
"Apa?"
"Lancang sekali kalian menyerahkan wanita yang sudah aku tandai pada pria lain!"
Suara lantang penuh amarah bang Tan memenuhi ruang tamu Bu Sumi dan pak Subekti. Wajah pria seumuran adik Bu Sumi itu tampak merah menahan amarahnya yang meluap dan meletup.
"siapa yang berani membawa calon istri ku itu?"
Mata merah dan hampir keluar dari rongga mata itu itu terus mendelik menyisir seluruh rumah. Bu Sumi tampak tenang. Karena dia punya uang tentunya.
"Dia! aku mau dia sebagai pengganti Lia!" tunjuk Bang Tan pada Farah yang lemas dan kuyu membayangkan dirinya akan ikut ditumbalkan oleh ibunya seperti Lia.
"Tidak bisa. Farah masih sekolah!" ucap Bu Sumi menolak keras.
"Apa?" bang Tan mendelik semakin lebar."Lalu dengan apa kau akan membayar utang padaku? Kamu pikir hutang kalian itu sedikit Haahh?"
"Tentu saja. Kami akan membayarnya! 150juta kan?" ucap Bu Sumi dengan remeh dan sombong."Agus, panggil bapak mu! Suruh ambil uang 150juta." sambungnya lagi dengan suara lebih keras.
"Ya buk." sahut Agus keluar dari rumahnya untuk memanggil sang bapak yang sedang keluar entah ngapain.
"Jangan lupa serahkan sertifikat rumah ini pada ku saat ini juga "
"Helehh? kenapa wanita tua ini santai saja? Apakah dia punya uang banyak sampai bisa begitu berani?" gumam Bang Tan keheranan dengan sikap Bu Sumi yang drastis itu.
Tak lama pak Bekti kembali bersama Agus.
"Ada apa ini buk?" tanyanya begitu masuk ke dalam rumah.
"Ini pak, juragan Tantoro nagih utang."
"Ya sudah, kasih saja yang nya." tukas pak Bekti melangkah masuk mengambil uang.
"Serahkan sertifikat rumah kami!" hardik Bu Sumi semakin berani.
Melihat pak Bekti keluar dengan tumpukan uang berbendel itu bang Tan mengulas senyum..
"Sudah pasti mereka punya uang, pasti dari orang yang membawa Lia pergi. Maka aku juga bisa licik." gumam Bang Tan pelan.
"Huuhh, kalian sudah mengulur waktu sampai sekarang, enak sekali cuma kasih 150juta. Utang itu sudah berbunga hingga 500juta. Bayar sebanyak itu. atau dua anak gadis kalian jadi milikku. ha-ha-ha"
"Apa?" pak Bekti dan Bu Sumi serentak menegakkan kepalanya mendengar penuturan bang Tan.
Mereka pun berdebat sengit karena uang yang di minta bang Tan separuh dari uang yang mereka dapat dari V. Rasa nya sangat tak rela melepas uang 500juta itu. Tapi bang Tan lebih punya kuasa, bahkan para premannya pun maju memukul pak Bekti.
__ADS_1
"Bagaimana ini pak?" bisik bu Sumi melihat suaminya tersungkur dengan satu pukulan.
"Buk,apa jangan-jangan juragan Tan sudah dengar tentang uang satu milyar itu ya?" balas pak Subekti meringis menahan sakit.
"500juta bukan uang yang sedikit."
"Tapi bapak juga nggak rela jika harus menjual Yasinta dan Farah. Tinggal mereka yang kita punya buk. Tak apa 500juta kita berikan, masih ada 500juta di rekening " Tutur pak Bekti memberi usul dan pandangannya.
"Ya sudah, terserah bapak saja."
Juragan Tan dan pak Bekti akhirnya sepakat. Setelah kepergian juragan Tan, Bu Sumi terduduk lesu di teras rumahnya.
"Haduh, pak!!" Bu Sumi mengeluh dengan mengurut dada nya berulang kali."Uang 500juta melayang begitu saja."
"Mau gimana lagi buk, kita nggak punya pilihan. Ibuk rela kalau rumah ini di robohkan?" Tukas pak Bekti memegangi pipinya yang lebam.
