
"Lelucon macam apa yang sedang dia lontarkan. Benar-benar tidak lucu. Pria kaku mencoba melawak. Huuhh..." Jeni mengedumel nggak jelas melewati lorong office di Relay grup.
Jeni menghentikan langkah kakinya di ruang terbuka dekat kolam ikan. Di sana dia melangkah mendekat pada kolam melihat tempat berair itu kini berisi ikan koi kecil.
"Jadi, ikan itu sungguh di ambil dari sini ya?" gumam Jeni terbengong melihat kolam ikan sudah berubah.
"Tuan Suga yang mengambil nya sendiri." suara Kenzo berhasil membuat Jeni menoleh ke arah pria tampan yang baru saja datang mendekat dari sisi kirinya.
"Malam itu, Tuan Suga meminta kami menguras kolam dan menjaring sendiri ikan yang menggelepar hingga dua jam lamanya. Karena itu tubuh tuan Suga berbau amis. Semoga nyonya tidak mempermasalahkan hal itu." cerita Kenzo panjang lebar menatap ikan-ikan yang berenang dan melompat kesana kemari.
Jeni teringat Malam itu ia justru sibuk marah-marah dan meminta Suga mandi berkali-kali karena bau. Jeni tersenyum kecut. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menelusup di hatinya.
"Aku sepertinya sudah berlaku berlebihan dengan nya. Tapi, aku benar-benar mual saat itu ." gumam Jeni dengan pandangan mata sedih.
"Tapi, dia melakukan semua itu juga demi anak ini." tukas Jeni menyentuh lembut perutnya.
"Bukan untukku." sambung nya lirih.
"Tidak juga, kurasa tuan Suga pada nyonya...." Kenzo tidak sempat menyelesaikan ucapannya , karena saat itu suara Suga sudah memanggilnya di kejauhan.
"Kenzo! Ayo meting!"
Kenzo menoleh sebentar pada sosok yang berdiri jauh di belakang. Lalu tersenyum simpul pada Jeni.
"Tuan Suga, seorang Mysopobia, tapi lihatlah dia yang rela melewati semua hal yang membuat nya tak nyaman untuk anda. Mungkin anda nanti akan mengerti." gumam Kenzo sebelum melangkah pergi.
"Kenzo!"
"Iya Boz!" seru Kenzo melambaikan tangan sembari berjalan ke arah bos nya.
"Apa yang kau bicara kan dengannya?" tanya Suga begitu Kenzo sudah dekat.
"Bukan hal penting." jawab Kenzo berjalan mendahului.
###
"Ini!"
sebuket bunga mawar Suga sodorkan pada Jeni. Gadis itu menatap bunga mawar di tangan Suga dengan wajah datar. Tadi Suga sempat kepikiran begitu Jeni pergi dengan muka masam nya. Sepertinya ia tak pandai melucu, hingga membuat Jeni sekesal itu.
__ADS_1
"Aku... tidak suka Mawar." lirih Jeni menatap Suga.
"Benarkah?" Suga mengangkat sebelah alis nya. "Kupikir semua wanita suka mawar."
"Aku tidak."
Suga membuang nafas, merasa usaha nya sia-sia. Ia mengedarkan mata berkeliling setiap sudut ruang luas di kantornya. Di dekat tangga terlihat Yovie sedang berjalan di belakang manager perencanaan, Bambang.
Pak Bambang membungkuk hormat pada Suga yang tersenyum sekilas.
"Selamat siang tuan Suga."
"Heemm..." jawab Suga datar, lalu melihat wanita di belakang pak Bambang.
"Hei, apa kau suka mawar?" tanya Suga pada Yovie. Jeni langsung menatap Suga.
'Apa maksud nya langsung bertanya begitu pada Yovie setelah aku sempat menolaknya?' pikir Jeni sedikit kesal.
Yovie menunjuk dirinya sendiri. Lalu melihat sebuket bunga di tangan Suga. Dengan ragu ia mengangguk.
"Ini untuk mu." ujar Suga mengulurkan buket bunga yang tadi hendak ia berikan pada Jeni namun di tolak.
"Untuk saya tuan Suga?" tanya Yovie dengan tak percaya dan tersipu.
"Iya. Bukankah kau suka bunga mawar?"
Yovie melirik Jeni yang terlihat terkejut dan marah Suga memberinya bunga mawar. Tentu saja Yovie tak melewatkan kesempatan itu.
"Terima kasih tuan Suga. Anda sangat perhatian." ucap Yovie tersipu malu mencuri-curi pandang.
Tanpa menjawab ucapan Yovie, Suga berjalan setelah melirik Jeni sekilas. Sedangkan Jeni merasa dongkol setengah mati menatap sinis dengan mata menyipit.
"Sepertinya, dia sudah tak begitu perduli lagi dengan mu. buktinya dia bahkan memberi ku bunga di depanmu." sinis Yovie dengan tatapan mengejek.
Jeni tersenyum tipis, "Asal kau tau, bunga itu. Aku menolaknya, dan dia berikan padamu. Tempat yang tepat untuk sesuatu yang sudah tidak berguna. Ya tempat sampah."
Jeni berjalan dengan angkuh melewati Yovie. Walau suasana hatinya buruk karena Suga memberikan bunga pada Yovie, namun, ia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan wanita pesaingnya itu.
Yovie menggeram dan menggeretakan gigi nya kesal.
__ADS_1
"Seenaknya saja dia menyebutku tempat sampah..."
"Sepertinya, kamu cukup dekat dengan tuan Suga." ucap pak Bambang yang sedari tadi melihat dan hanya diam.
"Begitulah, saya yakin tuan Suga tertarik pada saya."
"Tapi sepertinya kamu punya Maslah dengan istrinya."
"Tentu saja dia kesal karena sebentar lagi tuan Suga akan berpaling pada ku."
"Heemm... kalau begitu, bagaimana jika kamu menjadi asisten pribadi ku saja. Aku sedang butuh seseorang." tawar pak Bambang memindai Yovie dari atas ke bawah.
Yovie merasa ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan. wajah wanita cantik itu menjadi cerah dan bersinar oleh semangat akan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.
_____
BRAK!
Suara pintu ruang Suga yang di buka kasar dari luar membuat Suga terlonjak kaget. Di ambang pintu Jeni berdiri dengan wajah marah yang tertahan.
"Apa kau tak bisa membuka pintu dengan lebih sopan dan pelan?"
"Maaf, kalau kau tidak suka. Aku akan pergi, lagi pula bukan aku yang meminta berada diruangan ini." jawab Jeni melangkah masuk keruangan yang sama dengan Suga.
Kakinya mengayun menuju meja kerjanya mengambil tas milik nya dan berbalik. Jeni tertegun, Suga kini berdiri di hadapan nya.
"Kau mau kemana? Ini masih jam kerja."
"Pulang. Lagi pula tidak ada yang aku kerjakan di sini." jawab Jeni datar.
"Ini masih jam kerja."
"Begitu ya? Kalau begitu aku keluar." balas Jeni lagi sembari melepas name tag yang mengalung di lehernya dan menyerahkan pada Suga."Aku keluar tuan Suga."
"Apa ini? kau marah?"
"Aku hanya, tidak ada guna nya di sini. Aku akan pergi ke tempat dimana aku lebih berguna dan lebih bisa bekerja sesuai kemampuanku." jawab Jeni lagi tanpa ekspresi apapun. yang tentunya membuat Suga makin kesal.
"Kau marah. Lalu kau lampiaskan padaku. Apa salah ku?" Suga menahan lengan Jeni "Katakan apa salah ku?"
__ADS_1
Bersambung...