
Bu Sumi ditemani Yasinta pergi ke kondangan di kampung sebelah, tak jauh dari rumah Lisna.
"Yas, nanti kita ke rumah kakak mu ya." ajak Bu Sumi saat menyantap hidangan prasmanan di hajatan salah satu saudaranya.
"Rumah mbak Lisna buk?"
"Iya. Mbak mu kan tinggal dia."
"Mewah juga ya hajatannya Lukman. Punya Lisna aja kalah, habis berapa ya ini Yas?" sembari memandang setiap sudut ruangan yang sangat luas itu.
"Nggak tau buk." Yasinta malas menanggapi.
"Kalau Lia jadi nikah sama juragan Tan, pasti lebih mewah dari ini Yas, yakin ibuk."
Yasinta memutar matanya malas.
"Ibuk nyesel jual Lia sama pacarnya? Satu milyar loh buk."
"Eh, kamu kok bilang gitu. bukan satu milyar, yang 500 diambil juragan Tan. Tinggal 500 aja belum di kurangin beli motor buat kamu sama Agus."
"ya kan kemarin di belinya satu milyar, buk"
"Duit nya makin menipis Yas." Bu Sumi mengeluh lagi dengan dessahan nafas berat dan susah.
Bu Sumi dan Yasinta datang juga ke rumah Lisna setelah selesai kondangan. Sesampainya di rumah Lisna yang saat itu sedang hamil muda. Bu Sumi membawa oleh-oleh beberapa buah dan makanan.
"Ibuk, maaf ya buk, Lisna nggak bisa kasih apa-apa. Teler Lisna buk." ucap Lisna lemas.
"Nggak papa Lis. Suami mu masih kerja?"
"Sabtu nggak libur ya?"
"Nggak buk. Lagi lembur mas Aldan." jawab Lisna lagi lesu.
"Ibuk kok bawa banyak banget buah sama makanan?" tanya Lisna heran melihat banyak nya oleh-oleh dari ibunya di atas meja.
"Iya mbak, ibuk lagi punya banyak uang." jawab Yasinta sebal. Ia cukup kesal dengan sang ibu yang sangat mengagumkan anak sulung nya itu. padahal karena dialah Lia sampai di jual dan hampir jadi penebus utang. Tapi penyebabnya sama sekali nggak mau bantu.
"Ibu banyak uang? dari mana buk?" tanya Lisna bersemangat.
"Jual Lia." ketus Yasinta
"Hus, kamu kok gitu?" ucap Bu Sumi.
"ini, itu dari suaminya Lia." jelas Bu Sumi pada anak sulungnya."Jadi ada orang yang mau nikahin Lia, kasih ibuk duit. lumayan lah."
"Bukan lumayan buk! Banyak malah." timpal Yasinta yang makin kesal melihat kakak nya berniat memanasi."Tau nggak mbak berapa?"
"Berapa? 10juta?"
"Salah, tinggian lagi."
__ADS_1
"25juta?"
"Lebih tinggi lagi mbak."
wajah Lisna sudah sangat jelek, mengingat 25juta adalah harga yang Aldan berikan untuk dirinya.'Sialan, lebih tinggi itu berapa? Masa lebih tinggi dari yang mas Aldan kasih sih?'
"Sudah, ngapain di bicarain lagi." potong Bu Sumi yang melihat gelagat Lisna tak mengenakkan.
"Berapa Yas?" tanya Lisna penasaran.
"Satu milyar."
Mata Lisna membulat, lalu dia tertawa.
"Lucu kamu! Nggak mungkinlah. Dari Mana uang sebanyak itu?" cibir Lisna terpingkal-pingkal.
"Beneran mbak, lihat tuh di depan ada motor baru, terus Agus juga dapat motor baru. utang Juragan Tantoro juga sudah lunas."
Wajah Lisna berubah aneh lagi, melihat motor matik keluaran terbaru di depan rumahnya.
"Beneran buk?"
"Iya, tapi yang 500 melayang diambil Tantoro." cebik Bu Sumi.
