Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 56


__ADS_3

"Kata dokter tidak apa-apa. Kenapa wajahmu cemberut begitu?"


Suga dan Jeni sedang dalam perjalanan kembali dari dokter obgyn.


"Aku tak usah ikut saja. aku khawatir dengannya, tidak apa-apa kan jika aku tidak ikut?" Jeni mengusap perut nya dan memandang sang suami yang sedang menyetir itu.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga pergi dengan Kenzo dan beberapa staf lainnya. Kamu baik-baik lah di rumah."


"Heemm..."


Keesokan hari nya, Jeni mengantar Suga hanya sampai di depan bandara. Jeni terkejut, melihat ada Yovie di sana.


"Yovie juga ikut?"


"Heemm.. dia juga bagian dari projek ini. bekerja di bawah Bambang." jelas Suga menyentuh kedua lengan istrinya yang terlihat khawatir.


"Apa yang kamu pikirkan?" Suga menatap manik mata Jeni dengan senyuman.


"Tidak ada. Hati-hati lah."


"Tentu saja. Aku akan mengatasi semua nya, kamu tak perlu khawatir." Tutur Suga mengecup bibir Jeni.


Di kejauhan Yovie merasa sangat kesal melihat kemesraan Suga dan Jeni.


"Sialan! mau pergi saja masih seperti itu." geram Yovie bergumam lirih."Lihat saja, begitu kamu mencicipi tubuhku, kamu pasti akan berpaling dari Jeni. seperti Verel dan Bambang.." tersenyum licik.


Jeni merasa sangat khawatir dengan melihat keberadaan Yovie di tim suaminya. Jeni yakin, gadis licik itu pasti akan merayu bahkan menggunakan cara picik untuk menjerat Suga.


"Kenapa aku malah tidak jadi ikut?" gumam Jeni.


Setelah menapakkan kaki di Singapura, Suga langsung menghubungi Jeni, mengabarkan jika dirinya sudah sampai dengan selamat. Selama dua hari ke depan, Suga harus menyelesaikan kesepakatan bisnisnya dengan beberapa perusahaan di sana.


"Baiklah, aku mengerti, lanjutkan." suara Kenzo memberi perintah pada seseorang melalui telpon.


"Kenapa Ken?"


Kenzo tersenyum tipis. "Sesuai rencana."


Suga ikut tersenyum misterius dengan wajah dinginnya.


###


"Terima kasih."


Yovie menerima beberapa bungkus pil dari seseorang yang menunggunya di lobi hotel tempat mereka menginap sementara. Setelah membayar sejumlah uang.


"Dengan pil ini aku bisa menjerat Tuan Suga ke dalam pelukanku." gumam Yovie tersenyum dengan sangat licik."Saat itu tiba, aku akan menyingkirkan Jeni."


Setelah usai kesepakatan bisnis dengan salah satu pimpinan rekan kerjanya. Mereka makan malam bersama. Di sesi minum-minum, seusai makan malam yang hanya menyisakan beberapa orang saja.


"Aku harus membuat pak Bambang mabuk dan mengirimnya kembali ke hotel." gumam Yovie sembari memasukan serbuk ke gelas yang Yovie ambil untuk Pak Bambang.

__ADS_1


Tentu saja itu dia lakukan untuk menyingkirkan nya terlebih dahulu. Dengan membawa dua gelas berisi anggur, Yovie berjalan mendekati pak Bambang yang duduk bersama yang lainnya.


"Ini untuk mu pak Bambang." menyodorkan gelas yang sudah di campur serbuk.


"Oh, terima kasih." ucap pak Bambang tampa curiga dan menenggaknya.


Yovie pun begitu, meminum pelan anggurnya sembari melirik jahat pada Pak Bambang. Beberapa saat kemudian, pria paruh baya itu tumbang.


"Aku akan membawanya ke kamar." ucap Yovie pamit. sambil memapah tubuh Paka Bambang. tak sampai di pintu keluar ruangan itu, ada seorang pelayan yang mengambil alih tubuh pak Bambang. Dan membawanya ke kamar nya.


"Maaf..." ucap Yovie kembali.


"Bagaimana dengan Bambang?"


"Tadi sudah ada seorang petugas hotel yang membawanya ke kamar." jawab Yovie.


"Hmmmm.. baguslah."


