
Jeni membuka matanya, ia yang tidur miring ke sisi kiri terkejut melihat wajah tampan Suga yang hanya berjarak beberapa senti saja dari nya.
Pria tampan itu juga sedang tertidur. Jeni memandang wajah Suga, tangannya terulur menyentuh bulu mata Suga yang panjang. Jari Jeni bergeser menyentuh hidung mancung Suga, lalu berhenti di bibir yang menggoda untuk di santap.
Jeni menelan ludahnya susah. "Bagaimana ini? tiba-tiba saja ingin mencicipi rasa bibir yang menggoda ini." gumam Jeni lirih.
"Cicipi saja, kalau itu keinginan baby." bibir yang menggoda itu bergerak, dengan segera Jeni menarik balik jarinya.
"Kau.... pura-pura tidur?"
"Aku baru saja membaringkan tubuhku di sini." Suga membuka matanya, menatap lekat Jeni. "Baru saja menutup mata ini sudah ada yang usil dengan jari nya."
Wajah Jeni merona,
"I-itu, ke baby yang menggerakkan nya." ucap Jeni ngeles dengan wajah yang makin bersemu merah.
Jeni bangkit dari tidurnya. lalu turun dari ranjang.
"Uuhhhh, aku harus segera pergi dari sini sebelum wajah ku meledak karena malu." gumam Jeni yang terus tersipu malu.
"Pesanan mu sudah ada di meja kerjamu."
"kenapa kamu letakkan di sana." protes Jeni menoleh dengan sedikit kesal.
"Ya itu pekerjaanmu."
"Apa?"
Suga bangun dari tidur an nya. berjalan mendekat pada sang istri.
"Itu pekerjaanmu, habiskan semua pesananmu!" lanjut Suga melewati Jeni begitu saja.
Mulut Jeni terbuka membentuk huruf O.
"Pekerjaan macam apa itu? Menghabiskan pesanan?" Jeni menggerutu sambil berjalan menyusul Suga ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan Suga. Dia duduk di kursi kerjanya, sibuk lagi melakukan yang entah apa. Sedangkan Jeni duduk di kursi empuk dan nyaman miliknya. Di atas meja kerjanya bertumpuk makanan tang tadi dia pesan.
Siomay, takoyaki, bakso, kebab hitam dan segelas tinggi ocean blue. Wajah Jeni sumringah.
"Nak apa kamu masih lapar?" kata Jeni mengelus perut nya sedikit menyembul. "Sudah agak dingin sih. Tapi, biarlah. Ayo makan!"
Suga melirik dari ekor matanya, sudut bibirnya terangkat ke atas.
Jeni makan dengan khitmat dan lahab. Sangat tenang.
"Tuan suami? Apa aku masih punya pekerjaan yang lain?"
"Ada." jawab Suga tanpa menoleh, "Balik ke kamar tadi, terus tidur."
wajah Jeni langsung di tekuk. "Pekerjaan apa itu?"
"Nurut. Susah?"
suara dessahan Jeni menjawab Suga. Suaminya itu menarik lagi sudut bibirnya.
Karena merasa bosan, Jeni ijin jalan-jalan.
"Pak Bos!"
__ADS_1
"Hemmm??"
"Aku bosan. Boleh aku jalan-jalan?" pinta Jeni dengan bibir yang sedikit maju. Dan mata memelas.
"Jalan-jalan kemana?"
"Yaah, Cuma keliling gedung saja."
"Baiklah." angguk Suga menyetujui.
"Benarkah?" Jeni berdiri dengan bersemangat. Melangkahkan kaki melewati meja Suga dan berjalan menuju pintu.
"Ayo."
Suara dari balik punggungnya, membuat Jeni melebarkan matanya. ia menoleh, Suga sudah berdiri tak jauh darinya dan membuka pintu.
"Aku temani."
"A-aku bisa pergi sendiri pak Bos."
"Aku tidak keberatan menemani Baby ku. Jangan ke ge-eran deh."
Ucapan Yang terlontar dari mulut Suga membuat Jeni mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
"Kamu senang?"
"Apa baby nya tidak senang jalan-jalan ditemani papa nya?"menatap Jeni intens.
"Baby?"
"Iya! Aku bertanya pada baby nya. Apa kamu pikir aku bertanya padamu?"
Jeni menjadi kesal dengan pernyataan Suga. Sangat kesal.
