Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
Bab 64


__ADS_3

Mama Susy berdiri di depan pintu samping rumah nya. Memandang V yang masuk dengan mengendap-ngendap.


"Kenapa kamu mengendap-endap lagi?"


"Aaaakkkhhh,, mama! kenapa mengagetkanku?"


Mama Susi tersenyum kecil.


"Kapan kamu akan mempertemukan mama dengan Lia?" todong mama susy menghadang V yang hendak masuk.


"Mama, kan udah Aku bilang sabar. aku kan masih berproses."


"Oke. Mama tunggu. Cepatlah berproses."


"Apa maksud mama?"


"Cucu! mama mau cucu!"


"Mama kan sudah dapat dari kak Suga."


"Iya benar, tapi aku belum dapat dari kamu."


V hanya menggeleng kan kepalanya dan memutar mata malas. Berjalan melewati sang mama.


"Tunggu!"


Vi menoleh,


"Atur pertemuan ku dengan Lia."


"Aaarrggg... mama!" pekik V frustasi dengan mama Susy yang ngotot.


"kalau begitu mama akan menemuinya sendiri."


"Jangan!" tahan V dengan wajah yang sudah tampak tegang."Mama bisa merusak rencana ku."


"Rencana apa?" mama mengangkat alisnya sebelah.


"pokoknya jangan. Jangan temui dia tanpa sepengetahuan ku." Ucap V memperingatkan, lalu berlalu meninggalkan Sang mama.


"Huhuhu, mama sudah menemuinya lebih dulu. Jadi mama akan melakukannya lagi." kekeh mama Susi.


###


Hari berikutnya, di kantor relay. Siang itu, saat Lia sedang menikmati makan siang nya dengan beberapa teman kerja nya. Ibunya dari kampung menelpon.


"Ada apa Bu?"


("Lia, kakak mu seminggu lagi menggelar hajatan. Kamu pulang, malu sama tetangga kalau ada yang nggak kelihatan.")


"Iya buk, Lia ngurus cuti dulu."


("Jangan lupa bawa uang, malu juga sama tetangga kalau kamu nggak bawa uang.")


"Iya ibuk. Lia usahakan."


("Bukan usaha Lia, itu harus.")


Lia menngurut dada nya sabar. baru juga dia selesai melunasi angsuran pinjamannya pada V, Sang ibu sudah memintanya untuk pulang, tentu saja beserta uang nya.


"Iya buk."


("Ya udah, ibuk tutup telponnya.")


"Iya buk."


Dari seberang sana, terdengar suara bisik-bisik.


("Sebentar Lia, ada Farah nih minta oleh-oleh.")


Lia belum sempat menjawab, baru mau membuka mulutnya,

__ADS_1


("Lik Kusni juga. Dia minta baju aja buat di pake pas hajatan kakakmu nanti.")


"Iya. Udah buk? ada pesen apa lagi?" lirih Lia.


("Sudah.")


"Lia tutup ya buk, jam istirahat Lia dah habis."


Seusai makan siang di kantor hari itu, Lia kembali ke ruang kerja nya. Membuat beberapa laporan dan tak lupa mengisi form cuti untuk pulang kampung. Lalu mengirimnya melalui email.


Sore harinya setelah pulang kerja, Lia memesan tiket untuk perjalanan ke kampung halamannya. Lia memilih menggunakan travel. Setelah selesai urusan tiket perjalanan pulang, kembali ke kos an nya.


Lia tertegun, melihat tepat di depan kosan V sedang menurunkan penumpang. Pria tampan itu mengenakan jaket ojol berwarna hijau. saat tatapan keduanya bertemu, V tersenyum.


"Baru pulang?"


"Huuummm..."


"Kok kesorean?"


"Iya, tadi beli tiket trevel dulu." jelas Lia berhenti tepat di samping Vi yang sedang duduk di atas motornya.


"Trevel? kamu mau ke mana?" V menautkan alisnya.


"Balik."


"Balik kampung?"


Lia mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu udah makan belum?"


Lia menggeleng, karena dia memang belum sempat makan.


"Aku ada cancelan dari customer. Makan bareng yuk."


Di depan kamar kosan Lia, V duduk dengan dua Boba tea dan dua bungkus pecel lele.


"Ini cancelan?"


"Kok tega ya?"


"Udah, yang penting ini nggak mubazir, ayo makan." ajak Vi menyuap nasi beserta daging lele ke mulutnya.