'Sekarang waktunya menyingkirkan asisten tuan Suga. lucu sekali dia selalu ada di sekitar tuan Suga.' gumam Yovie mengambil gelasnya sambil menggoyangkan gelas itu lalu meminumnya.


Yovie berranjak dari duduknya bergerak sedikit terhuyun hingga ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Anggur yang ada di gelasnya tumpang di celana Kenzo.


"Ooohh,,, maaff, aku tak sengaja."


"Tidak masalah. Aku masih bisa ganti."ucap Kenzo sembari berdiri.


Yovie tersenyum tipis dengan sangat licik. ia memakai kesempatan saat ia bisa mendekat ke arah Suga, menyemplungkan obat yang dia bawa ke dalam gelas anggur milik Suga.


"Nona, ponsel mu berdering." salah satu rekan bisnis Suga menunjuk tas yang ada di sebrang Yovie.


Yovie menoleh, 'Yang penting obat itu sudah masuk.'


Yovie berjalan sedikit memutar setelah meletakkan gelasnya. Lalu memeriksa hpnya. Saat itu tanpa Yovie sadari saat Kenzo melintas, ia menukar posisi gelasnya. Dan berjalan seolah tak terjadi apa-apa.


Yovie kembali duduk tak jauh dari Suga. "Mari kita bersulang." mengangkat gelas nya. Di ikuti oleh yang lain dan bersulang.


'Bagus! Dia meminumnya.' pikir Yovie melirik pada Suga yang sudah meminum anggurnya.


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa rasanya panas sekali? Sepertinya aku sudah mabuk." gumam Suga berdiri.


"Biar aku antar tuan. Seperti nya sekertaris Kenzo masih akan lama." tawar Yovie yang juga merasakan keanehan dalam tubuhnya.


'Kenapa aku jadi merasa panas dan bergairah seperti ini?' pikir Yovie.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Yovie dengan wajah memerah.


"Ya, tentu saja aku baik-baik saja." Suga menatap dingin Yovie.


'Kenapa dia terlihat sangat menakutkan? Tapi aku sangat ingin menubruknya. Ada apa denganku? Aku pikir aku sudah mengambil gelas yang benar.'

__ADS_1


Yovie terus bertanya dalam hati hingga mereka sampai di sebuah kamar.


"Tuan kita...." Yovie sempoyongan memasuki kamar itu mengikuti Suga.


Tubuh kekar itu menatap sinis pada nya.


"Selamat menikmati malam mu nona." dengan seringai jahat Suga menutup pintu kamar itu.


Mata Yovie membulat, ia sadar jika dirinyalah yang telah meminum obat yang dia masukkan sendiri ke dalam gelas.


"Tidak. tidak mungkin aku ketahuan." gumamnya melihat jauh ke dalam kamar itu.


"Selamat malam nona," sapa beberapa orang pria yang sudah berada di dalam kamar itu, satu persatu mendekat.


"Aaahhh....." pekik Yovie.


###


Keesokan harinya di bandara.


"Dimana yovie?" Pak Bambang mencari wanita selingkuhan nya itu melihat berkeliling.


"Entahlah, sepertinya dia sudah kembali lebih dulu." jawab Kenzo asal dan tak perduli.


"Benarkah? Nomornya tidak aktif."


"Mungkin lagi di pesawat."


"Benar juga."


Siang itu mereka kembali ke tanah air. Setelah melalui beberapa jam di ruang tunggu bandara di udara. akhirnya, Suga sampai juga depan halaman mansion nya.


"Tolong keluarkan oleh-oleh dari bagasi" titahnya pada beberapa pelayannya.


"Baik tuan."


"Dimana Nyonya?"


"Nyonya Jeni sedang keluar bersama temanya."


"keluar?" Suga mengecek hp nya. memang ada pesan dari Jeni yang mengabarkan jika dia dan Lia pergi ke Mal sore itu.


Suga tersenyum kecil. hendak menekan nomor Jeni, namun Jeni sudah lebih dulu menghubunginya. Suga tersenyum lagi.


''Sepertinya kita memang memiliki hati yang sama.'' gumam Suga menggeser tombol hijau.


"Halo sayang, aku sudah kembali."


("Tuan Suga, Jeni jatuh dari eskalator dan sekarang kami dalam perjalanan ke rumah sakit.")


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2