
Di sebuah desa yang sedikit jauh terpelosok. Ada sebuah hajatan yang cukup meriah, tenda berwarna putih dan biru yang di hias cantik dengan berbagai bunga dan lampu kelap-kelip. wajah orang penduduk setempat terlihat ceria berdandan dengan sangat cantik dan tampan. Dengan pakaian kebaya dan segala jenis broklat melekat sempurna di tubuh masing-masing wanita. Yang pria pun memakai kemeja batik.
Lia saat itu menjadi salah satu yang di tempatkan sang ibu di buku tamu, menyambut para tamu yang datang dengan baju kebaya broklat berwarna merah seragam dengan buku tamu lainnya dan pagar ayu.
"Bang Tantoro!" bisik penerima buku tamu pada Lia saat seorang pria yang seumuran dengan Lik Kusni mendekat.
"Bang? Bukan Lik?" balas Lia berbisik.
"Sssttt.... dia tuan tanah di sini. Nanti aku cerita in deh."
Bang Tantoro berjalan semakin dekat, menatap Lia dengan aneh. Lia memilih menunduk, karena Lia tak menyukai tatapan dari bang Tantoro itu.
"Siapa ini Vin?" bang Tantoro menunjuk Lia dengan pandanganya.
"Ini anak nya Bu Sumi." jawab Vinda menyikut lengan Lia, hingga Lia mengangkat wajah nya dan tersenyum tipis.
Bang Tantoro menelanjangi Lia dengan pandangan matanya. Lia semakin tak nyaman, saat senyuman itu terukir di bawah kumis tebalnya.
"Cantik." bang Tan mengulurkan tangannya mengajak Lia bersalaman. Lia diam ragu, Vinda menyikutnya sekali lagi. Dengan cepat Lia menyambut uluran tangan bang Tan.
"Tantoro, panggil bang Tan saja." ucap Bang Tan tanpa melepas genggaman tangannya.
Lia tersenyum aneh,
"Lia." berusaha menarik tangannya."Bang Tan, tolong lepasin tangan saya."
"Oohh, maaf ya Lia, aku terpesona sama kecantikan kamu sampai lupa kalau kita masih bersalaman."
Lia tersenyum kikuk, dan mempersilahkan bang Tan untuk duduk.
Setelah bang Tan duduk Vinda membisiki Lia.
"Bang Tan itu, seorang tuan tanah di sini. Dia sebenarnya sudah punya istri dua malahan."
Lia mendelik tak percaya, memang uang bisa mengalahkan walau fisik pas-pasan.
"Dan istri pertamanya seusia kamu." lanjut Vinda lagi, "Istri kedua, lebih muda lagi."
__ADS_1
Lia masih menyimak.
"Dia suka main kasar sama istri-istri nya, tapi ini sudah berjalan hampir 5 tahun untuk istri ke dua. dan mereka masih terlihat baik-baik aja. Kalau aku sih, nggak mau walau uang dia melimpah." tutup Vinda melirik sinis pada Bang Tan yang kini menoleh menatap Lia,
saat pandangan mata mereka bertemu, bang Tan tersenyum. Lia pun membalas senyuman walau enggan, hanya demi kesopanan.
"Sepertinya dia lagi cari bini ke tiga."
"Haah??"
"Jangan kaget gitulah, namanya juga tuan tanah, kaya raya, wajar aja kalau mau istri yang banyak." ucap Vinda lagi.
Lia menghela nafasnya, ia merasakan hal yang tak enak. Semoga itu hanya perasaannya saja. Bukan Firasat yang akan menjadi nyata.
Lia terus merasa gelisah, pasalnya bang Tan terus menatapnya dengan pandangan yang membuat Lia merasa risih. Apa lagi mendengar dari Vinda sepupunya, jika bang Tan sedang mencari istri ke tiga.
Mengingat sang ibu yang mata duwitan dan ayah yang tak jauh beda. Membuat Lia merasa tak tenang, bukan tak mungkin kedua orang tuanya langsung mengiyakan jika pria bernama bang Tan itu melamarnya.
Setelah acara hajatan usai. Lia masih sibuk membantu di dapur. Karena Bu Sumi meminta nya untuk bantu-bantu di sana. Sementara, Bu Sumi masih menemui tamu-tamu nya yang masih berdatangan. Tak terkecuali Bang Tan.
"Kok saya nggak tau kalau Bu Sumi punya anak gadis yang cantik?" Suara bang Tan yang masih dapat Lia dengar yang kini berada di ruang tengah menyusun lauk pauk untuk penghidang.
