
"Sialan! Apa maksudnya ini? Setelah memberiku sebuket bunga, dia memberikan satu truk bunga untuk Jeni?"
Yovie merasa sangat kesal saat melihat ada banyak petugas yang membawa banyak bunga ke ruangan Suga. Awalnya ia merasa sangat senang mendapat sebuket bunga itu. Berulang kali senyum nya mengembang dan pikirannya melambung.
Ia bahkan berjalan dengan sangat bangga dan angkuh. Memamerkan bunga pemberian Suga pada setiap orang yang di jumpainya.
"Lihatlah, ini adalah bunga pemberian tuan Suga. Apa kalian pernah mendapatkan bunga sebagus ini? Indah bukan?" kata Yovie memamerkan sebuket bunga pada teman-teman nya.
Beberapa temannya ada yang mencibir, ada pula yang mendadak menjilat nya.
"Waah, Yovie, seperti nya tuan Suga menyukai mu. Dia tak pernah memberikan bunga untuk siapapun sebelum nya." ucap Tuti salah satu teman kerjanya yang mulai menjilat.
"Tentu saja, aku ini kan seorang yang sangat sepesial." Yovie mulai besar kepala."Jadi baik-baik lah kalian pada ku, siapa yang tau nanti aku akan menjadi istri tuan Suga."
"Hahaha, mimpi ajalah kamu Yovie."
Yovie melihat ke arah suara yang meledeknya. Salah satu seniornya, Sindi yang tak begitu suka dengan sikap Yovie mencibir. Tatapan tak suka Yovie layangkan padanya.
"Tuan Suga kan sudah menikah. Cantik dan berkedudukan lagi orang nya. Beda sama kamu. Jadi jangan mempermalukan dirimu sendiri deh dengan pamer bunga. Palingan juga Jeni tak suka dengan bunga itu makanya di lempar ke kamu." cibir Sindi dengan tangan yang terlipat di dada nya.
"Waahh, masuk akal juga tuh Sin. Gitu doang dia sudah besar kepala." sahut teman satu geng Sindi. Yang di Amini dengan senyuman mengejek pada Yovie.
"Kalian, kita lihat saja. Aku tandai kalian." tukas Yovie dengan muka merah padam."Jika nanti aku sudah naik jabatan dan menjadi istri sah tuan Suga, saat itulah akhir dari karir kalian."
Yovie yang sudah sangat kesal itu melangkahkan kaki nya dengan dada naik turun karena emosi. Ia sangat yakin jika Suga memang menaruh hati padanya. Langkah kaki Yovie tiba-tiba memelan.
Yovie menatap banyaknya pekerja dari sebuah toko bunga terbaik di kota itu membawa tumpukan bunga. Mereka tampak berlalu lalang dan dengan wajah sumringah. Wajah Yovie berubah menjadi bingung. Kenapa bisa ada banyak pekerja dan bunga.
"Kenapa Yovie?" tanya rekannya yang ikut berhenti melihat banyak pekerja yang membawa bunga berlalu lalang.
"Wah bunga-bunga itu mau di bawa ke mana?" gumam Tuti merasa takjub.
Sindi yang juga melangkah mengikuti Yovie tersenyum sinis lalu mendekat pada pekerja toko bunga.
"Bunga-bunga ini mau di kemanakan?" ucap nya mencegat salah satu pekerja yang melintas dengan membawa bunga.
__ADS_1
"Keruangan tuan Presdir."
"Maksudnya tuan Suga?"
"benar."
"Sebanyak ini?"
"benar, satu truk di depan masih ada. Kami benar-benar senang." kata petugas yang membawa bunga itu dengan wajah yang sangat cerah.
Mulut Sindi ternganga. Ia berlarian melewati Yovie ke luar dari lobi. Mulutnya semakin ternganga melihat ribuan bunga yang di tata dengan indah disana.
"Ini...."
Yovie pun ikut berlarian ke luar lobi. Ia juga berekspresi sama mulut ternganga lebar.
"Demi apa ini semua?"
"Wah, beruntung sekali wanita yang mendapatkan ribuan bunga ini." gumam beberapa karyawan kantor yang terlihat senang dan berselfi dengan bunga-bunga itu.
