Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 51


__ADS_3

Pagi itu, Lia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Beberapa hari ini ia sangat sibuk. Ia bahkan tak sempat mengecek hp nya dan melewatkan beberapa panggilan.


ia baru keluar dari kamar mandi saat panggilan baru saja berakhir. Jeni berjalan mengambil hpnya yang sedang di Charge dan mengcabut dari salurannya melakukan panggilan balik.


"Halo? Ada apa buk?"


("Lia, kirimkan uang 30 juta.")


"Tiga puluh juta?"


("Iya, kakak mu akan mengadakan lamaran. Calon suaminya seorang pegawai negeri. Jadi setidaknya kita harus membuat acara lamaran yang meriah. Karena itu ibu minta kamu untuk mengirimkan uang 30juta. Kamu tidak pulang juga tidak apa-apa. Yang penting kamu kirimkan uang itu.")


"Tapi Bu, Lia nggak punya uang sebanyak itu."


("Lia, kamu jangan pelit. Kamu itu manager. Masak 30juta saja tak punya?")


"Ibu, Lia hanya seorang kepala bagian Gaji Lia tak sampai 20juta. Bagaimana Lia bisa kirimkan uang sebanyak itu. Dan Lia sudah kirimkan semua uang tabungan Lia untuk biaya pengobatan Farah kemarin."


("Halah, Lia, kamu jangan banyak alasan. Atau kamu memang tidak mau kakakmu menikah hah?")


"Bukan begitu Bu, Lia benar-benar tak punya uang. Lia...."


("Pokoknya kirimkan besok.")


Sambungan telpon di putus. Lia menghela nafasnya berat. Selalu begitu, menelpon hanya membicarakan tentang uang. Lia lelah, memang keluarga nya cukup berada, tapi bukan orang kaya seperti Jeni. Ia juga harus bersusah payah untuk mencapai posisi ini.


Tidak seperti Jeni, Lia harus memulainya dari nol. Lia mengusap wajahnya, merasa beban berat tiba-tiba menindih pundaknya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak 30 juta dalam sekejap?


Meminjam? Tapi kemana? Pada siapa? Ia tak cukup dekat pada bos nya, juga tak memungkinkan untuk meminjam pada teman-teman nya, Ia tak merasa mereka tak akan meminjamkan uang sebanyak itu karena lingkup tempat kerjanya rata-rata orang yang sudah berkeluarga dengan segala permasalahan ekonomi mereka. Ditambah, ia tak yakin bisa membayar dengan cepat mengingat orang tuanya selalu menuntut di kirimi uang setiap bulannya. Dan itu tidak sedikit.


Sementara Jeni, Ia tak ingin merepotkan sahabatnya itu. Walau ia sangat yakin Jeni pasti membantunya jika dia minta. Seperti sebelumnya, saat ia membutuhkan uang untuk jaminan adik lelakinya yang tertangkap karena kasus kecelakaan. Jeni yang membantunya, uang itu pun belum sempat ia kembalikan semuanya. Ia tak punya cukup muka untuk meminjamnya lagi.


"Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu?" gumam Lia, karena permintaan ibunya tak bisa di tolak dan di abaikan.


.


.


.


Hari ini adalah hari libur, Lia memilih untuk mendatangi yayasan milik bang Ipul. Disana ada banyak anak dan mendengarkan mereka melafalkan ayat suci bisa membuatnya tenang.


"Kamu kenapa Lia? Seperti orang susah saja." Suara bang Ipul mengagetkannya.


"Enggak bang, cuma lelah aja."


"Abang sudah kenal kamu lama. Cerita sama abang, mungkin saja Abang bisa bantu."


Lia terdiam sejenak. Ia pikir mungkin kah dia bisa meminjam dari bang Ipul, dia pria yang baik. Isti bang Ipul juga salah satu pengajar pembimbing di yayasan itu.


"UMM... Lia..."


"Bang, Uni Rumi pendarahan. Tadi beliau terpeleset di kamar mandi." kata salah satu anak didik bang Ipul dengan wajah sangat cemas.


"Apa?" bang Ipul lalu berdiri dan segera berlari mengikuti anak didik nya itu. Lia pun reflek ikut.


Uni Rumi adalah istri bang Ipul, dia sedang hamil tujuh bulanan setelah hampir 8 tahun lama nya menunggu di beri kepercayaan oleh yang maha kuasa. Wajar jika bang Ipul sangat khawatir.

__ADS_1


Dengan ambulans milik yayasan, bang Ipul membawa istrinya ke rumah sakit. Lia hanya ikut mengantar sampai halaman saja, bersama beberapa anak didik dan anak asuh bang Ipul.