Bu Sumi masih saja terlihat sangat susah kehilangan 500juta nya. Bayangan diri nya yang ingin membeli puluhan mobil dan ratusan perhiasan sepertinya harus ia tahan dulu.
Bu Sumi harus menggunakan uang 500juta dengan hati-hati agar tak cepat habis.
***
Di lokasi lain.
Lia terkejut melihat wajah V begitu membuka matanya. Hampir saja dia berteriak jika tak ingat pria itu sudah meminangnya beberapa jam yang lalu. Jadi hal yang wajar jika V kini tidur di bawah selimut yang sama dengan nya.
Wajah Lia menghangat, kala tangan kokoh V merengkuh tubuhnya mendekat. Hingga mereka tak berjarak lagi. Nafas Lia berubah menjadi cepat dan hangat, kepulan nya membentuk asap tipis di tengah hawa dingin yang menyerang malam itu.
"V-Vi? A-aku... kebelet pipis." lirihnya hampir tak terdengar, wajahnya sudah sangat memerah saat itu.
"Aku... kebelet pipis..." lirih Lia lagi karena V tak kunjung melepaskan pelukannya.
'Uuggghh,, gimana nih? Aku udah nggak tahan.' pikir Lia merasakan tubuhnya semakin mepet saja. Tangan kokoh suami nya itu justru semakin erat memeluknya.
"Vi... Aku sudah di ujung..."
Pelukan V melonggar, dengan wajah yang masih memerah Lia beranjak dan menuruni ranjang.
"Aku kedinginan. Jangan lama-lama."
Lia menoleh, mata V masih terpejam, tapi bisa bersuara. Sungguh aneh. Lia bergegas memasuki kamar mandi setelah sempat salah membuka pintu lemari.
Selesai menuntaskan urusan mendesak nya, Lia keluar dari kamar mandi. Dengan langkah ragu mendekati ranjang yang mana V terbaring di sana. Ini pertama kali nya dia berbagi ranjang dengan seorang pria. Sudah pasti dirinya merasa tak nyaman. Tapi, V adalah suami sahnya, tak mungkin juga mereka tidur terpisah. Lia hanya perlu membiasakan diri.
__ADS_1
Kruuuyyyuuuuukkk.....
Suara perut Lia tiba-tiba berbunyi, membuat wajahnya kian menghangat.
"Kamu lapar?" V membuka matanya.
"Aku belum makan."
V bangun dari pembaringan, entah sungguhan tidur atau tidak dia dari tadi.
"Aku masak sesuatu buat mu."
"ini di mana?"
"Pakai jaket mu di luar dingin."
***
"Benar! kenapa dingin banget?" tanya Lia memeluk tubuhnya sendiri yang berbalut jaket.
"Ini letaknya memang di daerah pegunungan. Malam atau pun siang sama bagusnya kalau nggak berkabut." terang V menuruni anak tangga menuju dapur.
"kamu mau lihat?"
Vi menoleh pada Lia, tanpa menunggu persetujuan istrinya lagi. V menarik tangan Lia, membawanya mendekati sebuah jendela yang lebar dan tinggi. V menyibak gordennya, mendorong jendela perlahan hingga terbuka lebar.
Hawa dingin yang segar khas pegunungan menerpa kulit Lia, Matanya di manjakan oleh gemerlap lampu-lampu rumah penduduk yang tersusun dan tertutup kabut tipis.
"Indah nya!"
Lia terperangah dengan pemandangan di hadapannya.
"Apa aku ada di Nepal?"
Vi tertawa kecil.. "Suka?"
Lia mengangguk cepat dengan senyum lebar.
"Tunggu di sini, aku buatkan penghangat tubuh." kata V berjalan beberapa langkah lalu kembali lagi.
"Ada yang tertinggal."
Vi mendekatkan wajahnya, memiringkan kepala dan mencium pipi tembem Lia. Wanita nya itu membelalak.
__ADS_1
"Tunggu menu utamanya." bisik V mengerling menggoda sebelum melangkah pergi membiarkan Lia terbengong.