
"aku nggak menyangka, Jeni ternyata mendapat seorang Suga." gumam Verel, melempar kasar gadget nya. setelah melihat berita terbaru di online news. "Sialan!"
"Padahal aku sudah berniat untuk kembali padanya. Kalau sudah begini tak mungkin juga aku bisa kembali. Dia sudah jelas mendapatkan pria yang tampan dan kaya." gumam Verel menggeretakan gigi nya.
"Yovie, dia sama sekali tidak berguna selain di ranjang. Aaahh, sial."
Verel terus bergumam kesal, "Ahh, sudahlah, kalau lagi kesel gini mending main sama Yovie. Toh kami sama-sama butuh untuk kepuasan."
Verel menyeringai kecil, mengendarai motor nya menuju kosan Yovie. Sesampainya dia di kosan Yovie, Verel mencoba menghubungi nomor gadis itu. Namun tidak tersambung.
"sial! apa dia memblokir ku?" gumam Verel lagi. "kemana dia?"
"kamu..... bukannya cowoknya Yovie ya?" sapa seseorang yang melintas di depan Verel memarkirkan motornya.
"Anda siapa ya?" tanya Verel sedikit tak suka,
"Aku penghuni kos ini juga."
"oohh, kebetulan aku lagi nyari dia. Tau nggak kemana?"
"Yovie kan udah pindah. katanya sih mau ke kota sebelah."
"Apa?"
'Mau ngapain dia disana? Kota itu bukankah tempat diselenggarakannya acara pernikahan Jeni?" gumam Verel, "Apa dia bermaksud menggoda suami Jeni? Huuhh, dasar rubah."
.
.
.
Suga ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang. Jeni terkejut dengan kehadiran suaminya itu yang tiba-tiba sudah berenang di dekatnya.
"kau!"
"apa? Apa aku tak boleh berenang?"
"Aku sedang kesal padamu! Tidak ingin dekat-dekat dengan mu. Kalau kau berenang aku akan naik ke permukaan." ucap Jeni berbalik dan berenang ketepian Suga mengikuti.
"Hey, Kenapa kau kesal pada ku?" Suga mengikuti Jeni yang sudah keluar dari kolam dan tengah mengeringkan rambutnya.
"kenapa? Jadi kau tidak merasa?" tanya Jeni datar tanpa melihat pada Suga.
"Merasa Apa?"
"Kau sangat menyebalkan, bahkan kamu nggak tau apa kesalahan mu." lontar Jeni menatap Suga dengan jengkel.
"Apa?"
"Dia ini beneran bodoh atau hanya pura-pura bodoh?" gumam Jeni membuang nafasnya.
"Apa kau lupa kau hampir di gantikan oleh adik mu Vi?"
"Hampir. Hampir Jeni. Aku datang di waktu yang tepat."
Jeni tertawa jengah,
"Sebenarnya kau sudah terlambat 3jam. 3 jam tuan Suga!" geram Jeni mengangkat tiga jari nya didepan Suga.
Suga terdiam, memang akhirnya dia yang menikahi Jeni, tapi, itu tidak melepas dari dirinya yang terlambat hingga 3 jam.
"Aku, di jebak."
__ADS_1
Jeni tertawa jengah memalingkan wajahnya.
"Mega...."
"Aahh, mantan mu itu ya?"
"Kamu tau?"
Jeni mengibaskan tangannya lalu berpaling.
"Aku tertahan di apartemennya."
"Wuaaahh.... luar biasa."
"Dia membiusku."
"Hahahah..." Jeni hanya tertawa jengah menanggapi.
"Kenzo yang membawaku pergi sebelum dia bertindak lebih jauh."
"Wuuuaahh... Kenzo sangat luar biasa, mungkin sebaiknya aku menikah dengan nya bukan denganmu."
"Apa?" Suga tampak tak senang." Ucapan macam apa itu?"
Jeni memandang Suga yang juga menatap tajam padanya.
"Jika bukan karena bayi ini, aku juga tak mau menikah dengan mu." tutup nya sembari berlalu pergi.
.
.
.
"Maaf
Jeni menghela nafasnya, memang saat itu ia mabuk dan sibuk merayu Suga yang dia pikir adalah Verel. Hingga malam laknat itu terjadi. Ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Suga. Walau sebenarnya pria itu bisa saja menolak, tapi, kenyataan justru mereka berakhir di ranjang yang sama.
"Iya, mari kita lupakan saja. Jika kau sangat terpaksa menikah dengan ku, saat anak ini lahir nanti, kita bisa bercerai. Reputasi perusahaan mu juga tidak akan terlalu berpengaruh. Kelak, jangan asal melecehkan wanita di depan umum."
"Aku tidak melecehkan, kau tau sendiri situasinya. Aku sedang mengambil cicak." elak Suga mengingatkan tragedi cicak yang berujung pada pernikahan ini.