Dalam 15 menit menit mereka makan dengan tenang. Hingga suara sedotan Lia pada Boba tea yang sudah tinggal es dan Boba nya saja menimbulkan bunyi yang memecah keheningan di antara mereka.


"Ini yang satu aku bayarin aja ya?" tawar Lia merogoh kantong celananya.


"nggak usah." tolak Vi cepat."Kan tadi aku yang nawarin, masak kamu mau ganti."


Lia tertawa kecil. "Kamu kan cari uang. Malah di kerjain sama customer. Jadi, biar aku ganti ya?"


"Nggak usah." tolak V lagi, "Jangan bikin aku tambah malu lah Lia, kan aku yang nawarin kamu makan ini, masa mau kamu bayar."


Lia menanggapinya dengan tawa. Tawa yang membuat V semakin berdetak kencang.


Telpon Lia berdering, ia memasuki kamar kosnya. Panggilan dari Jeni.


"Halo Jen?"


("Kamu di mana? lusa bisa temani aku ke butik nggak?")


("Sore kok, abis kamu pulang kerja aja. Suga keluar kota, jadi dia tidak bisa..")


"Uummm, lusa aku nggak bisa. Besok aja gimana?"


("Eh, lusa mau ke mana?")


"Aku mau pulang kampung Jen, Ibuk nyuruh balik."


("Eeh? Ada apa di kampung?")

__ADS_1


"Nggak ada, cuma hajatan kakak aja."


("Ya sudah, besok sore saja. Sampai ketemu besok lagi.")


Sambungan di putus. Vi yang ikut mencuri dengar dari balik tembok pembatas di depan kos Lia.


"Ada apa?" tanya Vi saat Lia kembali duduk di sampingnya.


"Jeni minta di temenin ke butik."


"Oohh," Vi manggut-manggut. "Lusa kamu pulang kampung?"


"Heemmm..."


"Ada apa?"


"Kakak ku menikah. Ingatkan waktu aku pinjam kamu uang 30juta?"


V menyipitkan sebelah matanya, "Apa itu untuk kakak mu?"


"Uumm..."


Vi tersenyum aneh.


Hari berikutnya, Jeni menjemput Lia di depan gedung Relay. Karena sore itu hujan, Lia ikut mobil Jeni.


"Ayo masuk."


Mobil itu melaju dan berhenti di depan sebuah butik.


"Kapan hajatan kakakmu?" tanya Jeni memilih beberapa baju dan kebaya.


"Uumm tiga hari lagi."


"Besok berangkat jam berapa Li?"


" Siangan sih sampai sana malam. Soalnya besok aku harus masuk setengah hari. Pake trevel."


"Kamu udah beli oleh-oleh?"


"Belum sih, rencana hari ini."


Jeni terdiam sejenak. Mengambil beberapa baju, dan berkata:


"Ya udah, aku udah selesai kok. Kita mau ke mana? Aku antar."


"Tapi, Gani.."


"udah tenang aja, Gani sama pengasuhnya, aku juga udah ninggalin asi di kulkas." ucap Jeni menepuk lengan Lia.


"Oke deh. Ke Mal bentar aja."


Sesampainya di Mal, Lia memilih beberapa makanan dan barang di swalayan sebagai oleh-oleh dan beberapa potong baju. Saat Lia hendak membayar di kasir Jeni menyodorkan kartu platinum nya pada kasir.


"Eehh?" Lia terkejut,


"Pake ini aja mbak." ucap Jeni.


"Jangan!" cegah Lia mencoba menahan tangan Jeni."Ini belanjaan ku Jen, biar aku yang bayar."


"Anggap aja ini sebagai tanda terima kasih ku karena kamu sudah pernah menampungku saat aku di usir orang tuaku. Jadi jangan menolak."


Lia tampak merasa tak enak.


"Aku memaksamu. " ucap Jeni yang lalu berpindah berkata pada petugas kasir."Langsung gesek mbak."


Jeni mengantar Lia sampai depan kosannya.


"Kamu nggak usah khawatir motormu, aman di kantor. Besok pagi aku akan minta seseorang untuk mengantarmu ke kantor. Jadi tunggu sampai orang ku datang ya?!" pesan Jeni mengedipkan sebelah matanya.


"Terima kasih Jen. kamu baik banget."

__ADS_1


"Li, aku hanya membalas yang sudah kamu lakukan padaku. Kita sahabat, jadi jangan pernah katakan terima kasih."


Bersambung..


__ADS_2