
Sore itu V dan Lia berkendara dengan motor klasik yang biasa V tunggangi. Membawa Lia melintasi perbatasan dan berhenti sejenak di sebuah alun-alun.
"Emang mau buka di sini?" tanya Lia sembari mengoper helm yang baru saja ia tanggalkan pada V.
"Enggak lah, kita makan dulu sambil liat-liat. Kan jarang juga kita jalan-jalan." ucap V menggandeng jemari Lia, menautkan kedua tangan yang berbeda size itu.
Seusai makan dan berjalan-jalan menikmati suasana alun-alun V dan Lia melanjutkan lagi perjalanan mereka. Berhubung sudah semakin malam. Akhir nya V membelokkan motornya ke sebuah penginapan bertema pedesaan.
karena mereka sudah berada di pinggiran desa. Lia memandang setiap sudut tempat yang baru saja mereka lalui. Penginapan itu tak jauh dari kampung halamannya.
"Lelah nya." gumam V menjatuhkan bobotnya di ranjang kamar.
"Aku mandi dulu, badan ku lengket semua." ucap Lia menggulung rambutnya ke atas, menampakkan leher jenjangnya.
"Mandi bareng yuk." V berjalan mendekat.
"Eehh?" pekik Lia terkejut dengan wajah polos yang seketika merona.
"Kenapa? Nanti aku gosokin punggungmu, kamu juga gosok punggungku ya."
Dengan mengerling V menarik tangan Lia masuk ke kamar mandi.
"Mandi sendiri-sendiri aja deh." seru Lia menahan tangannya di tembok samping pintu agar tak ikut terseret V masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu malu ya??" goda V memainkan alisnya.
Wajah Lia makin merona.
"Sudah, ayo.. kita kan dah nikah. nggak papa." V menarik lagi tangannya Lia dengan senyum seringai.
Gadis itu masih kuat memeluk pintu.
"Aku ... aku masih haid V." teriak Lia dengan malu-malu.
V terdiam sesaat, pegangan tangannya sedikit melonggar. Lia menggunakan kesempatan itu menarik tangannya. Dan kabur secepat kilat.
"Kamu mandi sendiri aja deh." tukas Lia menutup cepat pintu kamar mandi.
"Hei, aku cuma ngajakin mandi barang bukan enak-enak." suara V dari dalam kamar mandi mencoba menarik pintu yang menutup itu. Namun Lia menahan ganggang pintu dengan sekuat tenaga.
"Lia! buka!"
"Ogah."
"Buka!"
"nggak!"
V masih mencoba membukanya, namun ia sudah terlalu lelah berkendara tadi. V menghela nafasnya.
"Oke, kalau kamu mau mengurung aku di kamar mandi." ucap nya pasrah. "nggak bakal ku bukain kalau kamu mau pipis." ancam V dengan santai duduk di atas kloset. Lalu mengeluarkan hp dan bermain game online.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Lia duduk tak tenang di pinggir ranjang. Ia gelisah karena menahan kemih yang seperti mau pecah saja. Ia sangat menyesal tadi minum es teh banyak-banyak. Karena siang yang terlalu panas.
Lia berjalan sampai depan pintu toilet yang sedari tadi menutup. Terus ragu, namun rasa ingin pipis terus menyiksanya.
"V..."
"Heem...." sahutan dari dalam.
"Buka V."
"Ougahh..."
"Vi... aku udah kebelet nih."
"Ya udah, ngompol aja sana." balas V dari dalam kamar mandi sembari memainkan game on line nya.
"Vi!"
Hening.
"Vii..... bukak...."
Tak ada jawaban.
"Aku udah di ujung ini...."
"Hiiiihhh, udah ah, aku numpang di kamar sebelah aja." gumam Lia kesal berbalik, berharap V dengar dan mau membuka pintu kamar mandi.
Lia menoleh, terdengar suara kunci kamar mandi di buka. Vi membuka pintu belum separuhnya, Lia Sudah merangsek masuk. Mendorong tubuh V ke samping hingga terpentok pintu dan terbukalah lebar. Dengan terburu-buru Lia membuka celananya dan menuntaskan berkemih.
Wajah lega Lia terlihat, V mengulas senyum masih bersandar pada pintu yang terbuka. Mata Lia membola ketika ia sadar ada sepasang kaki di depannya. Mata Lia menyisir ke atas , paha, pinggang, perut, dada, dan terakhir wajah nyengir V.
Cengiran itu lama-lama melebar dan sangat menyebalkan. V menutup pintu kamar mandi.
"Berhubung kamu sudah sampai sini..." ucap V mengunci pintu toilet. "Ayo gosok punggungku."
Lia pasrah, "baiklah, aku cebok dulu." gumamnya.
V mengukir senyum menang.
***
"Penginapan ini dekat dengan rumah kami yang terbakar." gumam Lia menggosok punggung V.
"Kamu mau ke sana untuk melihat?"
"Boleh?"
"Heemmm..."
__ADS_1
Lia tertegun, gerakan tangan yang menggosok V memelan.
"Sungguh?" Lia memastikan menengok V dari samping dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Heemmm...."
Senyum Lia terkembang, ia kembali menggosok punggung V dengan semangat.
Hening,
"Li ?"
"Heemmm??"
"Sedikit ke kiri, di sana gatal."
"Di sini?" tanya Lia memastikan posisi punggung V sebelah kiri.
"Ke atas dikit."
"Di sini?" tanya Lia lagi setelah menggeser sedikit ke atas.
"Iya, benar, di sana." Angguk V, sebenarnya bukan itu yang hendak di katakan. Ia ingin memiliki Lia seutuhnya, namun mengingat beberapa saat lalu Lia mengatakan masih Haid. V pun urung.
'Bertahanlah junior ku.' batin V memejamkan mata. Meredam hawa panas di tubuhnya.
Seusai mandi bersama, V duduk di atas pembaringan punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Bermain game online di ponselnya. Sementara Lia tidur berbantal paha V. Mengganti cenel tv yang entah tak terlihat begitu menarik.
V melirik Lia, meletakkan hp nya di samping. Ia membungkuk, mengambil dagu Lia dan mencium bibir wanitanya. Dua lidah bergelut manja di dalam rongga yang sama dan bertukar rasa.
"Kapan siklus mu berakhir?" Tanya V menyudahi kecupan nya. Tangan V meraih hp yang tadi sempat ia letakkan di atas bantal samping dia duduk.
"MMM.... Besok."
"Baiklah."
Keesokan paginya, Vi membawa Lia ke reruntuhan rumah nya yang terbakar. Lia menutup mulutnya melihat rumah itu tinggal kerangka yang gosong.
"Ini sudah... " Tenggorokan Lia tercekat,"Di mana mereka tinggal?" gumam Lia dengan suara parau.
"Itu bukan urusan mu lagi, sayang. Mereka bisa tinggal di mana saja, kamu ingat? Mereka memegang satu milyar ditangan."
Lia tersedu, menangis cukup lama menatap bangunan yang terlihat mengenaskan itu.
"Ayo kita pergi." parau Lia
"Kamu nggak mau tau ke mana mereka pergi?"
Lia menggeleng.
"Kita sudah kemari dan mereka tak ada. Seperti yang kamu bilang, ibu punya satu milyar. Mereka bisa ke mana saja."
__ADS_1
V tersenyum tipis. Inilah yang dia harapkan, untuk inilah dia sengaja membawa Lia melewati kampung nya.