Dan mengenai niat Lia untuk meminjam pada bang Ipul harus kandas juga.


"Lia."


panggil mbak Risma salah satu pengurus di yayasan bang Ipul.


"Ia mbak?"


"Mbak minta tolong, ambilkan ini di rescue resto ya." pinta mbak Risma menyodorkan selembar kertas nota pada Lia. Lia membacanya.


"ooh, cuma 25 porsi ya mba?"tanya Lia memastikan, karena biasanya jika mengambil pesanan bisa sampai 50an.


"iya Ya, makanya harus di ambil mereka nggak bisa antar."


"Iya mbak."


"Makasih ya Ya."


Sesampai nya di resto.


Lia segera memindahkan beberapa box nasi ke keranjang yang dia tempatkan di bagian belakang jog motornya.


"Biar aku aja yang bawa motor mu."


Lia menoleh pada suara yang sangat dia kenal.


"Vi. Aku bisa kok bawa sendiri."


"Aku yang nggak bisa liat cewe yang aku kenal bawa barang sebanyak ini."


"Tapi,"


"Kamu duduk di sini dulu. Setelah semua barang ini sampai ke yayasan. aku jemput kamu."


Lia pasrah, akhirnya menunggu di resto 30 menit berlalu, V kembali dengan motor matik Lia.


"Makasih ya."


"Kalau beneran mau berterima kasih, traktir aku makan dong."


"Aku sedang tak punya uang."


"MMM... kalau begitu, temani aku jalan-jalan saja. Tidak jauh, ke taman kota saja. Disana gratis." senyuman tak pernah lepas dari wajah V.


"Baiklah."


Setelah menyetujui, V membawa motor Lia berikut pemiliknya ke taman kota.


"Kok tadi lama? Biasanya, juga nggak sampai 20 menit sampai. kalau dari restomu."


"Aku beli bensin dulu tadi."


"Motornya mati?" karena Lia pikir kehabisan bensin.


"Enggak. Cuma bensin nya nggak akan sampai ke mari jadi aku isi dulu."

__ADS_1


"Oohh maaf." Lia mengeluarkan dompetnya lalu menarik uang 20rb dan memberikannya pada V. V menampiknya.


"aku nggak lagi minta ganti Lia."


"Tapi..." Lia ingat, bagaimana kerasnya V dalam bekerja. bahkan pria itu sampai menekuni 3 profesi sekaligus.


"Kamu tau, aku kerja di tiga tempat sekaligus. uang ku banyak."


Lia mengulas senyum.


"Nah, gini kan cantik" puji V menyentuh pipi Lia dengan ujung jarinya.


Lia tersenyum lagi.


"Kamu punya masalah apa?"


"Apa?"


"kamu terlihat berbeda dari biasanya."


"Tidak..." Lia menjeda ucapannya. Ia pikir jika hanya bercerita tidak masalah, setidaknya di bisa sedikit mengurai bebannya.


"Ceritakan padaku. Walau aku hanya bisa jadi pendengar, yah, setidaknya, kamu punya pendengar...."


kedua nya tertawa.


"Mm.. pagi ini ibu di kampung menghubungiku. dia meminta kiriman uang. Yaah, seperti yang kau tau aku tak punya uang."


"Kamu masih punya uang. 20rb."


keduanya terkekeh..


"Benar juga."


"Berapa yang ibu mu minta, tak mungkin hanya 20rb kan? kamu nggak akan memikirkan nya jika hanya segitu."


"30 juta. Dan aku tak punya uang sebanyak itu. Andai saja uang 20rbu ini bisa ku sihir menjadi 30 juta. aku akan sangat senang sekali."


"Kapan batas waktunya?"


"heemm?" Lia menoleh pada V.


"Kapan kamu harus kirim?"


"Besok. Bukankah menurutmu itu gila? Ibuk selalu begitu. Meminta di saat yang sudah mepet. Karena itu aku sedikit bingung. Jika dia memberiku waktu setidaknya 2minggu. Aku masih bisa mengusahakannya pinjam sana sini. Tapi, ah sudahlah."


waktu berlalu, setelah hampir seharian mereka berjalan-jalan di taman kota, V membawa Lia ke kontrakannya. Sebenarnya rumahnya, hanya diakui sebagai kontrakan oleh V.


"Tunggu di sini." pinta V begitu mereka sampai di teras. pria itu lalu masuk kedalam, dan Lia memilih duduk di kursi panjang. Tak lama V keluar,


"Ini."


Lia menatap pada benda yang di bungkus plastik hitam itu.


"ambil."


Lia mengambil dan membukanya. Mulutnya ternganga lebar.

__ADS_1


"Ini."


Bersambung....


__ADS_2