Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)

Gadis Beracun(Dikira Giggolo, Ternyata CEO)
bab 24


__ADS_3

"Apa?"


Jeni membelalakkan matanya dengan menggenggam ganggang telpon di pipi kirinya.


"Siang ini? Lunch sama Bos?" Ulang nya masih tak percaya."kenapa?"


Setelah terdiam sesaat, Jeni membanting telponnya.


"Sialan! Tunangan apaan? Jelas-jelas aku sudah menolak." Geram Jeni.


"Kenapa dia ngebet banget sihh.. heran." Gumam Jeni terus membanting barang-barang nya di meja. Sebenarnya bukan membanting sih, mungkin lebih tepat meletakkan dengan kasar karena kesal.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Jeni berjalan keluar dari ruangannya. Melewati lorong kantor dan berpapasan dengan Suga. Pria dingin itu menatap wajah Jeni dengan senyum mengejek, tangannya ia masukkan dalam saku celana.


Jeni mendengus saat mereka berhadapan.


"Tunangan ku..."


"Bapak..."


Suga mengangkat tangannya, menggoyangkan telunjuknya tepat di muka Jeni.


"Ckck... Karena sudah sampai dipembicaraan keluarga, mari kita mengakrabkan diri lebih dahulu." Ucap Suga lalu berbalik, dan mulai melangkah. Beberapa langkah setelahnya, Suga menoleh karena tak melihat adanya pergerakan pada tubuh Jeni.


"Jalan!"


Jeni menyentak nafasnya kesal. "Kenapa aku jadi kesal padanya. Tentu saja aku kesal, bahkan setelah itu, kata maaf pun tak terucap dari nya. Sungguh luar biasa. Apa dia sama sekali tak merasa bersalah setelah tangannya mengorek kesana kemari?"


Jeni bergumam-gumam sambil berjalan mengikuti Suga.


###


Jeni dan Suga memasuki sebuah cafe, duduk bersama di meja paling pojok dekat pembatas dari kaca. Dari sana akan terlihat suasana luar.


"Pesanlah apa yang ingin kamu makan."


Dengan malas Jeni mengambil buku menu.


"Yah, karena udah ampai sini. Ya makan saja." Gumam Jeni membolak-balik buku menu.


"Sepertinya ini cukup menggiurkan."


Jeni pun memesan banyak makan, Suga, yang awalnya tersenyum sambil manggut-manggut, lama-lama matanya membola juga.


"Sebanyak itu yang kau pesan?"


"Kenapa? Kau bilang pesan saja yang aku inginkan." Jawab Jeni enteng melipat tangannya di meja."Apa kau akan menarik kata-kata mu sendiri tuan Suga?" Dengan senyum mengejek.


Suga mendengus. "Pastikan saja kau habis kan semua itu!"

__ADS_1


"Tentu saja, jika aku habiskan, apa kau akan mengabulkan semua permintaanku?"


"Okey, jika tidak habis berarti kau yang harus mengabulkan semua permintaanku." Suga menyeringai jahat.


"Sepakat!"


Keduanya berjabatan tangan dengan senyum jahatnya masing-masing.


"Ayo habiskan, aku akan menyiapkan daftar kemenangan." Ucap Suga menantang, dia sangat yakin Jeni melakukan ini hanya untuk membuatnya ilfill. Oleh karena itu, Jeni sengaja membuat memesan makanan yang sangat banyak hingga penuh meja.


Dengan mata menyipitkan. Jeni mulai menyendok beberapa makanan dan langsung melahabnya. Semakin lama, semakin berkurang makanan di meja.


'Apa? Wanita ini benar-benar kelaparan atau rakus? Gilak! Semua di sikat habis sampai tandas.' pikir Suga mulai waspada melihat tumpukan piring kosong dan makanan yang semakin berkurang.


'Tenang Suga, jangan khawatir! Kamu pasti menang, tak mungkin wanita dengan tubuh kecil begitu memiliki rongga perut yang lebar.'


'tapi, bisa saja perutnya melar, tadi saja dia sangat percaya diri bisa menghabiskan. Hmmm... Harus berbuat sesuatu nih.'


Batin Suga terus berkonflik, dengan mata yang tak lepas melihat Jeni yang sibuk mengunyah.


'Tunggu, ada yang aneh di sini. kenapa dari tadi dia tidak menyentuh makanan yang ada lobak Oren nya.' jiwa jahat Suga mulai beraksi, ia mendekatkan makan dengan lobak Oren ke arah Jeni.


