
Sore itu, V kembali ke rumah Bu Sumi. Sesuai janjinya jam tiga tepat, setelah semalam ia menginap di hotel terdekat dan mengurus beberapa hal.
Dengan dua mobil, yang berisi kan beberapa orang yang mengawal, penghulu dan petugas KUA. Fajar memiliki koneksi yang membuat segalanya menjadi mudah.
"Waahh, berani datang juga kamu." sambutan sinis dari Bu Sumi di depan pintu begitu melihat rombongan V melangkah memasuki pintu pagar.
Bu Sumi menatap orang-orang yang berjumlah sekitar 7 orang itu. Dua diantaranya membawa dua tas besar yang terlihat berat.
"Apa duwit satu milyar cuma segitu?" gumam Bu Sumi.
"Ayo masuk dulu." pak Bekti mempersilahkan.
Setelah semua orang duduk di ruang tamu. Tanpa basa basi Bu Sumi menanyakan perihal uang satu milyar tanpa malu.
"Ini uang satu milyar?" Bu Sumi menunjuk dua tas di atas meja.
"Itu hanya 500juta. Cash."
salah seorang pengawal V membuka resleting tas dan tampak lah tumpukan berbindel uang merah.
Mata pak Bekti langsung hijau. Tangannya bergerak dengan cepat hendak mengambil tas berisi uang itu. Namun tangan pengawal V lebih cepat menahan.
"Halah, kami kan minta 1 milyar bukan 500juta." sewot Bu Sumi setelah matanya sempat terbelalak dan liurnya sedikit menetes.
Walau 500juta, mereka masih untung. 350juta sisa untuk membayar utang pada sang tuan tanah. Tapi, bukan Bu Sumi namanya jika menyerah begitu saja dan tidak mendapatkan uang 1 milyar itu. 500juta hanya opsi lain. Jika kepepet.
"Sisanya akan saya kirim ke rekening." ucap V menjelaskan. "Sebelum nya, saya mau bertemu Lia dulu. Dan menikahkan kami saat ini juga. Dan...." V mengeluarkan beberapa lembar kertas di atas meja.
"Silahkan di baca."
pak Bekti mengambil kertas itu dan membacanya.
"Setelah kalian tanda tangani, uang ini milik kalian. Dan 500juta sisanya akan masuk ke rekening anda setelah ijab kabul selesai." terang V lagi.
"Oohh, jadi hanya menandatangani ini? Baiklah." tanpa ragu pak Bekti menandatangani kertas perjanjian itu.
"Gus, bawa kakakmu kemari!" titah pak Bekti selesai menandatangani kertas itu lalu mengambil dua tas yang besar dan berat di atas meja.
"Ini beneran 500juta nggak?" Bu Sumi dengan nada curiga.
"Silahkan di hitung." jawab V enteng dan tenang.
__ADS_1
Melihat ketenangan V, pa Bekti yakin. "Sudah buk, ngapain ngitung uang sebanyak ini. Sudah pasti 500juta ini." bisik pak Bekti sembari mengelap liurnya yang menetes.
Pak penghulu dan yang lainnya hanya bisa menggeleng melihat tingkah pak Bekti dan Bu Sumi.
Lia terlihat cantik walau hanya dengan make up tipis dan kemeja pink dengan di padupadan kan dengan celana jeans.
Lia duduk di samping Bu Sumi, tentu saja karena tangan gadis itu di tarik agar duduk di sana oleh sang ibu.
"Mana 500juta sisanya?" ketus Bu Sumi, Lia menunduk malu. Kini ibu Sumi bahkan menjual dirinya pada orang yang terus menerus diremehkan oleh sang ibu.
"Setelah ijab Kabul. Siapkan saja nomor rekening nya."
"Ya sudah, kita percepat saja." usul pak Bekti tak sabar ingin segera memiliki uang 1 milyar.
"Fajar! Mahar nya." lirih V melirik tangan kanannya itu.
"Siap."
fajar mengeluarkan satu kotak berisi emas hantaran dan kunci motor beserta BPKB nya. Pandangan mata Lia terpantik pada BPKB dan kunci motor dengan gantungan bulu halus yang sangat dia kenal.
