
"Sudahlah buk, kalau Lia memang nggak mau bantu. Biar Lisna jual aja mas kawinnya dari mas Aldan." timpal Lisna yang tiba-tiba masuk ke kamar Lia.
"Janganlah, itu kan mas kawin. jangan di jual. Malu sama tetangga nanti." ucap Bu Sumi dengan nada sedikit tinggi. ia berbalik menatap Lia."Lia, masak nggak ada tabungan kamu? Sama saudara itu jangan pelit-pelit."
Lia menghela nafasnya, rasa sesak terus menghimpit dadanya.
"Ini buk, cek sendiri, apa masih ada uang di ATM Lia?" ucap Lia menyerahkan dompetnya pada sang ibu.
"Sudahlah buk, mungkin Lia memang sudah tak punya uang." ucap Yasinta yang berdiri diambang menengahi.
"Terus gimana Lisna, Yas?" Bu Sumi berdiri menatap anak keduanya.
"Ya nanti kita pikirin lah buk, Kasihan Lia mau balik ke kota, ini juga masih pertengahan bulan. Setidaknya dia harus ada uang buat pegangan sampai gajian." terang Yasinta yang lebih bisa sedikit belas kasih pada adiknya itu.
"Tapi utang Lisna gimana?" Bu Sumi terduduk dengan lemas dan wajah memelas.
"Utang mu berapa mbak?" lontar Lia pada kakak tertuanya. Melihat ibunya sampai duduk lemas seperti itu, Lia tak tega juga.
"Nggak banyak kok Lia, cuma 70juta?" lirih Lisna
"Haahh? 70? uang sebanyak itu ke mana saja mbak?"
"Ya buat hajatan ini Lia."
"Mbak, hajatan mbak Lisna nggak di gedung loh, masa sampai segitu?" tanya Lia tak percaya, "Kalau perkiraan Lia ini nggak sampai 50 lah, Bayar rias pengantin, tenda, makan, foto, dangdutan. Mbak juga nggak keluar buat mas Kawin. Gimana bisa abis sebanyak itu? Terus uang 30juta yang kemarin Lia kirim apa habis semua buat lamaran? Nggak ada sisa?"
"Lia! Kok kamu jadi itung-itung gitu sama kakakmu?" Tukas Bu Sumi tidak senang.
"Bukan gitu buk,"
"Terus apa kalau bukan? Kamu nggak percaya sama kami? Kamu pikir ibuk nilep duwit kamu?"
"Lia nggak bilang gitu buk."
"Ibuk udah biayain kamu dari kecil, apa ibuk pernah ngeluh? kamu di mintain tolong sama saudara sendiri saja kok itungan. Kalau kamu nggak mau nolongin kakakmu, Ibuk yang minta."
__ADS_1
"Ada apa ini? Kok rame-rame?" bapak Lia yang mendengar keributan di kamar Lia datang dan berdiri di belakang Yasinta.
"Ini pak! Anakmu, cuma di mintai tolong buat bayar utang nya Lisna aja nggak mau." tukas Bu Sumi dengan nada ketus.
"Bukan nggak mau buk, Lia nggak punya uang." jawab Lia cukup stres dengan perdebatan dan keadaan rumah nya.
"Sudah, sudah, jangan apa-apa di bebankan ke Lia semua. Masalah utang Lisna, kita pikirin bareng-bareng nanti. Lia besok kamu berangkat pagi kan?" bapak Lia mencoba menengahi,
"Iya pak."
"Ya sudah, kamu istirahat, yang lainnya keluar. Kasihan Lia kalau sampai kurang istirahat. Besok dia perjalanan jauh. Biarkan Lia besok kerja dan bisa kirim uang lagi buat kita. Ayo, semua keluar." titah bapak, walau lebih bijak, namun, tetap berujung uang juga.
Akhirnya malam itu, Lia bisa tidur juga, walau tak nyenyak. Setidaknya, bapak sudah membuat Lia bernafas sedikit lebih lega dari semua tuntutan ibunya. Lia harus memaksimalkan istirahat nya malam ini karena esok pagi, Lia harus berangkat ke kota menggunakan travel.
