tak mendapati Jeni di kamar itu.
"Ini aneh, padahal aku yakin sekali melakukan itu dengannya semalam. Apa dia bangun lebih dulu? Lalu memakaikanku pakaian ini karena malu?"
Suga terkekeh kecil. "Baiklah, akan aku tanyakan padanya." Gumam ya lagi beranjak dari peraduan.
Dengan riang gembira Suga memasuki kamar mandi, bersiul-siul tak jelas. Lalu keluar dengan badan yang segar membuka lemari dan memilih baju terbaik. Dengan langkah penuh percaya diri keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Pagi, papa Roman." Sapanya pada sang mertua yang sedang membaca berita di gatjet nya.
"Heemmm.." dehem Roman tanpa menoleh. Suga hanya mengangkat alisnya. Lalu berjalan ke meja makan.
"Pagi mama Diana." Sapanya sok ramah pada mama mertua yang tengah membereskan meja makan. Suga memang kesiangan hingga melewatkan sarapan.
__ADS_1
"Pagi juga. Sini sarapan. Mama tinggalin satu porsi untukmu."
Suga duduk dan celingukan.
"Mana dia?"
"Dia siapa?"
"Jeni, istriku."
"Oohh, Jeni ada di taman belakang. Jam segini kalau libur Jeni suka berenang."
Suga manggut-manggut sembari menikmati sarapannya.
Seusai sarapan Suga berjalan kearah taman belakang, di kolam renang Jeni memainkan tubuhnya di dalam air, meliuk kesana kemari menyiprat air ketepian setiap kali tubuhnya bergerak.
"Hei!" Panggil Suga di pinggir kolam.
"Apa?" Sahut Jeni berhenti di tengah kolam sambil mengusap wajahnya.
"Apa,, semalam kita melakukannya?"
Jeni mengernyit, tampak bingung.
"Melakukan apa?"
"Apa itu?"
"Iiisshhh..." Dengan wajah kesal Suga membuang wajah kesamping. Lalu kembali menatap istrinya dengan sebal."bercinta, apa semalam kita bercinta?"
Jeni makin terlihat bingung, "bercinta apa? Kita saja tidur di kamar yang berbeda."
"Benarkah?" Suga tampak sangat terkejut. "Jadi, maksudmu aku hanya bermimpi?"
Jeni terkekeh mengejek. "Apa kau sangat menyukaiku sampai memimpikan nya?"
Jeni melanjutkan lagi berenang. Semnatara Suga terlihat kesal memecah air dengan tangannya. Dari sudut bibir Jeni terangkat keatas.
.
.
V sedang dalam masa mengobati hati nya. Dia yang duduk dengan kanebo ditangannya menatap banyak nya kemdaraan yang keluar masuk di carwash ditempatnya bekerja, yang sebenarnya salah satu usaha milik V.
Dari sana dia melihat seorang yang sedang kepayahan mendorong motor di bawah terik matahari. Jiwa sosial nya terpanggil untuk membantu. V berjalan mendekat setelah meletakkan kanebo lembabnya di pagar Beton carwash.
__ADS_1
"Kenapa?"
Gadis berambut panjang itu menoleh dan memindai V. "Bocor."
"Tambal ban masih jauh, istirahat aja di sana." Kata V sembari menunjuk ruang tunggu carwash miliknya. "Aku kerja di sana. Biar aku yang bawa ke tambal ban." Sambungnya merasa kasihan pada gadis yang sudah bercucuran keringat itu.
"Enggak makasih. Aku dorong sendiri saja."
"Kamu kelihatannya capek, juga pucat pasti udah cukup jauh kan dorong nya. Udah jangan bandel, tunggu di sana." Ucap V lagi mensejajari gadis itu yang masih terus berjalan sambil mendorong motornya.
"Enggak makasih." Gadis itu masih kekeh menolak.
Vi memindai lagi gadis yang keras kepala itu. "Ya udah biar aku aja yang dorong." Ucap V lagi mengambil alih stang motor dan mendorongnya.
"Aku nggak ada niat buat bawa kabur motormu. Atau modusin kamu. Aku hanya kasihan." Jelas V sambil mendorong dan melihat sekilas gadis yang memegangi jog motor.
"Yaahhh, oke. Baiklah." Sahut gadis itu mengusap keringatnya dengan tisu wajah.
"Siapa namamu?"
Gadis itu tertawa mencemooh.
"Ini bukan modus, nggak enak kalau bicara Sementara kita nggak tau namanya. Panggil aku Vicky. Kamu siapa?"
Gadis itu memutar matanya malas.
"Kalau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa."
Gadis itu membuang nafasnya kasar.
"Liana."
V manggut-manggut. "Nama yang bagus."
Bersambung...
Readers kasih semangat dong, biar Othor up terus setiap hari.
like
komen
kasih vote
kasih Gift
__ADS_1
terima kasih