"Hei, menyingkir semua! Jangan buat berantakan! Nanti tuan Suga marah!" seru salah satu sekuriti yang menjaga bunga itu.
Yovie yang memang merasa sudah mendapatkan sebuket bunga dan merasa mendapatkan perhatian dari Suga tentu saja merasa besar kepala. Ia merasa semua bunga itu di tujukan untuknya. Ia tersenyum dengan malu-malu.
"Iya pak sekuriti, kami sangat penasaran. untuk siapa bunga ini. Ya ampun indah sekali." timpal yang lain.
"Tentu saja ini untuk istri tuan Suga. siapa lagi?" jawab sekuriti itu dengan sangat yakin.
"Benarkah? Untuk istrinya?" tanya Sindi dengan Suara meledek melirik pada Yovie yang terlihat bergeming.
"Iya lah, sepertinya tuan Suga sedang membujuk istrinya yang marah. Jadi beliau membeli banyak bunga. Aku dengar ini yang paling mahal, paling bagus." Bisik pak sekuriti mulai bergosip.
"Waahh, sepertinya ada yang salah paham nihh.." Kekeh Sindi semakin membuat Yovie merah padam.
"Pasti malu banget lah ya?" sahut teman Sindi.
__ADS_1
"Yoi.... Udah kepedean, kege-eran, berlagak lagi." timpal Sindi semakin membuat Yovie panas.
Saking kesal nya dia berbalik dan berjalan sambil menghentakkan kaki. Tuti mengikuti Yovie di belakanganya.
Suara tawa Sindi dan kawan-kawan nya terdengar sangat puas bisa membalik ucapan Yovie secepat itu.
"Sialan! Apa maksudnya ini? Setelah memberiku sebuket bunga, dia memberikan satu truk bunga untuk Jeni?" gumam Yovie membanting bunga pemberian Suga di meja.
Dadanya terus naik turun karena emosi. Yovie berkali-kali menyentak nafasnya kesal.
"Tenang Yovie, setidaknya kamu sudah dapat satu tingkatan dengan menjadi asisten pribadi pak Bambang. Tinggal manfaatkan saja dia untuk bisa naik lagi." gumam Yovie lagi dengan mata yang berlarian kemana-mana. Hatinya masih di liputi emosi yang coba ia redam.
.
.
.
.
Yovie berjalan hendak keluar gedung karena jam kerjanya telah usai. Melihat pasangan Suga dan Jeni juga tengah menapaki lobi yang di hiasi bunga-bunga an. Yovie memelankan langkah dan bersembunyi di balik pilar. ia tak ingin terlihat oleh pasangan itu. Ini saja dia sudah sangat malu setelah pamer malah Suga memesan banyak bunga untuk Jeni. Sangat tidak setimpal dengan apa yang dia dapat.
Mata Yovie terus memburu kedua pasangan yang tampak bahagia itu. Ia mengendap hingga ke dekat pintu lobi dimana Suga dan Jeni terhenti langkahnya.
Asisten Kenzo tampak menyodorkan bunga tulip pada Jeni tanpa rasa canggung. Dan langsung mendapat jitakan dari Suga, yang lalu mengambil bunga itu dan memberikannya pada Jeni sembari berlutut.
Wajah bahagia Jeni menerima bunga itu membuat Yovie makin panas mencengkram pilar di depannya.
"Sialan, akan ku pastikan senyum itu tak akan lama terkembang Jeni. Aku lebih cantik dari mu bagaimana bisa kamu mendapatkan tuan Suga yang sepatutnya dan lebih pantas denganku." gumam Yovie dengan geraman kesal.
Mata Yovie terus memandang Pasangan suami istri itu. Yang kini tanpa malu saling bercumbu. Yovie menggeretak kan giginya. Ia merasa sangat cemburu,
"Ciuman ku jauh lebih dahsyat dari Jeni, hanya kamu belum merasakannya, Suga."
"Jika tidak, mana mungkin Verel sampai berpaling padaku."
__ADS_1
"Akan ku goda kamu dengan tubuhku seperti Verel. Dulu, aku pernah merebut kekasihnya, maka bukan hal yang sulit untuk merebut suaminya." gumam Yovie lagi dengan kekehan.
bersambung....