"Gadis cantik yang mana ya?"
"Itu, yang jaga buku tamu. Lia ya namanya?"
"Oohh, Lia?" Bu Sumi membenarkan,"Iya, saya punya anak perempuan bernama Lia. tapi dia nggak cantik-cantik amat kok cantikan Yasinta kakaknya. Adek nya Yang baru nikah ini."
Entah kenapa Lia merasa lega, karena Bu Sumi seperti menyodorkan anaknya yang lain, yang tak lain adalah kakaknya yang kedua. Yasinta.
Lia terlahir dari Lima bersaudara. Dua kakak perempuan, satu adik perempuan dan satu adik laki-laki. Anak Bu Sumi yang pertama bernama Lisna, yang kedua Yasinta, lalu Liana, anak ke empat Agus dan si bungsu Farah.
"Iya, Yasinta juga cantik, tapi saya sudah pernah melihatnya, cuma yang Lia ini kok baru kali ini ya?" ucap bang Tan lagi.
"Ooh, mungkin karena Lia merantau Tan. Yah, namanya juga cari uang, ini aja saya paksa pulang. Keenakan kali di perantauan." kekeh Bu Sumi.
Karena percakapan yang menurut Lia tak penting, ia pun melanjutkan mengerjakan pekerjaan di dapur beserta para tetangga yang ikut membantu.
__ADS_1
Setelah acara hajatan benar-benar usai, dan masa cuti Lia berakhir. Malam itu, Lia mengemas barang yang akan dia bawa. Tak sebanyak saat dia pulang kampung, Lia hanya membawa satu koper kecil yang warna hitam sedangkan yang besar sengaja Lia tinggal. Ia hanya membawa sedikit oleh-oleh untuk teman-teman nya.
"Lia!"
"Iya buk?"
"Kamu masih ada uang nggak?" Bu Sumi mendekat dan duduk di bibir ranjang kamar Lia yang kini sudah rapi karena barang hajatan sudah habis dan beberapa di pindahkan.
"Kenapa buk?"
Lia melanjutkan lagi aktifitas mengemasnya
"Itu, mbak mu Lisna butuh uang Li."
"mbak Lisna?"
"Iya, kamu tau sendirilah, kemarin habis hajatan, abis banyak keluar uang. Kamu bantu-bantu dikit lah mbak mu itu."
Lia menghela nafasnya mencoba sabar, rasanya sangat lelah sekali. Selalu dia yang di mintai uang. Bahkan untuk biaya menikah pun Lia tak memiliki tabungan sendiri karena habis untuk keluarganya.
"Lia kan kemarin udah kasih mbak Lisna 5 juta buk, buat ibuk juga sudah Lia kasih 10 juta. Mbak Yasinta satu juta, Farah sama Agus masing-masing lima ratus. Lia udah nggak punya uang lagi." jelas Lia yang memang sudah habis-habisan untuk keluarganya.
Mau bagaimana, setiap kali Lia menolak dan membantah, orang tuanya selalu mengatakan Lia tak tau terima kasih, karena kedua orang tuanya lah yang sudah membiayai sekolah Lia. Hingga Lia bisa seperti sekarang.
Itulah sebabnya, Bu Sumi selalu minta pada Lia, karena dari ketiga anaknya yang sudah bekerja, hanya Lia lah yang paling cemerlang karir nya. Lisna bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik Rokok di kampung sebelah, Sedangkan Yasinta bekerja di sebuah swalayan. Farah masih sekolah, dan Agus DO karena sebulan absen.
Bu Sumi mendengus,
"Masak ya kamu dari kota nggak bawa uang?"
"Sudahlah buk, kalau Lia memang nggak mau bantu. Biar Lisna jual aja mas kawinnya dari mas Aldan." timpal Lisna yang tiba-tiba masuk ke kamar Lia.
"Janganlah, itu kan mas kawin. jangan di jual. Malu sama tetangga nanti." ucap Bu Sumi dengan nada sedikit tinggi. ia berbalik menatap Lia."Lia, masak nggak ada tabungan kamu? Sama saudara itu jangan pelit-pelit."
Lia menghela nafasnya, rasa sesak terus menghimpit dadanya.
"Ini buk, cek sendiri, apa masih ada uang di ATM Lia?" ucap Lia menyerahkan dompetnya pada sang ibu.
__ADS_1
"Sudahlah buk, mungkin Lia memang sudah tak punya uang." ucap Yasinta menengahi.
"Terus gimana Lisna, Yas?"