"Itu baru yang di kasih ibuk mbak." timpal Yasinta kembali memanasi Lisna."Belum mas kawinnya, kemarin aku dengar, emas 25gram sama motor."
"Kaya banget dong suaminya Lia. Kok nggak ngadain pesta?" Lisna masih penasaran dan ingin tau.
"Di jual?" Lisna menatap sang ibuk yang terlihat
"Iya dan langsung di nikahin sama orang itu. Ganteng loh mbak orangnya."
"Udah Yas, jangan di omongin lagi aah.." potong Bu Sumi sudah khawatir saja jika nanti Lisna minta-minta uang padanya.
"Buk, berarti kalau suaminya Lia kaya, bisa dong ibuk minta tolong sama Lia buat bagusin rumah. Sama bantu biaya bersalin Lisna. Mana tau nanti Lisna sesar kan buk."
"Ya nggak bisalah mbak, kan udah di jual sama ibuk. Udah bikin surat perjanjian juga. Nggak bisa ganggu-ganggu lagi." sela Yasinta
"Yaahhh,, kalau gitu Lisna minta sama ibuk aja dah." dengan nada sedikit kecewa.
"Uang ibuk tinggal dikit Lis, kamu kan nabung kemarin pas ibuk minta. kok sekarang masih mau minta ibuk lagi sih." sewot Bu Sumi, benar dugaannya, Lisna memang mau minta jatah uang darinya.
"Sudah ibuk mau pulang dulu." pamit Bu Sumi mengajak Yasinta.
Tepat di depan rumah Lisna, Salah satu tetangga Pak Bekti datang dengan wajah tegang dan gelisah. Tanpa turun dari motornya berkata...
"Buk Sumi! Gawat, rumah ibuk kebakaran."
"Apaaa??"
"Ayo cepat pulang buk!"
__ADS_1
Mendengar rumahnya kebakaran, Bu Sumi jadi panik dan bergegas kembali ke rumah bersama Yasinta. Sedangkan Lisna menutup rapat pintu rumah, berharap sang ibu tak minta tinggal di rumahnya.
****
begitu sampai, Bu Sumi lemas melihat rumah itu sudah hangus terbakar. Hanya menyisakan puing-puing nya saja. Bu Sumi meraung menangis,
"Sabar buk."
"Sabar gimana pak? Kenapa kita harus mengalami ini pak? apa salah kita pak?" tangis Bu Sumi meraung di tanah depan pintu gerbang rumahnya.
"Salah kita apa pak? Tinggal di mana kita nanti?"
"Sabar buk, sabar." pak Bekti mengerut punggung istrinya yang terus meraung histeris.
"Kenapa ini terjadi pada kita? Apa salah kita pak?"
****
Disisi lain,
Lia masih tak percaya V adalah adik Suga, bahkan saat pria itu membawa nya mansion mama Susy. Di sana ada Jeni dan Suga yang sedang mengendong Gani. Dan mama Susy yang makin membuat nya terperangah.
"Ibu..."
"Hai Lia, lama tidak bertemu..." sapa Mama Susy ramah memeluk Lia yang masih berwajah bingung.
Vi menatap mama nya dengan pandangan curiga. Lalu berganti memandang lembut Lia.
"Kalian pernah bertemu?"
Lia mengangguk pelan.
"Mama!"
"Kenapa? kami hanya bertemu secara tidak sengaja." jawab mama Susy Enteng, " iya kan Lia?" berganti pada Lia.
Lia hanya mengulas senyum.
"Selamat datang Lia." Kini giliran Jeni yang memeluk tubuh sahabatnya itu. Lia masih terlihat bingung.
****
Malam itu Lia masih merasa sangat asing, terlalu besar perubahan yang dia rasakan. Di balkon kamar nya, menikmati udara malam yang terasa dingin.
"Mikirin apa?" tanya Vi tiba-tiba menelusupkan tangannya di perut Lia.
"Aku hanya merasa..."
Suara dering hp memutus ucapannya. Lia mengambil hp dan menggeser tombol ke atas.
("Mbak Lia, rumah kebakaran...")
__ADS_1