"Apa kamu senang?" Suga sengaja memiringkan tubuhnya melihat perut Jeni dan menyentuhnya lembut tanpa perduli dengan tatapan sebal dari Jeni.
"Hemmm .. kamu senang." gumam Suga lalu menegakkan lagi punggungnya.
Jeni berjalan mendahului dengan mulut manyun, dan kaki yang sedikit di hentakan ke lantai. Suga menahan senyum geli melihat tingkah istrinya.
"Aku mau ke toilet. Jangan ikut." Seru Jeni berbalik dengan ketus lalu melanjutkan lagi langkahnya.
"Okey!"
Selepas pipis di toilet, Jeni keluar dari bilik merenung. Ia tertegun melihat ada Yovie memakai seragam Relay grub sedang memoles bibirnya di depan kaca wastafel.
Jeni mendessaah kecil, Lalu membasuh tanganya di wastafel tak jauh dari Yovie.
"kau tau? Aku sudah bekerja di sini."
"Selamat." balas Jeni mencoba tak terpengaruh.
"Suga yang menghubungi ku secara langsung."
__ADS_1
Jeni hanya tersenyum simpul. Segera menyelesaikan membasuk tangan dan berjalan keluar.
"Mungkin berikutnya aku akan mendapatkan promosi jabatan,"
"Aku tak perduli." ucap Jeni mengentikan langkahnya tepat di depan pintu toilet.
"Kalau begitu, jangan marah jika aku mendapat perhatian lebih dari tuan Suga." ucap Yovie terus memprovokasi.
Jeni terdiam sejenak. dengan raut wajah yang sulit di artikan. Lalu mendorong pintu toilet di depannya dan melanjutkan langkah keluar dari toilet.
Di luar Toilet, Suga baru saja muncul dari lorong sambil menyimpan HP-nya. Ia sudah mendapatkan tatapan tak mengenakan dari Jeni. Tentu saja dia yang tak tau menahu apa yang Jeni temui di toilet bingung.
Tanpa mengatakan apapun Jeni berjalan lebih dulu. Mereka melewati lorong office, berjalan hingga ke taman di tengah bangunan. Jeni yang masih berjalan mendahului berhenti di sebuah kolam ikan yang ada air mancurnya.
"Bisakah kamu tangkapkan aku satu ikan?" pinta Jeni menunjuk satu ikan berwarna Oren.
"Ikan buat apa?"
"Aku hanya ingin memelihara ikan."
"Nanti aku minta Kenzo membeli di pasar ikan, sekalian akuarium nya." ucap Suga enteng tanpa memperhatikan ekspresi Jeni yang bete dan cemberut."Kamu mau yang besar apa yang kecil?"
"Kenapa wajah mu jelek begitu?" pertanyaan tak berperasaan Suga lontarkan tanpa mengoreksi kenapa Jeni sampai di tekuk-tekuk mukanya.
"Aku mau ikan ini!"
"Bukannya kamu mau pelihara? Kalau begitu beli saja di pasar ikan, bonus aquarium."
"Kau tidak mengerti. Bayi nya mau ikan yang di sini." rengek Jeni dengan mimik muka mau menangis.
"Haaahh.... Terus saja mengadi-adi." ucap Suga membuang mukanya.
"Bukankah kau bilang akan sedia untuk anak ini? Jadi aku tak boleh mengeluh?"
"Iya, baiklah. akan aku tangkapkan." jawab Suga mengalah. Wajah Jeni sudah sumringah."Tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
Suga menunjuk bibir nya . "Ini dulu."
"Apa itu?"
"Kiss!"
Jeni menyipitkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak mau? Tidak ada ikan tangkapan ku."
Jeni melangkah mendekat dan memeluk leher Suga. memiringkan wajahnya, menutup mata dan menempelkan bibir nya pada bibir Suga.
Dua lidah bertemu, saling membelit dan bertukar ludah. Tangan Suga terangkat memeluk punggung Jeni.
"Sudah." Jeni melepas pangutannya dengan tersipu malu."Tangkapkan ikan untuk ku."
Suga melepas pelukan, lalu merogoh kantong nya. Mengeluarkan hp dari sana dan mengusap layar, sesaat ia menatap gawai nya.
"Nanti. Sekarang panas. Aku mau kerja dulu." ujar Suga berlalu sambil melakukan sambungan telpon.
Jeni menghela nafasnya sebal. Melirik pada Suga yang seolah tak perduli dan mengingkari janjinya.
__ADS_1
Bersambung....