###
Hari berlalu, Suga sudah bekerja, begitupun dengan Jeni. keduanya berangkat bersama karena itu untuk membangun citra pasangan pengantin baru itu dan perusahaan Relay.
Di ruangan Suga,
"Apa kau bilang? Teman Jeni?"
Fokus Suga mendongakkan kepalanya memandang salah satu sekertaris nya yang menyampaikan jika Salah satu teman Jeni ingin bertemu untuk meminta pekerjaan pada Suga langsung.
"Kenapa teman dia menemui ku hanya untuk sebuah pekerjaan?" Suga bergumam.
"Suruh masuk saja."
"Baik." tunduk sekertaris wanita nya itu.
"Aku akan tau apa tujuannya setelah bertemu." gumam Suga lagi.
Tak lama pintu ruangannya di buka. Sekertaris Suga mempersilahkan seorang wanita yang cantik dan seksi masuk. Suga memindai penampilan wanita itu.
"Dia ini mau cari kerja apa jual diri?" gumam Suga berdecak tak suka, sambil menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
"Duduk." ucap Suga mempersilahkan. Wanita itu duduk di sofa tamu dimana Suga tadi tunjuk. Di seberangnya, Suga menjatuhkan bobot nya.
"Mana resummu?"
Wanita itu mengulurkan sebuah map. Suga menerima dan mengeceknya.
"Sebenarnya ini sudah menyalahi aturan. jika ingin kerja, maka masukkan lamaran ke bagian HRD, bukan padaku." ucap Suga dengan satu alis terangkat. "Nona Yovie Ariyani."
"Maaf, sebenarnya saya sudah memasukkan ke bagian HRD, untuk departemen terkait yang kosong. Tapi, mengingat, Jeni adalah sahabat ku dan Tuan Suga adalah suaminya. Saya pikir tidak masalah jika menggunakan koneksi agar lolos."
Suga tertawa..
"Tidak ada koneksi di sini. Jika kamu memang mau menggunakan harusnya melalui istriku bukan langsung bertemu denganku." ucap Suga mencoba mengingat nama yang tak asing itu.
'Dimana aku pernah mendengar Nama Yovie? dia bilang sahabat Jeni, tapi saat pernikahan kami,sepertinya dia tak ada...' pikir Suga dengan sedikit curiga.
"Dan, sebagai informasi saja, kami memilih berdasarkan kemampuan. Jika kamu mampu, kami pasti pertimbangkan."
"Aahh, maaf.."
"Yovie... Dimana aku pernah dengar nama ini ya!?" gumam Suga, lalu ia flash back pada MLM dimana Jenin terus mengumpat dan akhirnya mereka melakukan hubungan itu.
'Pria ini sangat mempesona, dia sempurna dari sudut manapun.' batin Yovie terus memandang Suga dengan wajah yang kian menghangat.
Suga tersenyum licik Kala ingat Siapa Yovie. wanita yang telah merebut kekasih Jeni hingga akhirnya membuat Suga merasakan keperawanan Jeni.
"Aku akan memanggilmu secara pribadi jika kau diterima."
"Benarkah?"
Wajah Yovie terlihat sangat senang.
'Wah, sepertinya aku berhasil. Tunggu saja, akan ku rebut kamu seperti Verel dulu.'
'Aku lebih pantas dari segi apapun dengan mu dari pada Jeni.' Begitulah isi pikiran Yovie dengan senyum liciknya.
"Yovie..."
Yovie mengulas senyum kepercayaan diri nya, berjalan mendekat pada Jeni yang terlihat sangat terkejut dengan penampakannya kala itu.
"Hai,, lama tak bertemu sahabat?" sapa Yovie mengulurkan tangannya.
Jeni hanya melirik tangan itu mengambang tanpa ada niat menjabatnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jeni Datar, dengan pandangan yang entah apa. Merasa tak mendapatkan sambutan tangan dari Jeni, Yovie memilih menarik balik tangannya.
"hmmm.. kita mungkin akan menjadi rekan."
"Rekan?"
Yovie tersenyum dengan sangat angkuhnya.
"Apa kau sekarang jadi lebih bodoh setelah menikah dengan Tuan Suga?"
"Aaaahhh, jadi kau kemari untuk mengambil Suga dariku?"
Yovie terkekeh kecil, lalu berubah menjadi gelak tawa.
"Kau sebaiknya mempertahankan posisimu, jika tidak ingin kehilangan."
"Aahh, benar juga. Akan aku ingat nasihat mu. Sebagai informasi saja, Suga berbeda dengan Verel." balas Jeni enteng, melanjutkan langkah kakinya melewati Yovie."Jadi, selamat berjuang."
"Kita lihat saja, apakah dia akan berpaling padaku? Atau tetap setia padamu?"
__ADS_1
Bersambung...
_____