"Uuugghhh...." Jeni seperti mau muntah dengan mulut yang penuh itu. Buru-buru ia menyingkirkan piring yang sempat Suga sodorkan.


"Eehemm..." Suga sengaja berdehem, sepertinya dia udah tau apa yang harus di lakukan. Ia menyodorkan piring lain yang ada lobak orennya lagi.


"Uuuggghhh..." Jeni mendorong jauh piring yang tadi disodorkan oleh Suga.


"Kau bilang akan menghabiskan semuanya. Ini cepat habiskan." Ucap Suga saat mendapat tatapan protes dari Jeni.


"Ini kwetiau pesananmu! Jadi kau harus makan!"


"Oohh, begitu ya? Baiklah." Suga menarik lagi piring itu lalu sengaja mengambil wortel dan meletakkannya diatas piring Jeni.


"Haeeiiii!!"


"Aku sangat memperhatikan kesehatanmu, tunangan." Ucap Suga dengan senyum di buat ramah.


'Dia sengaja ya?' kata Jeni dalam hati, melirik Suga yang dengan wajah senang meletakkan lagi beberapa wortel ke piringnya.'Oke, jika kamu mau bermain begitu.'


"Sepertinya, kali ini kamu akan kalah," cetus Suga dengan senyuman Menang."Waahh,, aku jadi tidak sabar menanti malam pertama kita yang kedua..."


"Bbuuuurrrr....."


Jeni tersedak, sampai nasi-nasi menyembur dari mulutnya, dan menempel di wajah Suga.


"Ka-u..."


###

__ADS_1


Mega melenggang dengan kepercayaan tinggi dan tentengan oleh-oleh untuk mama Susy sebagai sogokan. Karena ia sangat hapal bagaimana mama Susy. Dulu saat ia masih bersama Suga, dia sering memberi banyak barang untuk mama Susy, dan wanita tua itu sangat gembira. Selalu bersikap lembut dan sangat menyambutnya.


Kini, Mega merasa sangat yakin, dengan semua barang branded yang ia bawa, cukup untuk membuat Mama Susy terus mendukungnya. Walau ia dan kedua anak nya pernah terlibat konflik bersama.


"Mama Susy!" Seru Mega dengan riangnya begitu melihat mama dari Suga dan V itu tengah duduk diruang santai. Gadis itu berlarian dengan lincah mendekat dengan wanita yang berbalik tersenyum dan menyambut pelukan Mega.


"Hei, sudah sampai Disini kamu? Gimana kuliah mu?"


"Sudah selesai kok ma." Jawab Mega sambil melepas pelukan.


"Okey, bagus kalau begitu. Kapan mendarat?"


"Semalam."


"Waaaooo..... Dan siang ini sudah sampai di sini. Mama sangat tersanjung Mega." Susy dan Mega saling berpelukan lagi.


"Oo iya ma, Mega bawain oleh-oleh." Ucap Mega sambil menunjukkan papper bag yang ia bawa.


"Wuuaahhh.... Makasih ya sayang kamu baik banget."


"Iya dong, Mega nggak mungkin akan melupakan mama."


"Ayo duduk." Ajak mama Susi mempersilahkan Mega duduk di sofa sampingnya menjatuhkan bokong.


"Tolong minuman buat Mega." Titah Mama Susi pada kepala pelayan, yang langsung diangguki.


Kedua wanita itu saling berbincang dan cukup heboh. Hingga mama Susy mendapatkan panggilan telpon.


"Iya?" Susi terdiam sejenak."Okey, baiklah." Menutup telponnya.


"Mega, maaf ya, mama harus pergi dulu."


Mega terlihat sedikit kecewa, karena belum sempat mengutarakan niatnya.


"Kamu mau pulang atau..."


"Mega, boleh istirahat dulu disini ma?"


"Oo, yah, boleh saja sih." Ucap mama Susy sembari berdiri.


'Kalau aku tetap disini, bisa sekalian menunggu suga.' kata Mega dalam hati dengan senyum kecil di wajahnya.


"Ya sudah, kalau begitu, mama pergi dulu ya."


"Oke."


Mega dan mama Susy cipika-cipiki, kemudian mama Susi meninggalkan Mega. Begitu sampai di depan pintu utama mansion nya. Maa Susi mengambil hp, dan menghubungi Suga.


"Suga, malam ini jngan pulang. Kamu nginep aja di hotel. Mansion utama haram untuk kau tapaki!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2