Hati nya tiba-tiba terenyuh. Rasa sesak yang memaksanya terisak lirik. Suara lantang pak Bekti dan di sambut oleh suara tegas dalam satu tarikan nafas nya. Membuat Lia mengucap syukur.
Bukan Bang Tan, tapi V yang kini menjadi suami nya meski harus melewati perjalanan dan halangan yang cukup berat.
Yasinta memeluk Lia dengan haru, ia bersyukur, Lia tak jadi menikah dengan Bang Tan. Namun, Yasinta juga bersedih karena kini mereka sudah tak mungkin bisa bertemu lagi. Hubungan diantara mereka telah di putus oleh keserakahan sang ibu dan ayah.
"Mbak harap, kamu bahagia Lia." tangis Yasinta."Maaf mbak nggak bisa melindungi mu."
Lia menggeleng, "Lia pamit mbak."
Lia tau kini tinggal Yasinta dan adik-adiknya yang akan menjadi tumbal bagi keserakahan orang tuanya. Entah Yasinta, atau Farah. Tapi setidaknya, mereka tidak mendapat perlakukan separah Lia.
Sore itu, V membawa Lia serta tanpa banyak membuang waktu. Urusan mereka sudah selesai sekarang. Di dalam mobil, V memeluk Lia, membawa kepala gadis itu ke dadanya.
Entah perasaan apa yang dapat Lia gambarkan saat ini? Marah, kecewa, syukur, bahagia, juga sedih. Marah dan kecewa pada ayah dan ibunya. Bersedih karena berpisah dengan kakak dan adiknya tanpa bisa bertemu lagi, karena itu yang tertuang dalam surat perjanjian yang sudah pak Bekti tandatangani.
Selain itu,Lia juga merasa bahagia dan penuh syukur karena Vi telah membebaskannya dari belenggu orang tua nya dan sebagai pelunas hutang.
"Kamu pasti lelah, tidurlah dulu. Aku kan membangunkan mu nanti." ucap V lembut membelai rambut wanita yang kini sudah bersetatus sebagai istrinya.
Di belakang mobilnya, Fajar mengikuti dengan mengendarai motor klasik milik V. Hanya dia yang bisa V percayai menunggangi motor dengan biaya perawatan yang mahal itu.
__ADS_1
Dalam keheningan mobil yang V tumpangi sudah memasuki kota. Seorang mengawalnya melirik ke belakang, Lia sudah terlelap. Sedangkan V hanya memejamkan matanya saja.
"Tuan muda."
V membuka netranya perlahan.
"Kita kembali ke mana?"
"Ke bukit pelangi saja."
"Apa anda tidak ingin kembali ke mansion utama? Mungkin nyonya sudah menunggu, tuan Suga juga..."
"Tidak! Ke bukit pelangi saja."
"Baik."
Bukit pelangi, adalah salah satu rumah milik V. Letaknya ada di ketinggian yang dengan pemandangan bangunan rumah-rumah warga yang di cat berwarna-warni dan tersusun menurun seperti pemukiman di Nepal.
Dengan hawa dingin dan penduduk kampung yang ramah serta pemandangan hijau di sisi yang lainnya. Sangat sejuk dan adem.
V membaringkan Lia yang masih terlelap itu di kamar utama. Menyelimuti hingga batas dada dan mengecup sayang kening wanita.
"Selamat malam."
Di sisi lain,
Mama Susy mondar-mandir di depan pintu mansion nya menunggu sang anak yang menjelajah entah ke mana. Yang harusnya malam ini pulang ke rumah bersama istrinya.
"Kenapa anak nakal itu belum kembali? Tidak terjadi apa-apa kan?"
Mama Susy bergumam-gumam dengan gelisah.
"Mama kenapa sih?" tegus Suga yang melihat sang mama gelisah begitu dirinya menapaki anak tangga terakhir.
"Vi! kenapa dia belum juga kembali?" ucap mama Susy dengan kesal dan tak sabar.
"Oohh, orang ku bilang mereka ke bukit pelangi."
"Apa?"
Mama Susy menggulung lengannya kesal. "Anak itu.... Mama memang sudah terlalu lunak pada nya."
__ADS_1
"Sudalah ma, mungkin saja mereka sedang Proses memberimu cucu."
"Cucu? aku bahkan belum bertemu menantuku, mereka sudah mau membuat cucu!?"