
"kamu bisa bawa motor kopling?"
"nggak."
"Uummm... gini aja, ini motor aku yang bawa, sisa yang dua lima ini biar pake motor sini aja." usul V menunjuk satu motor matik inventaris yang nganggur.
"Uummm...." Lia tampak berpikir.
"Aku nggak akan bawa kabur motormu kok." kata V yang berpikir mungkin saja Lia khawatir jika motornya bakal di bawa kabur olehnya.
Lia masih tampak tak bergeming.
"Kamu udah tau dimana aku kerja kan? Kamu bisa cari aku di sini atau di carwash. Gimana?"
"Kamu bukan nya lagi kerja? boleh emang nya ikut nganter?"
"Iya, ini pas jam kerjaku dah abis." jelas V sembari melihat jam yang melingkar di lengannya."Semenit lagi."
"Baiklah."Lia akhirnya menyetujui. Senyum V mengembang.
Setelah menata dua puluh lima box yang tersisa di salah satu motor inventaris resto Rescue. Lia dan V mengendarai 2 motor matic ke TPA Latahzan. Tentu saja, V yang membawa motor dengan beban tubuhnya dan lima puluh box nasi kotak.
Sesampainya di TPA Latahzan, tempat itu sudah cukup ramai oleh anak-anak yang mengaji dan beberapa pengajar. V masih membantu Lia menurunkan nasi box dan menatanya di bagian pantry TPA Latahzan.
"Loh, ini siapa Lia?" tanya ketua pengelolaan TPA LATAHZAN, Ipul namanya.
"Ini bang, pekerja di resto Rescue." jelas Lia singkat.
"Oooh, kirain pacarmu."
"Pacarku dah mati bang, tengelam di danau Toba." kelakar Lia dengan tanpa ekspresi. Bang Ipul tertawa.
"Mau ikut pengajian di sini nggak mas? ini kebetulan pas acara kataman anak-anak." Bang Ipul menawari.
V melirik Lia seolah meminta ijin.
"Eeh, ngapain lirik-lirik Lia segala?" goda bang Ipul dengan cengiran di wajah nya.
"Kalau nggak ada kerjaan ikut aja." ucap Lia yang melihat V sedikit salah tingkah.
"Boleh kah?"
###
Disisi lain, Jeni bangun sedikit agak siang karena hari ini adalah hari libur. Jeni merentangkan kedua tangannya, menggeliat kecil di atas tempat tidurnya yang serasa luas. Jeni membuka matanya setelah beberapa kali mengerjap.
"Mana dia?" gumam Jeni menyadari tak ada Suga di kamar itu."Apa semalam dia tidak tidur disini?" gumam Jeni turun dari ranjang berukuran king size itu.
Jeni berjalan sambil mengusap perutnya yang terasa lebih buncit.
__ADS_1
"Ini aneh, baru dua bulan lebih dikit kenapa perut ini sudah sebesar ini?" gumam Jeni meraba terus perutnya.
Jeni menuruni tangga, dan berjalan hingga ke ruang makan. Tempat itu juga sama kosongnya.
"Eehh, kok di sini juga kosong? papa di mana nak?" Jeni mulai bergumam dan cenderung menggerutu pelan.
Jeni terus berjalan mengelilingi mansion yang luas itu. Berhubung Jeni sedang hamil dan belum sarapan, dia ngos-ngosan juga.
"Astaga, ini rumah apa lapangan bola? luas banget, dari tadi nggak Nemu-nemu orang." gerutu Jeni duduk beristirahat sebentar di kursi sofa single yang entah ada di mana.
"hah.. haah... haah... Apa aku sudah pindah dimensi? Astaga."
Pikiran Jeni terus bermonolog liar, ia mengusap perutnya yang sudah terlanjur buncit itu.
"Gara-gara hamil, aku jadi gampang capek, atau emang rumah ini yang kelewat luas nauzubillah. Capek banget."
Jeni memulai langkah lagi, baru ia bertemu dengan salah satu pekerja di rumah itu.
"Permisi!"
"Iya nyah." sahut pekerja wanita itu mendekat.
"Dimana Suga?"