###
Hari ini setelah kepergian Lia ke kampung halaman nya, Vi beberapa kali mengecek hp nya menantikan pesan dari Lia. Menyibukkan diri pada pekerjaan nya cukup membantu V sedikit terlupa akan kekosongan nya.
Beberapa kali melakukan orderan viktif hanya untuk terlihat wajar saat bertemu dengan wanita yang menjadi sahabat Jeni itu. Kini, Vi lebih banyak menganggur. Urusan Resto sudah lebih banyak di handle oleh tangan kanannya, Fajar. Begitu pun dengan Carwash.
Untuk bertanya pada Lia, sepertinya, sedikit akan menimbulkan kecurigaan. Hingga Vi putuskan untuk bertanya saja pada Jeni.
"Kampung halaman Lia?"
Vi mengangguk pelan.
"Kenapa mau tau? kamu mau nyusul?" kekeh Jeni menggoda.
"Enggak, cuma mau tau aja."
"Ya udah tanya aja sama orang nya langsung."
"Orang nya lagi nggak ada."
Jeni menaikkan sebelah alis nya. "Hp kamu rusak?"
__ADS_1
"Enggak." wajah Vi merona."Mau kasih tau nggak sih?"
"Ha-ha-ha, iya deh, iya. jangan ngambek dong... Gantengnya ilang loh.."
###
Setelah mendapatkan informasi tentang kampung halaman Lia. Vi mencoba melakukan survey, mulai dari search via online, lalu ia berencana untuk menyambangi lokasi yang di rasa sesuai.
"Okey, aku cuma punya waktu tiga hari. tiga hari untuk survey, kalau bertemu, kita jodoh, aku akan menyatakan perasaanku padamu." Gumam Vi optimis.
saat Jeni memberinya alamat rumah Lia, Vi menolak, ia hanya ingin tau nama kota di mana Lia berasal. Karena tujuan awal membuka cabang di sana, jika bertemu orangnya, itu adalah bonus.
Vi melakukan perjalanan dari kota ke kampung halaman Lia dengan Mengendari mobil SUV bersama Fajar dan seorang karyawannya di resto.
Perjalanan hanya makan waktu 7 jam tiga puluh menit. Dan mereka menginap di sebuah hotel. Dua malam Vi dan rombongan sudah berada di kampung halaman Lia, sudah berputar-putar survey juga. Sudah mendapatkan loaksi yang strategis pula, namun, misi sampingan Vi belum tercapai.
Vi sangat berharap bisa bertemu dengan Lia.
"Apa kami memang tidak berjodoh?" gumam Vi. Ia lalu tersenyum dan menggeleng, "Apaan sih aku ini? ha-ha-ha, walau tidak bertemu, tetap tidak merubah apapun."
Malam terakhir di kota kelahiran Lia, Vi dan rombongannya berjalan-jalan untuk menikmati malam mereka di kampung Lia.
"Di sini sebenarnya tidak terlalu ramai, tapi jadi jalur lintas provinsi. Cukup bagus jika bikin semacam rest area gitu." ucap Fajar saat dalam perjalanan untuk membeli oleh-oleh. "Kalau carwash rasanya kurang cocok."
"Atau coba aja di dekat alun-alun, di sana kan pusat kota nya pasti ramai." usul Riski karyawan resto yang juga ikut serta.
"Kita pake yang kemarin aja. Di sana cukup strategis."
Mobil Vi berhenti tepat di sebuah pusat oleh-oleh. Begitu turun dari mobil dan memasuki toko sambil masih memperbincangkan masalah lokasi resto dan lain sebagainya. Vi mendengar suara yang tidak asing baginya.
Tubuhnya tiba-tiba kaku. Vi menoleh ke arah suara. Sosok wanita di antara kumpulan wanita lainnya. Wanita yang tiba-tiba membuat jantung Vi berdetak tak karuan. Kaki Vi melangkah mendekat mencari sosok yang suara tadi sempat dia dengar. Namun, gadis itu tak terlihat di dalam toko.
"Mungkinkah, dia sudah keluar? Ataukah aku hanya berhalusinasi?" gumam Vi melangkah keluar toko.
"Bos! mau ke mana?"
__ADS_1
bersambung...