"Oohh, tuan ya? Beliau sedang mengisi kolam di halaman samping."
"aaa, itu di mana ya? Kamu bisa antar nggak?" Jeni sudah tak mau lagi tersesat atau pun muter-muter nggak jelas dan menambah capeknya.
Jeni berjalan mengikuti pelayan itu melewati beberapa lorong dan ruang yang luas. di depan pintu yang terbuka lebar, Jeni berhenti mengikuti Pelayan itu.
Dari sana Jeni dapat melihat Suga yang sedang duduk dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya. Suga duduk diatas kursi lipat sambil melipat tangannya di depan, mengawasi pengisian kolam Aquarium dengan banyaknya ikan berwarna Oren. Persis seperti ikan yang pernah dia minta di kolam Relay grup.
Ada yang berbunga, tapi bukan di taman. Sudut bibir Jeni tertarik ke atas tanpa bisa dia tahan.
"Ehem!" dehem Jeni beerjalan mendekat. Suga menoleh melihat Jeni yang semakin memangkas jarak.
"Ikannya banyak banget."
"Katanya mau pelihara." jawab Suga sok cuek.
"Ini yang dari kolam kantor?"
Tanpa menjawab Suga hanya menujuk pipi nya dengan jari. Bibir Jeni manyun ke depan. Sebal maksudnya,
"Cepetan!"
Suga menunjuk pipi nya lagi.
Jeni memangkas jarak, menempelkan bibirnya ke pipi Suga.
__ADS_1
"Jadi, ini yang dari kolam kantor?"
"Heemm, kamu senang?"
Jeni mengangguk cepat dengan senyum yang sangat lebar.
Suga mengangkat tangannya dan mengelus perut buncit Jeni.
"Kamu senang?"
Jeni membuang nafasnya, ia tau Suga bertanya pada sang jabang bayi bukan padanya. Mata Jeni menyipit kesal dan bibirnya mengerucut hampir lima senti.
Suga yang gemas, mencubit bibir itu dengan tawa kecil.
"Baby nya ada dua." gumamnya.
"Dua? Dari mana kamu tau?"
"Tau aja, kelihatan."
Dua orang ini berbicara dengan dua hal yang berbeda. Maksud Suga Baby Jeni dan baby dalam perut. Sedangkan Pikiran Jeni, Baby dalam perut nya ada dua, alis kembar.
"Ini udah mau tiga bulan. gimana kalau kita cek ke dokter."
"Okey," Suga menyetujui dengan cepat. Nanti sekalian ke mansion utama."
"Mansion utama?"
"Heemm... tempat mamy Susi."
###
"V pulanglah, malam ini Suga dan kakak ipar mu kembali ke rumah untuk makan malam."
Pesan text dari mama nya membuat V menghembuskan nafas lelahnya. Ia masih belum bisa melupakan Jeni sepenuhnya. Entah V akan sanggup atau tidak jika melihat Suga dan Jeni bersama nanti. Selama ini, V hanya mencoba menyibukkan diri dan mencari angin setiap ia kepikiran lagi tentang Jeni.
Bahkan Gadis yang mungkin memiliki jiwa sosial sepertinya itu masih belum mampu untuk mengalihkan dunia nya dari Jeni.
###
Malam itu, V bersiap dari rumah yang sekaligus di jadikan tempat tinggal para karyawan nya. Walau masih belum sanggup melupakan perasaannya sepenuhnya, V tetap berniat untuk datang. Setidaknya, dia harus kelihatan baik-baik saja.
V melajukan motor Klasiknya dengan kecepatan sedang, menuju mansion utama mamy Susi.
Sesampainya dia di halaman mansion, bersamaan dengan mobil Suga dan Jeni yang berhenti. Dada V serasa berdenyut kuat saat melihat pasangan itu keluar dari mobil.
Vi menatap wanita yang kini sudah berubah menjadi sangat cantik itu, tengah berciuman dengan kakaknya, Suga.
Hatinya berdenyut kuat. Rasa sakit menghimpit dadanya. Dengan perasaan tak tentu, V memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Sanggupkah aku untuk melanjutkan?"
Bersambung...